Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Group Resume : Berdasarkan pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa banyak siswa yang memandang ips sebagai salah satu mata pelajaran yang dianggap ringan dan mudah. Sebab itu guru dituntut mampu memilih dan menetapkan metode yang sesuai agar pembelajaran berperan mempercepat keberhasilan sesuai sasaran yang diharapkan. Guru berperan sebagai perencana, pelaksana dan penilai secara profesional, bila hal ini ditinjau dari mata pelajaran ips siswa SD Negeri No. 34/I Muara Bulian masih banyak siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Hal ini memberikan gambaran kemampuan siswa dalam menyerap materi matematika melalui proses belajar masih sangat rendah dan menunjukkan adanya siswa yang mengalami kesulitan belajar. Untuk itu diharapkan metode penyampaian materi pelajaran terutama menggunakan model Group Resume yang digunakan harus mendukung sehingga kemampuan belajar siswa dapat ditingkatkan pada bidang studi ips.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model Group Resume pada pembelajaran matematika di kelas IV SD Negeri No. 34/I Muara Bulian.

Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana peneliti ikut berpartisipasi penuh dalam proses belajar mengajar. PTK memiliki tiga siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan observasi dan refleksi.

Hasil observasi keberhasilan siswa yaitu keberhasilan siswa bertanya, menjawab pertanyaan, berdikusi, membuat kesimpulan dan mengerjakan tugas individu meningkat yaitu dari rata-rata siklus I yaitu 63,72 dengan nilai ketuntasan 52%, pada siklus II rata-rata 69, 7 dengan nilai ketuntasan 80 % dan pada siklus III rata-rata 79 dengan nilai ketuntasan 100%.

Berdasarkan hasil penelitian, baik dari observasi dan evaluasi dapat disimpulkan bahwa siswa yang awalnya memiliki nilai KKM tidak tuntas atau hasil belajar rendah setelah diberikan metode group resume oleh peneliti nilai siswa-siswa tersebut meningkat dan bahkan ada beberapa yang nilainya di atas KKM.

Contoh Skripsi Model Group Resume : Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajian dan latihan bagi peranan akan datang yang dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan usaha untuk menumbuh kembangkan potensi anak didik melalui kegiatan pembelajaran dan kualitas pendidikan.

Lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah,keberhasilan pendidikan dapat di lihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi,belajar kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat di pengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pembelajaran.

Para siswa memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang di berikan berkaitan dengan pemeliharaan tempat umum di sekitar  Memiliki pemikiran logis, kritis dalam belajar.

Dapat memecahkan masalah serta keterampilan dalam kehidupan sekitar merancang model pembelajaran BI menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang akan di peroleh

Dapat berkomunikasi, menulis, berkarya mengarang serta berkerja sama dalam kelompok, global dan lokal agar rasa ingin tahu dapat terbuka, perhatian dan minat menulis ceritanya (dalam bahasa Indonesia)dapat di pelajari dan percaya dirinya tumbuh dalam memecahkan permasalahan dalam menulis cerita tersebut

Proses belajar mengajar adalah kesanggupan dan kecakapan para Guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang adukatif antara guru dan peserta didik mencakup kongnitif, efektif dan psikomotor sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evakuasi dan tidak lanjut sehingga tercapai tujuan penggajaran, dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV, maka dapat di upayakan penggembangan dengan mengunakan model pembelajaran tertentu dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas IV.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu metode yang efektif untuk digunakan. Dimana siswa bekerja dalam kelompok belajar kooperatif beranggota 4 saling terlibat, saling membantu, interaksi antar siswa yang satu dengan siswa lainnya saling memberi motivasi dan saling.

Untuk mendukung konsep-konsep dasar dan proses selanjutnya pada pembelajarilmu pengetahuan sosial, maka diperlukan suatu strategi-strategi maupun metode, mode yang harus dilakukan oleh guru, sehingga dalam pembelajaran bahasa Indonesia guru dituntut untuk mengembangkan kreatifitas dan inovatifnya agar dapat memudahkan para siswa dalam menerima pelajaran ilmu pengetahuan sosial dalam segi pemahaman materi yang diajarkan dan penguasaan selama pelajaran IPS kurang diminati siswa

Strategi dalam upaya yang dilakukan oleh guru adalah : 1) untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk penguasaan terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia, 2) dapat menumbuhkan keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran dan mempelajari pelajaran bahasa Indonesia, 3) siswa merasa senang dan termotivasi untuk lebih mendalami dan memahami pelajaran bahasa Indonesia.

Rendahnya kemampuan pada siswa kelas IV SD Negeri 34/I teratai yang dapat dilihat pada rendah nya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan rata-rata nilai ulangan harian kurang nya yang sebagian besar dibawah nilai ketuntasan. Hal ini disebabkan oleh pendekatan, strategi, model atau metode yang diterapkan oleh guru kurang sesuai, termasuk dalam hal kemampuan guru serta sarana pembelajaran yang meliputi media, alat peraga, dan buku pegangan siswa yang terbatas .

