Permainan Kecil Di IndonesiaPermainan Permainan Masa Kecil Di Indonesia memang sangat beragam, contoh makalah Permainan Kecil Di Indonesia memang sangat jarang karena permainan kecil indonesia ini sekarang sudah banyak tidak dimainkan lagi oleh anak anak saat ini. Tapi karena ada permintaan maka blog makalah gratis akan memberikan makalah permainan kecil indonesia, salam blogger

Permainan Permainan Masa Kecil Di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permainan kecil adalah suatu bentuk permainan yang tidak mempunyai peraturan baku, baik mengenai peraturan permainannya, alat-alat yang digunakan, ukuran lapangan, maupun lama permainannya. Hal ini dapat disesuaikan dengan keadaan atau situasi. Disamping itu belum mempunyai induk organisasi baik yang bersifat nasional maupun internasional.

 Permainan Masa Kecil Di Indonesia

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa perminan kecil yang ada di Indonesia?
2. Apa yang terkandung dalam permainan tersebut?
3. Bagaimana cara memainkannya?

1.3. Tujuan Penulisan
1. Memahami macam – macam permianan kecil yang ada di Indonesia.
2. Mengertui nilai budaya yang terkandung dalam sebuah permainan.
3. Mengerti cara – cara memainkan permainan tradisional.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sasaran Permainan Kecil (Tradisional)
A. Sasaran jasmani
1. Peningkatan kekuatan otot
Dalam bermain anak akan berlari, meloncat, melompat, berjengket, mengangkat, mendorong dan menarik. Semua kegiatan ini tanpa disadarinya akan mempengaruhi otot-otot mereka akan lebih kuat.
2. Daya tahan otot setempat
Anak yang bermain terus menerus dalam waktu yang lama, merupakan kesempatan yang sangat baik untuk peningkatan daya tahan otot setempat.
3. Daya tahan kardiovaskuler
Anak yang bermain gobak sodor akan mengalami lari cepat kemudian berhenti dan lari cepat lagi, dan terus menerus dilakukan berulang-ulang. Tanpa sengaja, anak berlatih secara interval. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi anak dalam peningkatan daya tahan.
4. Kelentukan
Dalam permainan terdapat beberapa permainan yang memaksa anak untuk meliuk, memilin badan, membungkuk dan mengayunkan kaki. Semua ini akan meningkatkan anak dalam kelentukan tubuh yang sangat berguna dalam peningkatan gerak yang baik.
5. Keterampilan gerak
Dengan meningkatnya unsur gerak, akan meningkatkan keterampilan gerak yang mengarah pada meningkatnya prestasi satu cabang olahraga.
B. Sasaran Psikis
Rasa bebas merupakan akibat psikis yang penting dalam bermain (Drijarkara, 1990:81). Selanjutnya, Drijarkara mengatakan bahwa permainan itu pembebasan, artinya pembebasan dari pamrih atau pembebasan daritujuan lain diluar tujuan bermain, hanya untuk memperoleh rasa senang dari tujuan bermain.
C. Sasaran Rasa Sosial
Sudah jelas bahwa semua permainan membutuhkan teman untuk bermain. Anak membutuhkan orang lain dan dapat menilai orang lain serta dirinya sendiri. Akhirnya mereka membutuhkan orang lain. Selain itu, dalam bermain anak dapat bergaul dan menyatakan identitasnya atau kemampuannya dapat dikenal, dinilai dan dihargai teman.

2.2. Macam – Macam Permainan kecil
Congkak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
A. Nama Congkak Di Berbagai Daerah
Di Malaysia permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan Melayu. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut Mancala.

Permainan Congklak
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

B. Kelereng
Kelereng dengan berbagai sinonim gundu(Btw), keneker(Jv), kelici(Sd), guli(Ms) adalah bola kecil dibuat dari tanah liat, marmer atau kaca untuk permainan anak-anak. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung. Kelereng kadang-kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.
Sejarah
Mesir kuno
Tahun 3000 SM, kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa.
Romawi
Pada masa Rowami, permainan kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan.
Abad 12
Sejak abad ke-12, di Perancis, kelereng disebut dengan bille, artinya bola kecil, di Belanda di sebut dengan nama knikkers. Di Inggris ada istilah marbles untuk menyebut kelereng. Marbles sendiri digunakan untuk menyebut kelereng terbuat dari marmer yang didatangkan dari Jerman. Namun, jauh sebelumnya, anak-anak di Inggris telah akrab menyebutnya dengan bowls atau knikkers.
Masa modern
Teknologi pembuatan kelereng kaca ditemukan pada 1864 di Jerman. Kelerang yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Kelereng populer di Inggris dan negara Eropa lain sejak abad ke-16 hingga 19. Setelah itu baru menyebar ke Amerika. Bahan pembuatnya adalah tanah liat dan diproduksi besar-besaran.

