Pewarnaan Pada Bakteri : Mikrobiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kehidupan makhluk kecil yang hanya kelihatan dengan mikroskop. Makhluk kecil tersebut adalah mikroorganisme, protista, mikrobia. Mikrobiologi mencakup pengetahuan tentang virus (virologi), pengetahuan tentang bakteri (bakteriologi), pengetahuan tentang hewan bersel satu (protozoologi), pengetahuan tentang jamur (mikologi), terutama yang meliputi jamur-jamur rendah seperti Phycomycetes, dan juga Ascomycetes, serta Deuteromycetes. Mikroorganisme memegang peranan penting dalam menganalisa sistem enzim dan dalam menganalisa komposisi suatu bahan makanan. Bakteri dapat diperoleh dari mana saja.

pewarnaan pada bakteri

Tujuan dari praktikum Mikrobiologi Umum adalah untuk mengetahui cara sterilisasi alat-alat dan bahan-bahan, mengetahui cara pembuatan medium dengan komposisi yang sesuai, mengetahui cara pewarnaan pada mikrobia serta bentuk dan struktur mikroba yang terdapat dalam sampel. Manfaat praktikum Mikrobiologi Umum ini adalah agar dapat mengetahui pertumbuhan dan perkembangan mikroba dalam makanan dimana mikroba mempunyai banyak hubungan dan peranan yang sangat penting dalam kehidupan makhluk hidup.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sterilisasi
Sterilisasi adalah perlakuan yang membebaskan benda yang teliti dari semua organisme hidup. Hal ini dapat dicapai dengan memberi bahan mematikan secara fisis atau kimiawi, atau dengan penyaringan untuk larutan khusus (Fardiaz, 1989). Menurut Arthur,et al (1962) sterilisasi yang umum dilakukan antara lain sterilisasi kering, sterilisasi basah, penyaringan, sterilisasi kimia dan sterilisasi dengan radiasi. Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan api atau oven (sterilisator udara panas) (Arthur, et al. 1962). Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan menggunakan air, yang dimanfaatkan adalah uap airnya dalam proses sterilisasi. Sterilisasi basah dilakukan dengan menggunakan autoclave atau sterilisator uap (Arthur,et al .1962).

Pada prinsipnya sterilisasi menggunakan autoklaf adalah dengan memanfaatkan tekanan tinggi uap air jenuh. Tekanan yang digunakan sebesar 1 atm pada suhu 121 Co selama 15-20 menit (Arthur, et al. 1962). Menurut Volk dan Wheeler (1993) autoklaf biasanya digunakan untuk mensterilkan medium baik yang berasal dari agar, kaldu, maupun dari air susu.

Supaya agar biakan murni dapat dibuat, sebelum diinokulasikan medium disterilkan terlebih dahulu, yaitu kita harus yakin bahwa tidak ada organisme hidup berada dalam medium jika diinokulasi (Volk dan Wheeler, 1993). Setiap mikroorganisme mempunyai kerentanan berbeda terhadap bahan-bahan yang digunakan untuk mematikannya tergantung dari kadar air, pH lingkungan, umur sel atau spora dan lainnya (Pelczar, 1988). Menurut Natalie (1983) cara mensterilkan medium adalah menggunakan autoklafe, yaitu alat yang menyerupai tangki minyak dimana didalamnya terdapat air untuk diuapkan. Medium tersebut dimasukkan dalam autoklaf selama 15-20 menit.

2.1.1. Sterilisasi kering

Pemanasan kering kurang efisien dan membutuhkan suhu yang lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi. Hal ini disebabkan karena tanpa kelembaban maka tidak ada panas laten (Hadioetomo, 1985). Pemanasan kering dapat menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi komponen-komponen di dalam sel (Fardiaz, 1992). Keuntungan dari pemanasan kering adalah tidak adanya uap air yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan, selain itu peralatan yang digunakan untuk sterilisasi uap kering lebih murah dibandingkan uap basah (Lay dan Hastowo, 1992). Pemanasan kering sering dilakukan dalam sterilisasi alat-alat gelas di laboratorium, dimana menggunakan oven dengan suhu 160-1800C selama 1,5-2 jam dengan sistem udara statis (Fardiaz, 1992).