Karena keterbatasan yang ada pada peneliti maka masalah yang diangkat adalah “Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dikelas IV”

Identifikasi dan analisis dilapangan bahwa dikelas IV SD 34/I Teratai yaitu kurangnya minat siswa pada mata pelajaran IPS, rendahnya hasil belajar hanya mencapai rata-rata 50%,dari gejala-gejala yang sering muncul saat belajar mengajar berlangsung seperti : masih adanya siswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan–pertanyaan tentang IPS, masih banyak bermain, tidak memperdulikan guru di depan. Berdasarkan masalah di atas, sehingga permasalahan yang selalu dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran IPS adalah : siswa kurang aktif dalam diskusi kelompok, bila diberi pertanyaan, siswa tidak mengangkat tangan untuk menjawab pertangaan, respon siswa terhadap pendapat siswa lainnya sangat kurang, pemahaman siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia rendah. Dimana dari 24 siswa yang terdiri 9 laki-laki dan 15 anak siswa perempuan, secara umum masih menghadapi beberapa kesulitan dalam memahami mata pelajaran IPS Indonesia. Dari 24 siswa 5 orang baik(21%), kemudian 9 dengan nilai rata-rata kurang (37%) dan 10 siswa masih tergolong nilai cukup (42%)

Penyebab kurangnya siswa dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial diantaranya adalah cara mengajar terlalu formal, hampir tidak adanya komunikasi dengan siswa, hasil latihan hampir tidak pernah dibahas tetapi diperiksa silang, jawaban yang benar ditulis guru dipapan tulis, soal-soal yang diberikan terlalu sulit, siswa merasa tidak ada manfaat belajar .

Salah satu pembelajaran di Sekolah Dasar adalah Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS. IPS dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu –ilmu sosial ( sosiologis, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya). Oleh karena itu konsep IPS terdiri dari empat belas aspek yaitu (1) interaksi, (2) saling ketergantungan, (3) kesinambungan dan perubahan, (4) keragaman/kesamaan/perbedaan, (5) konflik dan konsesnsus, (6) pola (patron), (7) tempat, (8) kekuasaan (power), (9) nilai kepercayaan, (10) keadilan dan pemerataan, (11) kelankaan (scarcity), (12) kekhususan, (13) budaya (culture), dan (14) nasionalisme ( Trianto, 2011:171).

Selama ini pembelajaran IPS di SDN 34/I Teratai Muara Bulian kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian siswa yang berada di bawah standar ketuntasan yaitu 70. Hal tersebut didukung dengan perilaku siswa di saat belajar IPS yang pasif dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Sementara itu, guru juga tidak memberikan nuansa baru dalam pengajarannya seperti metode yang memotivasi siswa, media pembelajaran yang menarik minat siswa atau pun materi pembelajaran yang disampaikan dengan cara-cara baru.

Dari hasil observasi yang dilaksnakan pada tanggal 6 September 2012 di SDN 34/I Teratai Muara Bulian, dapat diasumsikan bahwa kondisi kegiatan belajar dan mengajar untuk mata pelajaran IPS di kelas IV SDN 34/I Teratai Muara Bulian tidak kondusif. Dalam hal ini berarti pembelajaran IPS membutuhkan sesuatu yang baru. Bentuk dari perubahan yang dapat memotivasi adalah penggunaan sebuah metode baru dalam mengajar IPS. Peranan guru disini sangat penting, karena melalui gurulah metode ini dapat diberlakukan, sehingga guru harus memahami cara penyampaian metode baru tersebut sebelum diterapkan kepada siswanya.

Salah satu metode yang dinilai efektif dalam pembelajaran IPS adalah metode pembelajaran cooperative. Pembelajaran kooperatif secara umum adalah pembelajaran secara berkelompok. Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan dapat menumbuhkan pembelajaran yang efektif dengan ciri-ciri (1) memudahkan siswa belajar, (2) mendapatkan penilaian, pengetahuan dan keterampilan yang diakui oleh para ahli yang kompeten ( Suprijono , 2010: 58).

Bentuk-bentuk pembelajaran dengan metode kooperatif sangat beragam. Untuk itu peneliti berusaha memadupadankannya dengan materi pembelajaran IPS untuk siswa kelas IV SDN 34/I Teratai Muara Bulian. Materi Pembelajran yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah Keanekaragamn Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia. Selain temanya menarik untuk diajarkan, kebetulan materi ini diajarkan untuk kelas IV semester I. Sehingga peneliti akan lebih mudah dalam menjalani proses mengajar untuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

Berdasarkan materi yang telah disebutkan di atas, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan metode pembelajaran kooperatif Group Resume. Group Resume merupakan sebuah model pembelajaran yang akan menjadikan interaksi antar siswa lebih baik, karena siswa dikelompokan dalam grup kecil kemudian diberikan keleluasaan untuk menyimpulkan materi pelajaran yang baru saja mereka dapatkan.