C. Gasing
Gasing / Gangsing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
Gasing dari Jepang

Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.
Indonesia

Gangsing di Yogyakarta.

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti.
Di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing.
Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.
Bentuk gasing
Gasing memiliki beragam bentuk, tergantung daerahnya. Ada yang bulat lonjong, ada yang berbentuk seperti jantung, kerucut, silinder, juga ada yang berbentuk seperti piring terbang. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki (paksi). Namun, bentuk, ukuran dan bagian gasing berbeda-beda menurut daerah masing-masing. Gasing di Ambon (apiong) memiliki kepala dan leher. Namun umumnya, gasing di Jakarta dan Jawa Barat hanya memiliki bagian kepala dan paksi yang tampak jelas, terbuat dari paku atau logam. Sementara paksi gasing natuna, tidak nampak.

Gasing bambu

Jenis gasing

Gasing dapat dibedakan menjadi gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul
Permainan gasing
Cara memainkan gasing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gasing tidak boleh ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah.
Cara:
• Gasing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali.
• Lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian badan gasing. lilit kuat sambil berputar.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Permainan tradisional biasanya tumbuh dan digali dari warisan leluhur nenek moyang suatu bangsa. Permainan tradisional adalah permainan yang dilakukan oleh orang-orang tempo dahulu yang berasal dari kebiasaan masyarakat dalam mengisi waktu luang dengan tujuanuntuk mencari kesenangan. Permainan tradisional umumnya berasal dari suatu budaya masyarakat yang secara tradisi menjadikan aktivitas itu sebagai media berkomunikasi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Pada umumnya permainan tradisional ini dilakukan oleh 17 anak-anak, karena dunia mereka adalah bermain dan memiliki berbagai imajinasi. Anak-anak umumnya mampu berimajinasi dengan berimprovisasi dalam mengembangkan permainannya.
Daya imajinasi inilah yang dikembangkan lebih lanjut untuk meningkat menjadi permainan. Biasanya permainan ini secara tidak disengaja dilakukan namun menarik perhatian. Lambat laun menjadi tradisi masyarakat yang akhirnya dipopulerkan sebagai permainan tradisional.Permainan tradisional tidak dipertandingkan dalam lingkup dunia, karena biasanya hanya dimiliki oleh daerah-daerah tertentu saja.
Permainan-permainan tradisional memiliki nilai positif, misalnya anak menjadi banyak bergerak sehingga terhindar dari masalah obesitas anak. Sosialisasi mereka dengan orang lain akan semakin baik karena dalam permainan dimainkan oleh minimal 2 anak. Selain itu, dalam permainan berkelompok mereka juga harus menentukan strategi, berkomunikasi dan bekerja sama dengan anggota tim.

DAFTAR PUSTAKA
Soekidjo, Situmorang. ( 1952 ). Bermain. Jakarta: Jajaran Pembangunan.
Karjono Dirjasubrata. ( 1990 ). Bermain 1. Jakarta : Kapita Selekta. Mohammad moselim MSc. ( 1970 ).
Pedoman Mengajar Olahraga Pendidikan diSekolah Dasar 1. Jakarta

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Ekonomi Regional Dan Permasalahannya
  2. Makalah Motivasi Belajar
  3. Pengertian Asam Lemak
  4. Kelebihan Metode Pembelajaran Di Luar Kelas
  5. Cara Mengukur Sikap dan Perilaku
  6. Agrobisnis
  7. Mencegah Perilaku Seksual Menyimpang pada Anak
  8. Asas asas Hukum Adat
  9. Contoh Makalah korupsi
  10. Ctg Investments, Widraw Langsung Rekening