Hubungan Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Dan Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi

Hubungan Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar dan hasil belajar
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Belajar
Menurut Gagne dalam Slameto (2003:13) memberikan 2 (dua) definisi belajar yaitu:
1. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku.
2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

2.1.1 Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar menurut Slameto (2003:27-28) antara lain:
1. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar

  • Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
  • Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
  • Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuan dan belajar dengan efektif.
  • Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.

2. Sesuai hakikat belajar

  • Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
  • Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
  • Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan.

3. Sesuai materi/bahan yang harus dipelajari

  • Belajar bersifat keseluruhan dan materi harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
  • Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya.

4. Syarat keberhasilan belajar

  • Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
  • Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa.

2.2 Hasil Belajar
Suatu pengajaran disebut berhasil baik jika pengajaran itu membangkitkan proses belajar efektif. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interakasi untuk belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakmengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari diri siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya puncak proses belajar. Hasil belajar itu biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, huruf dan kata-kata baik, sedang, kurang dan sebagainya.

Hasil belajar menurut Hamalik (2003:155) tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan yang sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Hasil belajar ini biasanya berupa nilai, yang nantinya merupakan indikator apakah tujuan pembelajaran telah tercapai. Hasil belajar bersifat kompleks dan dapt berubah-ubah.

Dalam pembelajaran, guru dan siswa mengharapkan perolehan suatu hasil belajar sebagai wujud tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Adapun hasil belajar yang diharapkan tersebut adalah hasil belajar yang baik. Karena pembelajaran dikatakan berhasil apabila perubahan tampak pada diri siswa akibat dari proses belajar yang dialaminya. Siwa baru dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya sudah menguasai tingkat penguasaan minimum dari mata pelajaran ( Prayitno, 2001:5 )

Menurut Mulyasa (2008:94) bahwa hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan derajat perubaahan perilaku yang bersangkutan. Hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang dan penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik ( Sukmadinata 2007:5-6 ).

Menurut Djamarah (1997:22) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang akan mengakibatkan perubahan dari dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas yang biasanya dinyatakan dalm bentuk angka dan huruf. Menurut Kimble dan Garmezy (dalam Ali, 2007:14-15) sifat perubahan perilaku dalam belajar relatif parmanen. Dengan demikian hasil belajar dapat diidentifikasikan dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara parmanen, dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa dari aktivitas belajar yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angaka atau huruf dan hasil belajar dikategorikan tinggi, sedang dan rendah.

2.2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut hamalik (2006:36) proses belajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan linkungan belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga para siswa mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ekonomi adalah strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Dengan menerapkan model PAIKEM akan dapat meningkat hasil belajar siswa. Pada metode ini siswa berusaha menemukan konsep dan pemahaman dengan sedikit bimbingan dari guru.

Menurut Purwanto (2004:104) faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor penting, bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki oleh guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya turut menentukan hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa. Dengan demikian cara mengajar guru harus bernuansa pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam menggunakan model, tehnik atau metode dalam mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik dalam proses belajar mengajar dan disesuaikan dengan konsep yang diajarkan berdasarkan kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga siswa mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Disisi lain, Sardirman (200:145) berpendapat bahwa untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal banyak dipengaruhi komponen-komponen belajar mengajar. Sebagai contoh bagaimana cara mengorganisasikan materi, metode yang diterapkan, media, fasilitas yang digunakan dan lain-lain. dari beberapa komponen tersebut fasilitas belajar merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Agar siswa dapat mencapai tujuan secara maksimal, maka siswa perlu pengadaan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah, di rumah dan di masyarakat. Adanya fasilitas belajar akan memunculkan motivasi siswa dalam melakukan aktivitas belajar yang biasa dilakukan oleh siswa atau dalam bahasa sederhana disebut dengan kebiasaan belajar yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan belajar siswa.

Menurut Purwanto 92004:105) menjelaskan bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat da perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak. Dengan demikian Fasilitas belajar merupakan kelengkapan mengajar guru
yang harus dimilik oleh sekolah. Fasilitas yang guru perlukan harus sudah tersedia agar guru sewaktu-waktu dapt menggunakan sesuai dengan metode mengajar dalam penyampaian bahan pelajaran dikelas. Oleh karena itu fasilitas belajar sangat membantu guru dalam melaksanakan tugasnya mengajar disekolah.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah cara guru menerapkan pembelajaran yang bernuansa paikem dan fasilitas belajar. Karena nuansa paikem guru dan fasilitas belajar mempengaruhi kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Peserta didik tentu dapat belajar lebih baik, efektif dan menyenangkan apabila sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajar peserta didik sehingga hasil belajar lebih optimal.