Dengan menggunakan metode ini diharapkan siswa kelas IV SDN 34/I Teratai Muara Bulian akan lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran IPS. Terlebih karena inti dari pembelajaran kooperatif adalah tidak hanya membuat siswanya aktif, melainkan juga guru yang mengajar harus lebih aktif lagi dalam menyampaikan materi kepada siswanya

Proses Belajar dan Hasil Belajar Dengan Menggunakan Model Group Resume

Belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau menjadi hasil dari belajar, bukan penguasaan hasil latihan, melainkan perubah tingkah laku, maka perlu pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenang kan dan mencerdaskan.
Suprijono (2011:4) menyatakan bahwa :

“Belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistematik yang dinamis, konstruktif dan organik. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar. Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya”

Berdasarkan pengertian diatas dapat diartikan bahwa belajar tidak hanya terkait pada satu aspek semata, namun bisa meliputi banyak aspek. Sementara itu menurut Hamalik (2010:57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material , meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi,praktik, belajar, ujian dan sebagainya.

Setelah melaksanakan pembelajaran maka peserta didik atau siswa akan diberikan ujian untuk mengetahui tingkat keberhasilannya selama mengikuti pelajaran. Hasil yang didapat dari ujian tersebut identik dengan istilah hasil belajar. Menurut Sudjana (2004:7), hasil belajar adalah kemampuan yang di miliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.

Penilaian hasil belajar memiliki tujuan tersendiri (Arikunto, 2007:9) menyatakan tujuan penilaian hasil belajar adalah mengetahui siswa-siswa mana yang berhak melanjutkan pelajaran karena sudah berhasilmenguasai materi dan apakah metode yang di gunakn sudah tepat atau belum. Menurut Woordworth (dalam Isrnihyam 2000) hasil belajar merupakan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar dan juga hasil belajarnya merupakan kemampuan aktual yang di ukur secara langsung. Hasil pengukuran inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah di capai. Hasil belajar di bagi menjadi 3 macam hasil belajar (Woordworth dalam Isrnihyam, 2000) :

1. Keterampilan dan kebiasaan
2. Pengetahuan dan pengertian
3. Sikap dan cita-cita
Berdasarkan uraian di atas, belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan pengalaman baru yang merupakan hasil interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Sementara hasil belajar adalah tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Hasil Belajar

Soemanto ( 1998 : 113) membagi faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu faktor-faktor stimuli belajar, faktor-faktor metode belajar dan faktor-faktor individual. Faktor stimuli belajar adalah segala hal di luar individu yang merangsang individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Faktor kedua, yaitu faktor metode belajar adalah metode yang digunakan guru dalam mengajar. Faktor yang terakhir adalah faktor individual, yaitu faktor yang berasal dari si pembelajar atau anak didik.

Pendapat lain berasal dari Biggs dan Telfer dalam Winkel (2006 : 236) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar atas faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah ciri khas pribadi, minat, kecakapan pengalaman, dan keinginan belajar. Hal-hal sebelum terjadi belajar tersebut merupakan keadaan awal dan keadaan awal tersebut di harapkan mendorong terjadinya belajar. Sementara itu faktor ekstern adalah guru sebagai pembina siswa belajar, sarana dan prasarana penbelajaran, kebijakan penilaian lingkungan sosial siswa sekolah dan kurikulum sekolah.

Kemudian, setelah diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, Biggs dan Telfer dan Winkel (2006 : 240) juga membagi dua faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal (dari dalam individu yang belajar) adalah faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini, lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Faktor ini juga yang mempengaruhi kegiatannya adalah faktor psikologis antara lain yaitu motivasi, pengamalan, tanggapan dan lainnya. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal (dari luar individu yang belajar) seperti mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan dan pembentukan sikap.

Silahkan Lanjut ke Contoh Skripsi Pendidikan Lengkap

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Pengembangan Bahan Ajar Dalam Proses Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar BAB II
  2. Daya Hambat Ekstrak Buah Mengkudu terhadap Pertumbuhan Bakteri Shigella dysenteriae
  3. Perbandingan Antara Latihan Menggunakan Media Trampolin Dengan Latihan Media Matras Busa
  4. Penerapan Media Realia Dalam Meningkatkan Pemahaman Materi Bilangan Pecahan
  5. Penerapan Model Active Learning Dengan Teknik One-To-One Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa
  6. Hubungan Kecerdasan Ganda Dan Sikap Terhadap Hasil Belajar
  7. Filologi Sebagai Satuan Disiplin
  8. Kumpulan Judul Skripsi Pendidikan Lengkap
  9. Upaya Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Pembelajaran Demonstrasi Mengenai Membaca Puisi Karya Sendiri
  10. Upaya Pemerintah Desa dalam Mempertahankan Hukum Adat