Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Motivasi Dan Prestasi Siswa : Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara karena maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kaulitas pendidikan bangsa itu sendiri. Kompleksnya masalah kehidupan yang terjadi pun menuntut lahirnya sumber daya manusia yang handal dan mampu berkompetensi. Disinilah salah satu peran pendidikan dimana pendidikan dpat dipandang sebagai sebuah wadah kegiatan yang mamapu mencetak sumber daya manusia yang bermutu tinggi.

Pendidikan bukanlah suatu hal yang statis atau tetap, melainkan suatu hal yang dinamis sehingga menuntut adanya suatu perubahan atau perbaikancara terus menerus. Perubahan dapat dilakukan dalam hal merode mengajar, buku-buku, alat-alat, laboratorium, maupun materi-materi pelajaran salah satu contoh dalam bidang materi pelajaran yakni matematika.

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah waktu pembelajran matematika sekolah yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah waktu pembelajaran untuk mata pelajaran yang lain. Pembelajaran

Dalam pembelajaran matematika siswa dituntut agar dapat memecahkan permasalahan matematika yang diberikan dalam berbagai topik bahasan dan kemampuan pemecahan masalah matematika ini menjadi kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh setiap siswa. Dalam proses pemecahan masalah matematika ini, siswa harus dapat menghubungkan keterkaitan antara berbagai hal yang ada disekitarnya atau dengan kata lain siswa harus memiliki kemampuan koneksi matematika.

Dalam kenyataannya, selalu ada hambatan dalam pembelajaran matematika itu sendiri, salah satunya adalah kurangnya ketertarikan siswa dalam mempelajari matematika. Banyak siswa yang mengalami kesulitan bila menghadapai soal-soal matematika yang mengakibatkan prestasi belajar siswa dalam matematika sangat rendah(Harianto,2009).

Data terbaru, dari PISA (Programme for International Student Assessment) 2009 yang menilai hasil prestasi siswa mencakup kemampuan kognitif (knowlaedge) dan juga keahlian siswa, salah satunya di bidang matematika, Indonesia berada di peringkat ke-61, peringkat 10 besar terbawah dsari 65 negara peserta PISA(Elianur, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan bila menghadapi soal-soal matematika.

Kesulitan siswa dalam menghadapi soal-soal matematika ini berhubungan erat dengan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika. Seperti yang disampaikan Anwar (2011) dalam artikelnya bahwa pusat dari pembelajaran matematika adalah pemecahan masalah atau mengutamakan proses daripada produk atau hasil akhir.

Perkembangan dunia pendidikan saat ini tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia pendidikan dituntut agar selalu bergerak seiring perkembangan teknologi global. Pendidikan merupakan modal pokok dalam membangun generasi muda yang siap dalam menghadapi dunia kerja. Tuntutan dunia kerja di masa sekarang ini semakin sulit, karena dunia kerja mensyaratkan calon tenaga kerja yang memiliki keunggulan kompetensi di bidangnya masing-masing.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti termotivasi untuk mengadakan penelitian yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN METODE PROBLEM SOVING DENGAN MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI SISWA SMA KELAS XII IPS DALAM MATA PELAJARAN PROGRAM LINIER”

B.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XII IPS Mata Pelajaran PROGRAM LINIER ?

2. Bagaimana Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS Mata Pelajaran PROGRAM LINIER ?

B.3 Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah dengan memilih pokok bahasan peluang. Objek penelitian yang dipilih adalah anak-anak kelas XII IPS SMA Negeri 8 Kota Jambi.

B.4 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XII IPS Mata Pelajaran PROGRAM LINIER.

2. Mengetahui Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPS Mata Pelajaran PROGRAM LINIER.

B.5 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi guru untuk menambah kajian pengalaman dalam kegiatan belajar mengajar sehingga akan mengubah sikap mengajar pada kegiatan belajar mengajar berikutnya menggunakan media-media yang sekiranya membuat anak itu termorivasi dan semangat dalam belajar.

