Hubungan  Kecerdasan Ganda Dan Sikap  Terhadap Hasil Belajar

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.Hakekat Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Perubahan perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman. Dari pengalaman yang satu ke pengalaman yang lain akan menyebabkan proses perubahan. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri.
“Belajar tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita” (Hamalik, 2002:45). Dengan demikian seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.

2.1.1 Ciri-ciri Belajar
Hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku sehingga menurut Slameto (2003:3-4) belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4. Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Menurut aliran Humanis bahwa setiap orang menentukan sendiri tingkah lakunya. Orang bebas memilih sesuai dengan kebutuhannya. Tidak terikat pada lingkungan. Hal ini sesuai dengan Wasty Sumanto yang dikutip dari Darsono (2000:18) bahwa tujuan pendidikan adalah membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri masing-masing.
Menurut pandangan dan teori Konstruktivisme (Sardiman, 2006:37) belajar merupakan proses aktif dari si subyek belajar untuk merekonstruksi makna, sesuatu entah tes, kegiatan dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan dengan pengalaman atau bagian yang dipelajarinya dari pengertian yang dimiliki sehingga pengertiannya menjadi berkembang.
Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa ciri atau prinsip dalam belajar menurut Paul Suparno seperti dikutip oleh Sardiman (2006: 38) yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Belajar mencari makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami.
2. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan tetapi perkembangan itu sendiri.
4. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subyek belajar dengan dunia fisik dengan lingkungannya.
5. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek belajar, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang telah dipelajari.
Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka proses mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa merekonstruksi sendiri pengetahuannya dan menggunakan pengetahuan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru sangat dibutuhkan untuk membantu belajar siswa sebagai perwujudan perannya sebagai mediator dan fasilitator.

2.1.2 Prinsip-prinsip Belajar
Untuk melengkapi berbagai pengertian dan makna belajar, perlu dikemukakan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan belajar. Menurut Slameto (2003:27-28) seorang guru atau calon guru perlu mengetahui prinsip-prinsip belajar yaitu prinsip-prinsip belajar yang harus dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan oleh setiap siswa secara individual. Beberapa prinsip belajar yang perlu diketahui antara lain:
1. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
a. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
b. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
c. Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
d. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
2. Sesuai hakikat belajar
a. Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
b. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
c. Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan.
3. Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari
a. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
b. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai.
4. Syarat keberhasilan belajar
a. Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
b. Repetisi, dalam belajar mengajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa.