2.3 Pengertian Pembelajaran PAIKEM
PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) merupakan model pembelajaran yang melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Guru mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu mengandung variasi, seperti belajar keterampilan motorik, belajar konsep, belajar sikap, dan seterusnya, Gagne dalam Mulayasa ( 2006:191).

Perbedaan tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini, guru harus menetukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai (Mulyasa, 2006:1991).

Sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran PAIKEM adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

1. Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesiskan, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2006:191)

Lebih lanjut Mulyasa (2006:192) menjelaskan model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan, dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.

2. Inovatif
Menurut Ahmadi dan Amri (2011) mengatakan Pembelajaran inovatif artinya dalam pembelajaran siswa dapat memperoleh sesuatu yang berbeda. Hal-hal baru muncul selama proses pembelajaran dapat menjadi kebanggaan mereka. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.

3. Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain beran, dan pemecahan masalah.

Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk mampu merangsang kreativitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kreatif memiliki empat tahapan; pertama persiapan, yaitu proses pengumpulan berbagai informasi untuk diuji. Kedua inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional. Ketiga ilmunisasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional. Dan keempat verifikasi, yaitu pengujian kembali berhipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teaori (Mulyasa, 2006:193).

4. Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran (Mulyasa, 2006:1994).

5. Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan. Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik. Untuk mewujudkan proses pebelajaran menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal (Mulyasa, 2006:194).

Jadi PAIKEM merupakan pembelajaran yang tidak hanya terpaku menggunakan satu pendekatan saja, tetapi dengan menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran. PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut sehingga dalam proses pembelajaran siswa atau murid bisa menangkap lebih mudah karna siswa atau murid di tuntut aktif untuk belajar.

2.3.1 Penerapan Paikem Dalam Proses Pembelajaran
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’.
4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

2.3.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM


a) Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak indonesia, atau anak bukan indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.

b) Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.

c) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

d) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka.

e) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

f) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

g) Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAIKEM.

2.4 Pengertian Fasilitas Belajar
Fasilitas adalah sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana sendiri adalah: Sarana belajar meliputi semua peralatan serta perlengkapan yang langsung digunakan dalam pendidikan disekolah misalnya gedung sekolah, ruangan, meja, kursi, alat peraga dan lain-lain. Sedangkan prasarana merupakan semua komponen yang secara tidak lansung menunjang jalannya proses belajar mengajar serta pendidikan sekolah, misalnya jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tata tertib dan lain-lain. Proses belajar mengajar akan semakin sukses jika ditunjang dengan adanya fasililtas belajar atau yang disebut sarana dan prasarana pendidikan.

Menurut Djamarah (1995:92) fasilitas belajar merupakan kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Dengan adanya Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Depdikbud dalam Arikunto (1988:23), yang dimaksud dengan: “Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses Sarana pendidikan lazim dimaksudkan sebagai fasilitas fisik yang langsung mendukung proses pendidikan (alat pelajaran, alat peraga, media pendidikan, pendapat lain memasukkan meja, kursi belajar, papan tulis dan gedung).

Prasarana pendidikan dimaksudkan sebagai fasilitas fisik yang tidak langsung mendukung proses belajar mengajar (proses pendidikan) yakni: gedung/ruang belajar, jalan menuju sekolah, asrama, kantin dan sebagainya.

2.4.1 Ruang Lingkup Fasilitas Belajar
Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, jelaslah bila dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil jika ditunjang dengan fasilitas yang memadai dan dalam hal ini akan diuraikan mengenai ruang lingkup fasilitas belajar.
Ditinjau dari fungsi dan peranannya terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar, Arikunto (1987:10) mengemukakan bahwa sarana pendidikan atau sarana materiil dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
1. Alat Pelajaran
2. Alat Peraga
3. Media Pengajaran.

Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa fasilitas belajar adalah semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar yang terdiri dari alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran/media pendidikan.
1) Alat pelajaran adalah benda yang dipergunakan langsung dalam proses belajar mengajar baik itu oleh guru maupun siswa. Menurut Arikunto (1987:11-12) alat pelajaran di sekolah dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain:
a. Buku-buku termasuk didalamnya buku-buku yang ada diperpustakaan, buku-buku dikelas baik itu sebagai buku pegangan untuk guru maupun buku pelajaran untuk siswa.
b. Alat-alat peraga digunakan oleh guru pada saat mengajar, baik yang sifatnya tahan lama dan disimpan disekolah maupun yang diadakan seketika oleh guru pada jam pelajaran.
c. Alat-alat praktek, baik itu yang ada dilaboratorium, bengkel kerja, ataupun ruang-ruang praktek (kearsipan, mengetik, dan sebagainya).
d. Alat tulis menulis, seperti papan tulis, penghapus, kapur, kayu penggaris, dan sebagainya.