2. Bagi siswa bisa mempermudah dalam menerima materi dan mengerjakan soal-soal yang berkaitan pemecahan masalah matematika.

3. Bagi dunia pendidikan memberikan motivasi kepada instansi terkait (Depdikbud) untuk selalu memantau pelaksanaan pendidikan dan penyesuaian model pembelajaran kepada siswa.

A. KAJIAN PUSTAKA

C.1 Definisi Problem Solving

Metode pemecahan masalah ialah suatu cara yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam hal ini berupa soal cerita matematika. Adapun metode problem solving yang dimaksud adalah mengacu pada metode problem solving yang dikembangkan oleh Polya (1975), yaitu memahami masalah, merencakan penyelesaian, melakukan penyelesaian sesuai dengan rencana yang telah dibuat, dan memeriksa kembali proses dan hasil yang diperolehnya.

Beberapa pandangan tentang pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika telah dikemukakan oleh para ahli. Misalnya menurut pendapat Sudirman N, dalam bukunya Ilmu Pendidikan (1992:146) Mengemukakan bahwa: Metode Pemecahan masalah adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan masalah atau jawabannya oleh siswa. Permasalahan itu dapat diajukan atau diberikan guru kepada siswa, dari siswa bersama guru, atau dari siswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya sebagai kegiatan-kegiatan pembelajaran siswa.

Selanjutnya Hudoyo dan Sutawidjaya (1996/1997;189) menyatakan pemecahan masalah dapat diartikan sebagai pengguanaan matematika baik untuk matematika itu sendiri maupun aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu pengetahuan yang lain secara kratif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum diketahui penyelesaiannya ataupun maslah-masalah yang belum kita kenal.

Metode pemecahan masalah sering dinamakan juga dengan problem solving method, reflective thinking method, atau scientific method. Istilah lain yang pada hakikatnya sama, tetapi telah dikembagkan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda, disebut dengan nama-nama metode proyek (metode pengajaran unit), metode diskusi dengan berbagai jenis diskusinya metode penemuan (metode inquiry discovery) dengan berbagai jenisnya, serta metode eksperimen. Semua metode tersebut bertitik tolak dari suatu masalah. Dengan demikian, akan banyak persamaan semua metode tersebut.

C.2 Pemecahan Masalah Matematika

Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari masalah. Untuk itu, harus mengetahui cara atau stategi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Begitupun dalam pembelajaran matematika, ada masalah dan cara penyelesaianny. Dalam hal ini masalah yang dimaksud adalah soal-soal yang harus dipecahkan atau diselesaikan oleh siswa yaitu berupa soal tidak rutin bagi siswa, sehingga memerlukan keterampilan dalam menyelesaikan maslalah tersebut dengan kemampuan pemecahan masalah. Sebelum memahami lebih jauh tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam matematika, perlu diketahui apa yang dimaksud denga masalah dalam matematika(Rosi Aprilianti, 2011).

Polya dalam Pengertian dan Hakekat Pemecahan Masalah (Ahmad Firdaus : 2009 ) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Sementara Sujono (Ahmad Firdaus : 2009 ) melukiskan masalah matematika sebagai tantangan bila pemecahannya memerlukan kreativitas, pengertian dan pemikiran yang asli atau imajinasi.

Gagné, dkk (Ahmad Firdaus : 2009 ) berpendapat bahwa dalam menyelesaikan pemecahan masalah diperlukan aturan kompleks atau aturan tingkat tinggi dan aturan tingkat tinggi dapat dicapai setelah menguasai aturan dan konsep terdefinisi. Demikian pula aturan dan konsep terdefinisi dapat dikuasai jika ditunjang oleh pemahaman konsep konkrit. Setelah itu untuk memahami konsep konkrit diperlukan keterampilan dalam memperbedakan.