2.1.2. Sterilisasi basah

Pemanasan basah adalah sterilisasi panas yang digunakan bersama-sama dengan uap air. Pemanasan basah biasanya dilakukan didalam autoklaf atau aterilisator uap yang mudah diangkat dengan menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 1210C selama 15 menit (Hadioetomo, 1985). Cara pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme terutama karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk enzim-enzim didalam sel (Fardiaz, 1992)

2.2. Medium Acidified Potato Dextrose Agar (APDA)

Medium merupakan suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme. Medium agar merupakan salah satu tehnik yang sangat baik untuk memisahkan mikroba sehingga dapat diketahui masing-masing (Fardiaz, 1989). Menurut Pelczar (1988) dasar makanan yang paling baik bagi pemeliharaan dan pembiakan bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa makanan atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia.

Supaya mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam, maka medium harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh mikroorganisme, mempunyai tekanan osmose, tegangan muka dan pH yang sesuai, mengandung zat-zat penghambat dan yang paling penting adalah medium harus steril (Fardiaz, 1989). PDA adalah medium yang sering digunakan dalam penanaman mikroba. Komposisi dari PDA itu sendiri adalah fitrat kentang sebesar 1000 ml, 20 gr dextrose, 20 gr agar, dan ber pH 6,8-7,2. Langkah pembuatan medium PDA adalah pertama siapkan kentang 250 gr kentang dikupas, dicuci, dipotong dadu dengan ukuran 1×1×1 cm, kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi 500 ml akuades. Setelah kentang lunak (tetapi tidak hancur), saring air rebusan dengan kain kasa bersih.

Ekstrak kentang ini selanjutnya dimasukkan ke dalam gelas piala lain, tambahkan 20 gr dekstrosa, 20 gr agar. Aduk hingga homogen dan mendidih. Masukkan medium PDA kedalam labu Erlenmeyer, lalu sterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada tekanan 121o C selama 15 menit. Medium PDA yang telah steril dituangkan ke dalam cawan petri ( yang tentunya telah disterilkan sebelumnya) secukupnya. Pada dasarnya PDA dan APDA adalah sama tetapi yang membedakan adalah dengan adanya penambahan laritan asam tartarat 10%, kemudian di simpan pada inkubatur selama 15 menit, dan bersuhu 121o C bertekanan 2 atm. Setelah steril maka APDA dimasukkan ke dalm inkubator kembali dengan suhu 50oC, setelah suhu mencapai 50oC, maka ditambahkan asam tartarat secara asptis. Dan setelah jadi maka medium tersebut dinamakan APDA.

2.3. Morfologi Jamur
Jamur adalah mikroorganisme kecil, eukariota, biasanya membenang, dan berspora, tidak mempunyai klorofil tapi memiliki dinding sel yang berisi khitin, selulosa, atau keduanya. Tubuh jamur disebut miselium, dan tiap-tiap cabang atau filamen dari miselium disebut hifa. Pertumbuhan miselium terjadi di ujung hifa (Cappucino dan Natalie, 1983). Jamur secara khas berkembang sebagai pertumbuhan bercabang, seperti rambut, dan sebagian besar membentuk spora seksual dan aseksual (Fardiaz, 1989).

2.4. Morfologi bakteri
Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, unisellular dan tidak mengandung struktur yang terbatasi membran di dalam sitoplasma. Sel-sel individu bakteri dapat berbentuk seperti elips, bola, batang atau spiral. Bakteri yang khas seperti coccus atau spiral berdiameter sekitar 0,5-1,0 μm dan panjangnya 1,5-2,5 μm. Reproduksi terutama dengan pembelahan biner sederhana yaitu suatu proses aseksual. Beberapa bakteri dapat tumbuh pada suhu 00 C, ada yang tumbuh dengan baik pada sumber air panas yang suhunya 900 C atau lebih sehingga dapat disebut kondisi ekstrim. Bakteri menimbulkan berbagai perubahan kimiawi pada substansi yang ditumbuhinya dan mampu menghancurkan banyak zat. Beberapa macam menimbulkan penyakit pada binatang, tumbuhan dan protista lainnya. Organisme ini sangat luas penyebarannya dalam dan pada permukaan bumi di atmosfer dan lingkungan kita sehari-hari (Pelczar, 1986).