2) Alat peraga adalah segala sesuatu yang dipergunakan oleh guru untuk memperagakan atau memperjelas pelayanan”. (Arikunto,1987:13).
Adapun menurut Anwar Yastin Med (1987:13), yang dikutip oleh Arikunto (1987:13) bahwa : “Alat peraga adalah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa perbuatan-perbuatan/benda-benda yang mudah memberikan pengertian kepada anak didik berturut-turut dari perbuatan yang abstrak sampai kepada benda yang sangat konkret”.
3) Media pengajaran/pendidikan
Menurut Arikunto (1987:14) “media pengajaran adalah suatu sarana yang digunakan untuk menampilkan pelajaran”. Sedangkan menurut Umar Suwito (1978:13) bahwa “media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan”.

Menurut The Liang Gie, (2002:33) dalam bukunya yang berjudul “Cara Belajar Yang Efisien” mengatakan bahwa untuk belajar yang baik hendaknya tersedia fasilitas belajar yang memadai antara lain tempat/ruangan belajar, penerangan yang cukup, buku-buku pegangan dan kelengkapan peralatan/media belajar.

a. Tempat atau ruang belajar
Salah satu syarat untuk dapat belajar dengan sebaik-baiknya ialah tersedianya tempat atau ruang belajar. Tempat/ruang belajar inilah yang digunakan oleh siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan tempat/ruang belajar yang memadai dan nyaman untuk belajar maka siswa akan memperolah hasil belajar yang baik.

b. Penerangan
Penerangan yang terbaik ialah sinar matahari karena warnanya putih dan sangat intensif. Namun apabila cuaca tidak baik pihak sekolah juga harus menyediakan penerangan sehingga tidak akan mengganggu proses belajar mengajar dikelas.

c. Buku-buku pegangan
Syarat yang lain dalam kegiatan belajar mengajar yaitu buku-buku pegangan. Buku-buku pegangan yang dimaksud disini adalah buku-buku pelajaran yang dapat menunjang pemahaman siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru.

d. Kelengkapan peralatan/media belajar
Selain buku-buku pegangan, kelengkapan peralatan /media juga penting untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

2.4.2 Fungsi Fasilitas Belajar
Menurut Mudhofar (1992:84) mengemukakan bahwa fungsi fasilitas belajar adalah untuk menunjang kegiatan program pusat sumber belajar agar semua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan efisien. Adanya fasilitas belajar yang baik, sumber belajar seolah-olah memiliki kekuatan. Semua peralatan dapat berdaya guna dan siswa semakin rajin serta akan tekun belajar dengan fasilitas yang ada.
Menurut Damin (1995:17) menyatakan bahwa standar ideal fasilitas belajar yang dimiliki oleh siswa antara lain:
a. Tersedianya ruang belajar
b. Tercukupinya alat tulis
c. Adanya buku pelajaran yang relevan
d. Sarana kendaraan transportasi yang memadai
e. Tersedianya meja dan kursi belajar
f. Tersedianya media teknologi belajar seperti komputer, internet, televise
g. Adanya alat penerangan belajar

Bedasarkan uaraian di atas, jadi fungsi dari fasiltas belajar adalah membantu siswa dalam memahami apa yang telah disampaikan oleh guru bidang studi dan untuk menunjang dan mempermudah guru dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa , sehingga dicapai keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Fasilitas belajar juga berperan besar dalam mencapai hasil belajar siswa, karena dengan adanya fasilitas belajar mampu membantu siswa memahami materi yang dipelajari.