Pentingnya kemampuan penyelesaian masalah oleh siswa dalam matematika ditegaskan juga oleh Branca (Ahmad Firdaus : 2009),
1. Kemampuan menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika.
2. Penyelesaian masalah yang meliputi metode, prosedur dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika .
3. Penyelesaian masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika.

Dewey (Ahmad Firdaus 2009) memberikan lima langkah utama dalam memecahkan masalah,

1. Mengenali/menyajikan masalah: tidak diperlukan strategi pemecahan masalah jika bukan merupakan masalah;
2. Mendefinisikan masalah: strategi pemecahan masalah menekan-kan pentingnya definisi masalah guna menentukan banyaknya kemungkinan penyelesian;
3. Mengembangkan beberapa hipotesis: hipotesis adalah alternatif penyelesaian dari pemecahan masalah;
4. Menguji beberapa hipotesis: mengevaluasi kelemahan dan kelebihan hipotesis;
5. Memilih hipotesis yang terbaik.

Sementara itu Polya (Ahmad Firdaus : 2009 ) menguraikan langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
1. Memahami masalah (understanding the problem).
2. Merencanakan penyelesaian (devising a plan).
3. Melaksanakan rencana (carrying out the plan).
4. Memeriksa proses dan hasil (looking back).

C.3 Media Pembelajaran

Penggunaan media sudah banyak dilakukan oleh para pendidik sebagai alat bantu untuk menjelaskan suatu pelajaran atau permasalahan kepada anak didik dalam proses pembelajaran. Penggunaan media juga dapat menumbuhkan ketertarikan siswa untuk memahami mata pelajaran yang sedang diajarkan. Dari ketertarikan ini diharapkan media juga membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa dapat mengerti atau memahami suatu pelajaran dengan mudah dalam proses belajar mengajar.
Menurut Azhar Arsyad (2003:3), media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. Media pembelajaran adalah seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau siswa.

C.4 Prestasi Belajar

Prestasi sangat berkaitan erat dengan proses pembelajaran. Karena secar umum prestasi adalah suatu hasil dari proses pembelajaran. Banyak hal dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, dan banyak hal pula yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Untuk memahami tentang pengertian prestasi belajar, tidak bisa terlepas dari pengertian belajar. Karena belajar merupakan proses sedangkan prestasi adalah hasilnya. Dan untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.

Adapun prestasi dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu. Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.”

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan suatu tingkatan intelektul yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar biasanya sesuai dengan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai, rapor atau hasil ujian akhir setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui dengan diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Evaluasi ini juga dapat dilakukan untuk mengontrol proses belajar siswa.

Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktorfaktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.

a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yait kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.
Syah Muhibbin (2003:147) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”

1) Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupankesanggupan tertentu.”

2) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatanyang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.”

3) Motivasi
Pengertian dasar motivasi menurut Gleitman dan Reber dalam Syah Muhibbin (2003: 151) ialah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya.
1) Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena dilingkungan keluargalah anak memperoleh pendidikan dan belajar bergaul untuk yang pertama kalinya.

Dari lingkungan keluarga pula anak belajar untuk bermasyarkat. Sehingga rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seorang anak dalam belajar.

Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembagalembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan
motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.
2) Keadaan sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
3) Lingkungan Masyarakat
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Apabila anakanak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka begitu pula sebaliknya. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaankebiasaan lingkungannya.

C.4 Macromedia Flash

Flash merupakan salah satu produk andalan macromedia yang cukup banyak digunakan saat ini. Banyak sekali situs yang menggunakan Flash sebagai software pendukung, atau bahkan juga sebagai software utama dalam pembuatan web, selain sebagai software pembuat animasi. Kemampuan Flash cukup popular di kalangan para pembuat animasi dan aplikasi web yang menarik. Versi Flash terbaru pada saat ini adalah Macromedia Flash 8 yang menyediakan berbagai hal baru yang bukan saja semakin menyempurnakan fitur-fitur yang ada pada versi sebelumnya, tetapi juga menyediakan fitur-fitur yang sama sekali baru.