Umumnya ukuran tubuh bakteri sangat kecil dan baru dapat dilihat jelas dengan menggunakan mikroskop perbesaran 1000x atau lebih. Satuan ukuran bakteri adalah mikrometer atau μm. Lebar tubuh 1-2 μm, panjang 2-5 μm. Bakteri coccus ada yang berdiameter 0,5 μm atau sampai 2,5 μm. Sedang bakteri berbentuk basil ada yang lebarnya 0,2-2,0. Oleh karena itu, pengukuran besar kecilnya bakteri perlu didasarkan pada standar yang sama. Pada umumnya bakteri yang berumur 2 hingga 6 jam lebih besar daripada bakteri yang umurnya lebih dari 24 jam. Bakteri dapat dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu bacillus bakteri berbentuk batang silindris. Coccus bakteri yang berbentuk bulat seperti bola-bola kecil, ada yang bergerombol membentuk koloni, dan spirillum bakteri yang berbentuk bengkok seperti spiral ( Waluyo, 2007 ).

2.4.1. Escherichia coli
Escherichia colli adalah suatu bakteri gram negatif berbentuk batang, bersifat anaerobic fakultatif, dan mempunyai flagella periritrikat. Escherichia colli dibedakan atas sifat serologinya berdasarkan antigen O (somatik), K (kapsul), dan H (flagella) (Fardiaz,1989). Bentuk batang pendek dan habitat utamanya adalah usus manusia dan hewan. Escherichia coli dipakai sebagai organisme indikator karena Escherichia coli terdapat dalam jumlah yang banyak menunjukkan bahwa pangan atau air telah mengalami pencemaran (Gaman dan Sherrington, 1992).

2.4.2. Staphylococcus sp
Bentuk coccus berukuran besar, terdapat pada rongga hidung manusia maupun pada beberapa jenis hewan tertentu dan juga pada kulit. Juga merupakan penyebab yang umum pada keracunan pangan (Gaman dan Sherrington, 1992). Staphylococcus adalah sel yang berbentuk bola dengan diameter 1 mikrometer yang tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur. Kokus tunggal, berpasangan tetrad dan berbentuk rantai juga tampak dalam biakan cair. Staphylococcus bersifat nonmotil dan tidak membentuk spora. Dibawah pengaruh obat seperti penisilin, Staphylococcus mengalami lisis. Ia tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi dibawah suasana aerobik atau mikroaerofilik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur 37 0C namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada temperatur kamar. Koloni pada media padat berbentuk bulat, lembut dan mengkilat (Brooks et al., 2001).

2.4.3. Streptococus Lactis
Bakteri penghasil asam susu banyak terdapat dari famili Lactobacteriaceae, terutama Streptococus lactis. Bakteri ini banyak terdapat dalam susu dengan jumlah besar. Spesies ini berkembang cepat sekali, sedang ia mudah menguraikan laktosa, hanya pada temperatur 37o sampai 50oC aktivitasnya begitu besar (Dwidjoseputro, 1978).

2.5 Metode Hitungan Cawan
2.5.1 Pengenceran


Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Pengenceran ini kemudian diambil sekitar 1 ml untuk diencerkan kembali. Pengenceran kedua diambil 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika pengenceran yang ketiga diambil 0,1 ml untuk sisebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan akan didapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, atau hanya memperoleh suatu koloni saja. Jika belum yakin dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel (Dwidjoseputro, 1989).

2.5.2 Metode Tuang
Metode penuangan dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel ini kemudian disebarkan di dalam suatu medium dari kaldu atau gelatin encer. Setelah mengental, maka akan nampak koloni-koloni yang dianggap murni. Metode ini ditemukan Robert Koch. Disamping itu ada seorang lagi yang berjasa yaitu Petri, yang menemukan cawan petri dibantu dengan Hasse yang menemukan agar-agar untuk menggatikan gelatin. Agar lebih baik dari pada gelatin karena agar tidak lekas mencair dan memiliki titik cair 95oC (Dwidjoseputro, 1989).