2.4.3 Indikator Fasilitas Belajar
Menurut Djamarah (2002:149), ada beberapa indikator fasilitas belajar di sekolah antara lain sebagai berikut:

a) Gedung
Gedung sekolah merupakan tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan pembelajaran di sekolah. Gedung sekolah yang bersih dan terawat akan senantiasa memberikan kenyamanan bagi siswa dalam proses belajar. Gedung sekolah yang berada di dua tempat yang berjauhan cenderung sukar dikelola. Pengawasan sukar dilaksanakan dengan efektif. Kepala sekolah harus bergilir waktu untuk mengunjungi sekolah binaannya yang berada di dua tempat tersebut. Guru yang akan mengajar kurang merasa tenang karena harus diburu-buru waktu pembagan jadwal mengajar sukar disusun karena penyusunannya jauh dekatnya sekolah yang harus dituju. Belum lagi untuk melayani keinginan guru tertentu yang hanya ingin mengajar pada kelas-kelas tertentu yang tidak ingin kesana kemari.

b) Ruang Kelas
Suatu sekolah yang kurang ruang kelas, sementara jumlah anak didik yang dimiliki dalam jumlah yang banyak melebihi daya tampung kelas, akan banyak menemukan masalah. Kegiatan pembelajaran berlangsung kurang kondusif. Penelolaan kelas kurang efektif. Konflik antara anak didik secara proporsional sering terabaikan. Pertimbangan materil yang menerima anak didik yang masuk dalam jumlah yang banyak, melebihi kapasitas kelas adalah kebijakan yang cenderung mengabaikan aspek kualitas pendidikan.
Secra ideal diharapkan ruang belajar itu memenuhi persyaratan yang mampu menunjang kegiatan belajar, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
• Ukuran Kelas
Mengenai bentuk dan ukuran kelas hendaknya disesuaikan dengan rancangan pengembangan intruksional yang sangat efektif untuk pembelajaran sehingga daya serap anak didik terhadap suara guru dapat mendengar dengan baik. Baik itu siswa yang duduk di depan maupun yang duduk di belakang. Dan ruang kelas hendaknya memungkinkan murid yang duduk paling belakang sekalipun untuk membaca tulisan di papan tulis dengan jelas mendengarkan suara guru dengan baik.
• Penerangan
Suatu tempat belajar yang baik bila memilik penerangan yang cukup, sehingga seseorang dapat membaca dengan kapasitas yang lebih besar dan kelelahan mata yang lebih kecil apabila memanfaatkan penerangan alamia. Karena cahaya matahari dapat masuk ruang-ruang kelas. Menurut E.P Hutabarat http://sobatbaru.blogspot.com/2008/10/ di akses tanggal 2 Juni 2010) saat mengatur penerangan tempat belajar hal yang perlu dipertimbangkan adalah menghindari kesilauan, cukup terang dan sumber penerangan haruslah diatas daerah pandangan kita.
• Sirkulasi Udara (Ventilasi)
Ventlasi disini adalah keadaan peredaran udara di dalam ruangan tempat kita belajar. Dengan adanya ventilasi maka sirkulasi udara yang kita hirup akan tetap bersih dan ruangan yang kita gunakan untuk belajar tidak terasa pengap tetapi sebaliknya kalau sirkulasi udara yang tidak nyaman, siswa dalam belajar mengalami kepengapan udara dan kejenuhan belajar. Untuk itu udara dalam kelas hendaknya dijaga agar tetap segar dan bersih, sehingga diperlukan lubang-lubang ventilasi yang cukup agar udara selalu bisa ditukar.
• Tempat Duduk dan Meja Tulis
Mengenai persyaratan meja tulis antara lain tidak tertutup seluruhnya pada permukaan meja hingga kelantai agar sirkulasi udara dibawah meja lancar sehingga kaki siswa tidak cepat gerah dan panas, permukaan meja hendaknya rata dan tidak mengkilap dan berwarna gelap, tinggi meja hendaknya disesuaikan dengan tinggi badan siswa dan meja belajar tidak terlalu keras.
Untuk meja belajar ada bermacam-macam, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan meja belajar yang khusus, ketika pelajaran berlangsung, peserta didik hendaknya mendapat situasi yang menyenangkan. Tempat duduk dan meja tulis mempunyai andil dalam penciptaan situasi kelas yang kondusif. Meja tulis dan tempat duduk yang terlalu rendah atau terlalu tinggi bagi peserta didik akan membuatnya sulit untuk menulis, hal ini sangat tidak menguntungkan bagi kesehatan peserta didik. Meja tulis dan tempat duduk hendaknya dibuat dalam bentuk yang luwes, agar peserta didik dapat duduk dengan leluasa.
Supaya tercipta suasana yang menggairahkan dalam belajar, perlu diperhatikan pengaturan ruang belajar, pengaturan dan penyusunan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru untuk bergerak dengan leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Sehingga peserta didik tidak merasa jenuh ketika berada di kelas. Karena mendapatkan suasana kelas yang benar-benar nyaman untuk belajar.