Beberapa fitur baru pada macromedia flash 8 adalah sebagai berikut:
a. object drawing model, setiap objek gambar yang berada pada layer yang sama tidak akan saling mempengaruhi.
b. gradient enchancement, merupakan kontrol terbaru yang mampu menangani gradiasi warna yang lebih kompleks.
c. flash type, penulisan teks memiliki tampilan yang lebih konsisten.
d. script assist mode, memberikan bantuan yang sangat memadai dalam penggunaan Action Script.
e. expanded stage work area, memberikan ruang yang luas untuk menyimpan objek-objek animasi tanpa menampilkannya saat animasi dijalankan.
f. improved preferences dialog box, desain kotak dialog preference diperbaharui sehingga lebih jelas dan lebih mudah dimengerti.
g. single library pond, panel tunggal yang menyimpan berbagai pustaka objek.
h. object-level undo move, pembatalan terakhir kini tersedia per-objek.
Menurut Anggra Yuda Ramadianto (2008: 10) Macromedia flash sebagai program multimedia dan animasi memiliki beberapa kelebihan, sebagai berikut:
a. Seorang pemula yang masih awam tarhadap dunia desain dan animasi dapat mempelajari dan memahami Macromedia flash dengan mudah tanpa harus dibekali dasar pengetahuan yang tinggi.
b. Penggunaan program Macromedia flash dapat dengan mudah dan bebas dalam berkreasi membuat animasi dengan gerakan luwes sesuai dengan yang dikehendaki.
c. Macromedia flash ini dapat menghasilkan file dengan ukuran kecil. Hal ini dikarenakan flash menggunakan animasi dengan basis vector, dan juga ukuran file flash yang kecil ini dapat digunakan pada halaman web tanpa membutuhkan waktu loading yang lama untuk membukanya.
d. Macromedia flash menghasilkan file bertipe ekstensi. FLA yang bersifat fleksibel, karena dapat dikonversikan menjadi file bertipe *.swf, *.html, *.gif, *.jpg, *.png, *.exe, *.mov, sehingga memungkinkan untuk berbagai keperluan yang diinginkan.

B. METODE PENELITIAN

D.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif, karena peneliti beranggapan bahwa gejala yang diamati dapat diukur dan dinyatakan dalam bentuk angka. Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, satu variabel bebas (variabel independen) yaitu macromedia flash serta dua variabel terikat (variabel dependen) yaitu motivasi belajar dan prestasi belajar. Ditinjau dari metodenya, maka penelitian ini termasuk jenis Eksperimen semu (Quasi Eksperimental) dengan menggunakan rancangan penelitian nonequivalent control group design, dimana sekelompok subjek diambil dari populasi tertentu dan dilakukan pretest kemudian dikenai treatment. Setelah dikenai treatment, subjek tersebut diberikan posttest untuk mengukur pengaruh perlakuan pada kelompok tersebut. Instrumen yang diberikan mengandung bobot yang sama. Perbedaan antara hasil pretest dengan posttest tersebut menunjukan hasil dari perlakuan yang telah diberikan.

D.2 Subjek Penelitian

Sumber data adalah siswa SMA Negeri 8 Kota Jambi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang diberikan pengajaran menggunakan metode problem solving dengan macromedia flash. Dalam penelitian ini digunakan sebagai sampel adalah dua kelas, yaitu kelas XII IPS 2 dan XII IPS 1. Kelas XII IPS 1 sebagai kelas kontrol dan XII IPS 2 sebagai kelas eksperimen.

D.3 Instrumen Penelitian
Sugiyono ( 2010: 148) menyatakan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Penelitian ini menggunakan dua instrumen untuk pengambilan data motivasi belajar dan prestasi belajar. Instrumen skala untuk pengambilan data motivasi belajar menggunakan media pembelajaran interaktif. Instrumen pengambilan data prestasi hasil belajar setelah diterapkan pembelajaran menggunakan media pembelajaran interaktif dalam kegiatan belajar mengajar terhadap sampel.