2.6. Pewarnaan Gram
Pewarnaan pada mikrobia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pewarnaan sederhana yang menggunakan larutan tunggal methylen blue 0.1 % dan metode pewarnaan gram dengan 4 tahapan pewarnaan yang terdiri atas pemberian larutan gram A yaitu kristal violet sebagai pewarnaan dasar, larutan gram B yaitu iodium sebagai cat penguat, larutan gram C yaitu ethyl alcohol 95 % sebagai peluntur cat dan larutan gram D safranin yang memberikan warna merah pada cat yang luntur (Cappucino dan Natalie, 1983).

Pewarnaan sederhana mudah dan cepat, sehingga pewarnaan ini sering digunakan untuk melihat bentuk, ukuran, dan penataan mikroorganisme. Pada bakteri dikenal berbagai bentuk, yaitu kokus, batang dan spiral. Dengan pewarnaan sederhana dapat juga terlihat penataan bakteri. Pada kokus dapat terlihat penataan seperti rantai (stereptococcus), buah anggur (stapylococcus), pasangan (diplococcus), bentuk kubus yang terdiri dari 4 atau 8 kokus (sarcinae). Zat warna yang digunakan antara lain larutan biru metilen, larutan karbol fuksin basa (Roger at al., 1982). Menurut Volk dan Wheeler (1993) zat warna yang digunakan dalam pewarnaan sederhana adalah : lembayung gentian, lembayung safranin, biru metilen, fuksin basa, aniline basa.

Pewarnaan gram merupakan pewarnaan diferensial yang berguna dan digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Pewarnaan ini merupakan tahap penting dalam pencirian dan identifikasi bakteri. Pewarnaan gram memilahkan bakteri menjadi kelompok gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif berwarna ungu yang disebabkan kompleks zat warna kristal violet iodium tetap dipertahankan meskipun diberi larutan pemucat, sedangkan bakteri gram negative berwarna merah muda, karena kompleks tersebut larut sewaktu pemberian larutan pemucat dan kemudian mengambil zat warna kedua yang berwarna merah (Lay dan Hastowo, 1994).

Pewarnaan gram memberikan hasil yang baik, bila digunakan biakan segar yang berumur 24-48 jam. Bila dikembangbiakan tua, terdapat kemungkinan penyimpangan hasil pewarnaan gram. Pada biakan tua, banyak sel mengalami kerusakan pada dinding selnya. Kerusakan pada dinding sel ini menyebabkan zat warna dapat keluar sewaktu dicuci dengan larutan pemucat. Ini berarti bahwa bakteri gram positif dengan dinding yang rusak tidak lagi dapat mempertahankan komplek warna kristal violet iodium sehingga terlihat sebagai bakteri gram negative (Lay dan Hastowo, 1994).

Menyiapkan bakteri agar dapat diwarnai, sedikit biakan disebarkan dalam setetes air pada gelas preparat, Inilah yang dinamakan olesan. Olesan ini dikeringkan pada suhu kamar dan bakteri dapat dilekatkan erat (difiksasi) dengan jalan melewatkan gelas preparat (olesan di permukaan atas) dua atau tiga kali dengan cepat pada nyala api pembakar bunsen (Volk dan Wheeler, 1993). Zat pewarna adalah garam yang tediri atas ion positif dan negatife, salah satu diantaranya berwarna. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwanai daripada dalam keadaan hidup, yang dimaksud dengan bakteri terwarnai adalah organisme yang telah diwarnai dengan zat pewarna kimia agar mudah dilihat dan dipelajari, Pada umumnya, olesan bakteri terwarnai mengungkapkan ukuran, bentuk, susunan dan adanya struktur internal seperti spora dan butira (Lay dan Hastowo, 1994).

BAB III
METODOLOGI

Praktikum Mikrobiologi Umum dilaksanakan pada hari Jumat, 15 Mei 2009 pukul 10.00-14.00 WIB dan hari Minggu, 17 Mei 2009 pukul 08.00 – 12.00 di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

3.1. Materi
Sterilisasi menggunakan alat –alat seperti oven, cawan petri, pipet hisap, erlenmeyer, kertas pembungkus, kapas dan aluminium foil. Untuk sterilisasi basah alat-alat yang digunakan adalah autoklaf, erlenmeyer, inkubator dan tabung reaksi.

Pada pembuatan medium alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan, waterbath, bekerglass, gelas ukur, pisau, kain saring. Bahan yang digunakan adalah kentang, dextrose, agar dan aquades.