c) Laboratorium
Lengkap tidaknya fasilitas sekolah membuka peluang untuk guru untuk lebih kreatif mengajar. Guru dapat membimbing anak murid melakukan percobaan di laboratorium. Dengan adanya laboratorium disekolah siswa dapat aktif belajar dengan berbagai percobaan yang tidak hanya lewat kata-kata saja tetapi dapat dibuktikan secara langsung.

d) Perpustakaan
Kelengkapan buku-buku diperpustakaan sekolah ikut menentukan kualitas suatu sekolah. Perpustakaan sekolah adalah laboratorium ilmu. Tempat ini harus menjadi sahabat karib anak didik. Di sekolah, kapan dan dimana ada waktu luang anak didik harus datang kesana untuk membaca buku atau meminjam buku demi keberhasilan belajar.

e) Ruang BP
Bahwa seorang siswa yang belajar disekolah tidak bisa lepas dari suatu masalah. Siswa dapat menyelesaikan setiap permasalahan disekolah dengan berkomunikasi pada guru bimbingan konseling (BK). Dalam membicarakan permasalahan diperlukan ruangan yang nyaman dalam membicarakan permasalahan sehingga siswa dapat menceritakan masalah yang dihadapi tanpa canggung.

f) Buku-buku Pelajaran
Buku pegangan anak didik harus lengkap sebagai penunjang kegiatan belajar. Dengan pemilikan buku sendiri anak didik dapat membaca sendiri kapan dan dimanapun ada kesempatan. Pihak sekolah dapat membantu anak didik dengan meminjami anak sejumlah buku yang sesuai dengan kurikulum. Dengan pemberian fasilitas belajar tersebut diharapkan kegiatan belajar anak didik lebih bersemangat.

2.5 Hubungan Antara Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Dengan Hasil Belajar
Selama ini banyak bentuk dan model pembelajaran yang dirancang untuk memaksimalkan hasil belajar siswa. Dalam penerapan proses belajar mengajar, PAIKEM diyakini dan telah terbukti berdasarkan pengalaman memiliki dampak positif terhadap hasil belajar, kesan mendalam, dan daya tahan lama dalam memori peserta didik sehingga tidak mudah lupa terhadap ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya. Selain itu, dari sisi pendidik, penerapan PAIKEM dengan sendirinya akan ssemakin memotivasi pendidik sebagai manajer, fasilitator, motivator, inspirator dan transformator.

Untuk pelaksanaan PAIKEM diperlukan hal-hal yang terkait dengan proses pembelajaran, disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Rancangan tersebut dapat berupa metode pembelajaran yang beragam sehingga menjadikan kelas lebuh aktif dan efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa (2006:1991) bahwa guru harus menentukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi yang harus dicapai.
Dengan demikian PAIKEM sebagai strategi pembelajaran, dirancang untuk mengaktifkan siswa, menumbuhkan kreatifitas dan inovasi, menjadikan pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi.

2.6 Hubungan Antara Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar
Fasilitas belajar adalah semua kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik dalam rangka untuk memudahkan, melancarkan dan menunjang dalam kegiatan belajar baik yang ada dirumah maupun di sekolah. Supaya lebih efektif dan efisien yang nantinya peserta didik dapat belajar dengan maksimal dan hasil belajar yang memuaskan.

Kelengkapan fasilitas belajar yang dimiliki oleh siswa tentunya akan menjadikan siswa lebih semangat dan rajin dalam belajar. Hal ini selanjutnya akan berdampak pada semangat belajar siswa yang akan lebih baik. Apabila sebaliknya maka semangat dalam belajar akan berkurang.

Lengkapnya fasilitas yang dimiliki dan di dapatkan oleh siswa dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2000:37) bahwa fasilitas belajar merupakan bagian dari sarana belajar yang termasuk dalam variabel lingkungan. Oleh karena itu, ketersediaan fasilitas belajar ini dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.

Proses belajar mengajar diharapkan dapat bergairah dan dapat membantu anak didik dalam berprestasi dengan peran sekolah yang membantu anank didik, seperti menyediakan sejumlah buku yang sesuai dengan kurikulum di perpustakaan, menyediakan segala macam alat yang digunakan untuk praktikum, menyediakan media pembelajaran, menyediakan ruangan kelas yang sesuai dengan ketentuan kesehatan, dan sebagainya.