Media pembelajaran interaktif ini dibuat dengan menggunakan program macromedia flash professional 8. Media pembelajaran ini memberikan gambaran mengenai praktek pengelasan jalur lurus posisi bawah tangan. Materi yang ditampilkan berupa video dan materi tentang las busur, terdiri atas gambar dan teks tentang pengelasan, juga terdapat soal-soal interaktif yang dapat dapat dipergunakan peserta didik untuk belajar mandiri dirumah.

D.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa skala dan tes (pretest-posttest). Skala merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Tes dilaksanakan sebelum dan sesudah siswa diberi perlakuan di dalam kelas untuk mengetahui hasil belajar siswa. Pemberian skala dilakukan sekali setelah threatment (perlakuan) dan tes dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum pembelajaran pretest dan postest dilakukan setelah threatment (perlakuan).

Pengukuran untuk motivasi belajar digunakan skala motivasi belajar. Instrumen berisi tentang indikator perilaku motivasi belajar yang dijabarkan dari prinsip-prinsip motivasi belajar Keller dalam Prasetya oleh Sugihartono dkk (2007: 79). Subjek diminta untuk memilih jawaban atau respon yang paling sesuai dengan keadaan diri masing-masing responden. Responden akan memperlihatkan tingkat kesetujuan antara lain: Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral (N), Setuju (S), Sangat Setuju (SS). Untuk item favorable diberi skor STS=1, TS=2, N=3, S=4, SS=5 dan untuk item unfavorable STS=5, TS=4, N=3, S=2, SS=1.

Instrumen dalam tes berupa soal pilihan ganda, terdiri dari 30 butir dengan empat pilihan jawaban. Dalam tes ini, subjek menjawan pertanyaanpertanyaan instrumen sesuai dengan tingkat kemampuan responden dalam waktu 30 menit. Pada setiap item pertanyaan jika responden menjawab betul maka diberi skor 1 dan jika salah diberi skor 0. Dalam penelitian ini pengukuran terhadap kemampuan kognitif tidak dilakukan secara bebas, tetapi juga disesuaikan dengan pokok bahasan dalam kurikulum SMA (KTSP). Untuk itu kisi-kisi instrumen yang dibuat didasarkan pada kurikulum mata pelajaran PROGRAM LINIER.

D.5 Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistimatis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri atau orang lain (Sugiyono, 2009: 274).

Jadi, analisis data yang akan dilakukan adalah dengan mengolah semua data yang telah diperoleh dari hasil pretest dan posttest.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Vita N. (2011). Diagnosis Kesulitan Belajar (Learning Obstacle) Matematika SMP dan Alternatif Solusi. [online]

Aprilianti, Rosi. (2011). Upaya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui pendekatan keterampilan metakognitif. Skripsi pada FPMIPA UPI: Tidak Diterbitkan

Arsyad, Azhar. 2008. Media Pendidikan. [online]

Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D). Bandung: Alfabeta.

Wingkel. W.S. (1996). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta:PT.Gramedia.

Terimakasih telah membaca Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash semoga bermanfaat, terus berkunjung di blog Makalah Gratis untuk melihat update kami

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Makalah Permainan Kecil Di Indonesia
  2. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan
  3. Makalah Motivasi Belajar
  4. Sebab-Sebab Kesulitan Belajar | Penyebab Kesulitan Belajar
  5. Jenis Pendidikan Dalam Keluarga
  6. 8 Keterampilan Mengelola Kelas
  7. Arti Pendidikan | Pengertian Pendidikan
  8. Ancaman Sebagai Motivasi? | Motivasi Dalam Belajar
  9. Faktor Penyebab Pencabulan Yang Dilakukan Anak Dan Upaya Penanggulangannya BAB II
  10. Makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar | Makalah ISBD