Dalam pewarnaan bakteri alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah api bunsen, jarum inokulasi, kaca objek, kertas hisap, nampan dan mikroskop. Bahan yang digunakan adalah methylen blue, aquades, gram A, gram B, gram C dan gram D.

3.2. Metode
3.2.1. Sterilisasi

Metode yang digunakan dalam sterilisasi adalah sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasai kering digunakan untuk mensterilisasikan alat yang akan digunakan dalam praktikum seperti pipet ukur dan cawing petri. Dan sterilisasi basah digunakan untuk mensterilisasikan medium yang dipakai.

Pada penyeterilisasi kering, Pertama menyiapkan cawan petri, kemudian membersihkan cawan petri dengan alkohol dan membungkus cawan petri dengan kertas pembungkus. Memasukkan cawan petri ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 1700 C. Setelah selesai cawan petri dikeluarkan dari oven dan menunggu hingga dingin sebelum menggunakan.

Sedangkan sterilisasi basah, Pertama memasukkan medium yang akan disterilkan ke dalam erlenmeyer atau tabung reaksi, kemudian menutup rapat dengan menggunakan kapas. Memasukkan erlenmeyer tersebut ke dalam autoklafe, kemudian menutup autoklafe dengan rapat. Menyalakan autoklafe dan menunggu hingga manometer serta termometer menunjukkan suhu 1210 C dan 2 atm selama 15 menit. Membuka katup pengaman setelah selesai dan biarkan hingga autoklafe tidak lagi bertekanan dan mengeluarkan mediumnya.

3.2.2. Medium Acidified Potato Dextrose Agar (APDA)

Kentang dikupas dan dicuci bersih, kemudian dipotong kecil-kecil. Timbang kentang sebanyak 250 gr, kemudian masukkan ke dalam waterglass. Tambahkan 500 ml aquades. Tutup dengan alumunium foil serapat mungkin, kemudian masukkan ke dalam waterbath hingga mendidih selama 30 menit. Setelah dingin, ambil filtratnya sebanyak 150 ml. Tambahkan filtrat dengan 3 gr dextrose dan 3 gram agar. Untuk membuat medium APDA, terlebih dahulu siapkan larutan asam tartarat 10%. Kemudian sterilkan medium PDA dan larutan asam tartarat 10 % dalam autoclave pada suhu 121 °C, 2 atm selama 15 menit. Setelah steril masukkan medium PDA dan larutan asam tartarat 10 % ke dalam incubator dengan suhu 50 °C. setelah keduanya mencapai suhu 50 °C tambahkan larutan asam tartarat 10 % ke dalam medium PDA secara aseptis.

3.2.3. Metode Hitung Cawan
Siapkan dan beri label larutan pengencer dn cawan Petri steril sesuai dengan pegenceran dan pemupukan yang ditetepkan. Lakukan pengenceran sampai tingkat pengenceran yang ditentukan (bahan yang busuk lakukan sampai tingkat pengenceran 10-9). Lakukan pencawanan pada tingkat pengenceran yang terakhir. Dengan jumlah pengencera yang sesuai dengan yang ditetapkan.

3.2.3.1. Pengenceran
Larutan pengencer dapat menggunakan tabung reaksi dalam jumlah 9 ml, untuk membuat pengenceran 1:10 (1 ml atau 1 gr sample di dalam 9 ml), di dalam botol pengenceran dalam jumlah 90 ml untik membuat pengenceran 1:10 (10 ml atau 10 gr sample di dalam 90 ml), atau dalam jumlah 99 ml untuk membuat pengenceran 1:100 (1 ml atau 1 gr sample di dalam 99 ml) pada sample yang kurang seragam dan membutuhkan besar larutan pengencer dapat ditempatkan dalm Erlenmeyer dalam jumlah 225 ml atau 450 ml untuk membuat pengenceran 1:10 (25 gr sample di dalam 225 ml atau 50 gr di dalm 450 ml). Sterilisasi larutan pengenceran dilakukan seperti pada medium.

3.2.3.2. Metode Tuang
Tuangkan kurang lebih 10 ml medium agar kedalam cawan Petri dan goyangkan membentuk angka delapan supaya sample merata. Setelah medium membeku, inkubasika dengan posisi terbalik pada suhu ruang selama 24-48 jam. Hitunglah jumlah koloni yang tumbuh pada cawn, dan laporka jumlah koloni per ml menurut standar yang ditetapkan.