2.7 Hubungan Antara Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar dan Fasilitas Belajar dengan Hasil Belajar
Di dalam kegiatan belajar mengajar, guru mempunyai dampak yang besar dan tidak hanya pada prestasi pendidikan melainkan pada sikap anak terhadap sekolah dan terhadap belajar pada umumnya. Guru sebagai fasilitator hendaknya dapat memfasilitasi terwujudnya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) sehingga tercapainya hasil belajar siswa.
Model dan metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru agar materi pelajaran dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. Metode mengajar yang digunakan hendaknya metode yang dapat memotivasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun untuk tujuan agar siswa mampu berfikir dan mengemukakan pendapatnya sendiri dalam menghadapi masalah. Seorang guru yang mendorong otonom anak menggunakan pendekatan pemberi gagasan, saran dan bimbingan, tetapi tidak memberi jawaban dan petunjuk eksplesit dan hasilnya anak-anak menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sehingga tercapainya hasil belajar yang optimal.

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ekonomi adalah strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Dengan menerapkan Model PAIKEM akan dapat meningkat hasil belajar siswa. Pada metode ini siswa berusaha menemukan konsep dan pemahaman dengan sedikit bimbingan dari guru.

Menurut Suryabrata ( 1989 : 7 ) faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal tersebut meliputi lingkungan, baik lingkungan alami maupun lingkungan sosial, instrumental seperti kurikulum yang diberikan kepada siswa, sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah serta guru yang akan memberikan bahan atau materi pelajaran kepada siswa yang kesemuaannya itu akan mempengaruhi hasil belajar mereka.

Muhibbin Syah ( 1999 : 140 ) menambahkan bahwa “ disamping faktor-faktor eksternal dan internal siswa, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut”. Demikian halnya dengan fasilitas belajar, anak didik dapat belajar lebih baik dan menyenagkan bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajar anak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa penerapan model PAKEM dipandang tepat untuk diterapkan pada pembelajaran Ekonomi. Dengan model PAIKEM ini siswa akan lebih terbuka, berfikir kritis jika ia mengalami masalah yang tidak dapat dipecahkannya. Terciptanya iklim belajar di mana siswa lebih terbuka dengan permasalahan yang dihadapinya, dan belajar lebih bermakna akan menpercepat dan meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang dipelajarinya. Sehingga, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Di samping nuansa PAIKEM guru sekolah perlu menyediakan fasilitas belajar yang dapat menunjang terlaksananya proses pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Fasilitas tersebut dapat berupa prasarana yang menunjang dan dapat membantu peserta didik untuk menemukan berbagai pengetahuan yang dibutuhkan serta mendorong peserta didik untuk aktif melibatkan diri dalam proses pembelajaran.

2.8 Kerangka Berpikir
Hakikat hasil belajar adalah hasil interaksi antara faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah nuansa paikem guru dalam proses belajar mengajar. Secara garis besar yang menjadi inidikator dari faktor nuansa paikem guru adalah cara guru dalam merencanakan proses belajar mengajar (PBM), cara guru dalam pelaksanaan PBM, dan cara guru dalam mengevaluasi PBM

Di samping faktor nuansa paikem guru dalam proses belajar mengajar, fasilitas belajar juga berpengaruh terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas II jurusan IPS SMA Negeri 1 Muaro Jambi. Dengan adanya fasilitas belajar yang memadai akan menunjang proses belajar mengajar yang nantinya akan meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun yang menjadi indikator dari fasilitas belajar adalah tempat atau ruang belajar, penerangan, buku-buku pegangan, dan kelengkapan peralatan/media belajar

Hubungan Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Dan Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi BAB II

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Contoh Skripsi Dampak Pola Kemitraan Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Kesejahteraan Masyarakat BAB II
  2. Contoh Proposal Skripsi Pendidikan
  3. Upaya Menyiapkan Siswa Berkualitas Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler
  4. Perbandingan Antara Latihan Menggunakan Media Trampolin Dengan Latihan Media Matras Busa
  5. Hubungan Motivasi Belajar dan Gaya Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi Siswa
  6. Pengaruh Strategi Permainan Scramble | Susunan Kata| Terhadap Hasil Belajar Siswa (BAB II)
  7. Hubungan Kecerdasan Ganda Dan Sikap Terhadap Hasil Belajar BAB II
  8. Penerapan Media Realia Dalam Meningkatkan Pemahaman Materi Bilangan Pecahan
  9. Pengaruh Variasi Latihan Lompat Gawang Dan Lari Sprint 50 Meter Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Menggantung
  10. Pelaksanaan RKL dan RPL PKS PT. Asiatic Persada Dalam Pengolahan Limbah Cair BAB II