3.2.3.3. Cara menghitung koloni
Perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara decimal. Contoh, misalnya penetapan jumlah koloni pada susu. Pengenceran awal 1:10 (=10-1) dibuat dengan cara mengencerka 1 ml susu ke dalam 9 ml larutan pengencer dengan pengenceran yang lebih tinggi misalnya sampai 10-5 dan 10-6 tergantung pada mutu susunya. Semakin tinggi pengenceran yang harus dilakuakan. Setelah diinkubasikan misalnya diperoleh 62 koloni, pada cawan Petri yang mengandung pengenceran 10-4, maka jumlah kloni dapat dihitung sebagai bertikut (1 ml larutan pengenceran dianggap memiliki berat 1 gr):

Faktor Pengencer = Pengenceran Awal x Pengenceran Selanjutnya x Σ yang ditumbuhi
= x X X x 0,1
= 10-4
Koloni per ml = Jumlah koloni x 1/Faktor Pengenceran
= 62 x -4
= 62 x 104
= 6,2 x 105

3.2.4. Pewarnaan Gram
Memberi 1-2 tetes air pada kaca objek. Kemudian ambil sejumlah kecil mikroba dengan menggunakan ujung loop, menebarkannya pada kaca objek. Menetesi objek dengan larutan gram A (Violet Kristal) selama 1 menit lalu membilas dengan aquadest. Tetesi kaca objek dengan larutan gram B (Lugol) selama 2 menit lalu membilas dengan aquadest. Lalu, Meneteskan kaca objek dengan larutan gram C (Alkohol) dan bilas dengan aquadest lalu menetesi objek dengan larutan gram D (Safranin) selama 30 detik. Kemudian buang sisa zat warna pada kaca objek dan membilasnya dengan aquadest. Bersihakan sisa aquadest dengan kertas hisap, setelah kering menetesi objek dengan minyak, kemudian mengamati dengan bantuan mikroskop.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Medium

4.1.1. Acidified Potato Dextrose Agar (APDA)

Medium PDA yang telah dibuat kembali disterilisasi basah dengan autoklaf untuk membuat medium APDA. Medium biakan yang telah disiapkan harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Medium PDA akan menjadi medium APDA jika ditambahkan larutan asam tartarat 10% dan dihomogenisasi. Medium PDA dan larutan asam tartarat 10% disterilisasi dengan autoklaf secara terpisah. Hal ini bertujuan untuk menghindari tumbuhnya mikroba pencemar yang dapat menyebabkan kekeruhan medium. Mikroba pencemar dapat menyebabkan kesalahan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi di dalam medium karena tidak diketahui penyebabnya adalah mikroba yang ditumbuhkan atau mikroba pencemar.

Medium APDA memiliki pH berkisar antara 3,5-4,0 sehingga bersifat asam. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckle (1985) bahwa penurunan pH disebabkan oleh penambahan larutan asam tartarat 10%. Pembuatan medium APDA dalam percobaan ini menggunakan 150 ml PDA dan 1,5 ml larutan asam tartarat 10%. Kandungan larutan asam tartarat 10% dalam PDA adalah sebesar 1%. Hal itu sesuai denagn pendapat Fardiaz (1989), yaitu setiap 1000 ml PDA membutuhkan 10 ml larutan asam tartarat 10% sehingga kadar larutan asam tartarat 10% pada medium PDA adalah 1%.

4.2. Penanaman Cawan Tuang
Tabel 1. Hasil Percobaan Metode Hitungan Cawan
Sampel Pengenceran SPC
10-2 10-3 10-4 10-5 10-6
Padat TBUD TBUD 35 3,5 x 105
Cair TBUD TBUD 75 66 49 2,5×10-7

Sumber : Data Primer Praktikum Mikrobiologi Umum, 2009
Perhitungan SPC:
a. Untuk Sampel Cair
Faktor pengenceran = 10-1 x 10-6 x 1 = 10-7
SPC = 1,5 x 10-5 + 4,9 x 10-7 = 2,5×10-7
2
Untuk sampel padat
faktor pengenceran = 10-1 x 100-3 x 1 = 10-4
SPC = 35 = 35 x 104 = 3,5×105
10-4
Hasil praktikum menunjukkan bahwa jumlah koloni yang tumbuh pada medium APDA semakin sedikit pada pengenceran yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi sampel yang semakin berkurang. Sampel cair menunjukkan 3 pengenceran yang memenuhi ketentuan jumlah koloni 30-300, yaitu 75 koloni pada pengenceran 10-4 , 66 koloni pada pengenceran 10-5 , dan 49 koloni pada pengenceran 10-6 . Maka SPC didapat dari jumlah tersebut yang dikalikan dengan faktor pengenceran. Sampel padat menunjukkan ada satu tingkat pengenceran yang dapat dihitung, yaitu tingkat pengenceran 10-4 yang berjumlah 35. SPC dihitung dari tingkat pengenceran yang bisa dihitung, yaitu 3,5 x 105. Hal ini sesuai dengan pendapat Fardiaz (1989) yang menyatakan bahwa koloni yang dihitung harus memenuhi ketentuan jumlah 30-300.

4.3. Pewarnaan Gram
Berdasarkan praktikum pewarnaan gram didapatkan hasil sebagai berikut:
4.3.1. Escherichia Coli

Ilustrasi 1. Pewarnaan Gram E. coli

Pewarnaan gram pada Escherichia Coli didapatkan warna merah, berbentuk batang dan berkoloni. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadioetomo (1989), yang menyatakan bahwa bakteri Escherichia Coli memiliki bentuk batang, dan berwarna merah. Bakteri ini termasuk bakteri gram negatif, dan berwarna merah karena bakteri ini mempunyai peptidoglikan tipis pada dinding selnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Lay (1994), yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan stuktur dinding sel pada bakteri gram positif dan bakteri gram negatif, bakteri gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan tipis sehingga tidak dapat mengikat cat warna utama dengan kuat.

4.3.2. Streptococcus

Ilustrasi 3. Pewarnaan Gram Streptococcus
Pewarnaan gram pada Streptococcus sp tampak warna dasar ungu dengan bentuk coccus atau bulat dan susunannya berkoloni. Hal ini sesuai dengan pendapat Pelczar dan Chan (1986) yang menyatakan bahwa sel Streptococcus sp berbentuk seperti rantai dengan ukuran 0,3 – 2,2 μm x 1,27 – 7,0 μm, bakteri ini termasuk bakteri yang mempunyai gram positif. Hal ini sesuai dengan pendapat Lay (1994) yang menyatakan bahwa warna ungu disebabkan karena kompleks zat warna kristal violet tetap dipertahankan meskipun diberi larutan peluntur.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum Mikrobiologi Umum dapat disimpulkan bahwa mikrobia dapat dikembangbiakkan pada medium biakan cawan petri dengan bentuk tegak maupun miring pada tabung reaksi. Mikrobia dapat dilihat dengan menggunakan metode pewarnaan gram. Pada pewarnaan gram dapat membedakan bakteri yang bersifat bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Dari praktikum Mikrobiologi Umum didapatkan hasil pada pewarnaan sederhana bakteri E. Coli dengan bentuk merata dan berwarna ungu muda, sedangkan pada pewarnaan gram didapatkan bakteri S. Tipy dengan bentuk memanjang dan berwarna merah muda. Pada metode pewarnaan gram kita dapat mengetahui bakteri mana yang tergolong bakteri gram positif atau negatif, sedangkan pada metode pewarnaan sederhana, tidak dapat digunakan untuk mengetahui tergolong bakteri apa, bakteri yang kita amati tersebut. Metode pewarnaan gram terbukti sebagai metode pewarnaan yang lebih signifikan dalam mengidentifikasi bakteri.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. ALELOPATI
  2. Pengertian Lipid
  3. Makalah Pertumbuhan Dan Perkembangan
  4. Laporan Variasi Individu
  5. Pengertian Parafin
  6. Jurnal Pengetahuan Dan Persepsi Siswa Tentang Orang Utan (Pongo pygmaeus L)
  7. Pengertian Fungsi Protein
  8. Anatomi Sistem Kardiovaskuler Dan Cara Kerja Jantung
  9. Contoh Makalah Asam Lemak | Makalah Tentang Lemak
  10. Menentukan Lokus Tumbuh Pada Tumbuhan