2.2 Pengertian Hasil Belajar
“Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik, maupun sikap” (Darsono, 2000:64). Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar mengajar harus berjalan secara efektif agar mampu mempengaruhi hasil belajar siswa.
Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan tampak pada diri siswa yang merupakan akibat dari proses belajar yang dialaminya. Setelah siswa mengalami proses belajar tertentu pada akhirnya akan diperoleh hasil belajar. Adapun hasil belajar yang diharapkan tersebut adalah hasil belajar yang baik. Karena pembelajaran dikatakan berhasil apabila perubahan tampak pada diri siswa akibat dari proses belajar yang dialaminya. Siswa baru dikatakan berhasil kalau sekurang-kurangnya sudah menguasai tingkat penguasaan minimum dari mata pelajaran (Prayitno, 2001:5).
Menurut Hamalik (2003:155) hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, tingkah laku, sikap, keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan bahwa terjadinya perubahan pada diri seseorang dalam peningkatan dan pengembangan kearah yang lebih baik lagi.
Menurut Mulyasa (2008:94) bahwa hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang dan penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik (Sukmadinata dan Syaodih, 2007: 5-6).
Menurut Purwanto (2001:31) hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa mengikuti unit pelajaran tertentu. Hasil belajar (prestasi belajar) siswa diharapkan adalah kemampuan yang utuh yang mencakup kemampuan kognitif, kemampuan psikomotor, dan kemampuan afektif atau perilaku (Depdiknas, 2003:3). Pendapat Muhibbin (2003:213) pengungkapan hasil belajar idealnya meliputi segenap ranah psikologis yang berubah akibat dari pengalaman dan proses belajar. Penilaian hasil belajar adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dan sekaligus menunjukkan daya serap siswa terhadap kurikulum siswa yang digunakan.
Djamarah (1997:22) mengemukakan hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada individu sebagai hasil dari aktivitas belajar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka dan huruf. Lebih lanjut, Surya (2004:64) menyatakan bahwa hasil belajar siswa ini biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Tidak berbeda dengan Sudjana (1998:45) yang menyatakan bahwa keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tersebut diwujudkan dengan nilai. Jadi, setiap keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tersebut diwujudkan dengan nilai. Jadi, setiap keberhasilan belajar diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang diperoleh siswa.
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti mendefenisikan hasil belajar adalah keseluruhan perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa pada mata pelajaran tertentu setelah mengalami proses belajar di sekolah dan dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf.
.
2.2.1 Fakto-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu factor dari dalam diri siswa (variabel intern) dan factor dari luar diri siswa (variabel ekstern). Keduanya saling berinteraksi tanpa adanya variabel intern (berupa motivasi, pengetahuan yang dimiliki) variabel ekstern tak dapat bekerja, demikian pula variabel intern tidak dapat berkembang tanpa stimulus dari luar, Gagne (dalam Nasution, 2005: 62). Dalam hal ini factor yang datang dari siswa itu sendiri adalah kemampuan yang telah dimilikinya, dimana factor kemampuan itu sangat besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor yang dimiliki siswa juga ada factor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebebasan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik, psikis. Sedangkan factor dari luar diri siswa adalah kualitas pengajaran. Menurut Nasution (1992:97)terdapat sejumlah faktor dalam diri seseorang yang mempengaruhi kemampuan individu untuk belajar yakni faktor efektif (emosional), motivasi, faktor kematangan usia, jenis kelamin dan latar belakang social, kebiasaan belajar dan ingatan atau daya ingat, disamping faktor kognitif seperti intelegensi (tingkat pemahaman) dan kreativitas, sedang Ngalim (2006:107) membagi faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor dari dalam (lingkungan , instrumental) dan faktor dari luar (fisiologis, psikologi).
Selain itu factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar agar tercapai penguasaan penuh menurut Nasution (1982: 49) adalah (1) bakat untuk mempelajari sesuatu, (2) mutu pelajaran, (3) kesanggupan untuk memahami pelajaran, (4) ketekunan dan berkaitan dengan sikap dan minat terhadap pelajaran, (5) waktu yang tersedia. Dari factor-faktor tersebut yang menentukan adalah factor yang berasal dari siswa itu sendiri terhadap apa yang ada pada dirinya dan itu berhubungan dengan sikap siswa terhadap apa yang ada pada dirinya dan itu behubungan dengan sikap siswa terhadap pengajaran yang diberikan guru baik dalam hal materi pelajaran, cara guru mengajar, tujuan pembelajaran dan guru itu sendiri.
Selanjutnya menurut Dimyati (1996:97) factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah factor dari siswa yang meliputi (kemampuan, intelegensi, motivasi, perasaan, sikap, minat, keadaan social ekonomi, keadaan psikis dan fisik) dan factor guru. Bila dilihat maka akan mendapatkan bahwa sikap merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar. Sikap positif terhadap sesuatu merupakan dorongan yang besar untuk mencapai prestasi yang baik. Jadi sikap positif dapat dilihat dari konsep diri yang dimiliki siswa itu sendiri dalam hal memahami apa yang ada pada dirinya baik itu pengetahuan dirinya , harapan yang ada pada dirinya dan bagaimana siswa itu menilai dirinya sendiri. Karena pengaruh factor-faktor tersebut, muncul-muncul siswa yang high achievers (berprestasi tinggi) dan under achievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini guru yang kompeten dan professional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi factor yang menghambat proses belajar mereka (Syah Muhibbin, 2003:145).
Hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu dari dalam diri siswa dan factor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan. Bagaiaman yang dikatakan oleh Slameto (2003:54) untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal banyak factor-faktor yang mempengaruhinya, akan tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu factor dari dalam individu yang belajar (factor internal) dan factor yang berasal dari luar individu yang belajar (factor eksternal).

2.2.1 Indikator Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrument tes yang relevan (http://pangandaraninfo.com/2010/04/01).
Menurut Irdawati (2006:10) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dan biasanya dinyatakan dalam bentuk angka dan huruf. Selanjutnya, hasil belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai setiap anak pada periode tertentu (http://pangandaraninfo.com/2010/04/01). Adapun Arikunto (2001:276) hasil belajar adlah hasil yang diperoleh siswa dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata:baik, sedang, kurang, dan sebagainya.
Bertolak dari pendapat di atas, indicator hasil belajar dalam penelitian iini adalah nilai ulangan harian dan penilaian sikap siswa kelas X SMAN 1 Muaro jambi pada mata pelajaran Ekonomi semester II tahun pelajaran 2010/2011. Adapun nilai ulangan harian tersebut merupakan hasil pengolahan tes yang diberikan/dibuat oleh guru Ekonomi yang mengajar di kelas X SMAN 1Muaro Jambi sehingga sudah dianggap valid dan reliabel.
2.3 Kecerdasan Ganda
2.3.1 Pengertian Kecerdasan Ganda
(kecerdasan) adalah istilah yang sulit untuk didefinisikan dan menimbulkan pemahaman yang berbeda-beda di antara para ilmuan. Dalam pengertian yang populer, kecerdasan sering didefinisikan sebagai kemampuan mental umum untuk belajar dan menerapkan pengetahuan dalam memanipulasi lingkungan, sertakemampuan untuk berpikir abstrak (Bainbridge, 2010). Definisi lain tentang kecerdasan mencakup kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru atau perubahan lingkungan saat ini, kemampuan untuk mengevaluasi dan menilai, kemampuan untuk memahami ide -ide yang kompleks, kemampuan untuk berpikir produktif, kemampuan untuk belajar dengan cepat dan belajar dari pengalaman dan bahkankemampuan untuk memahami hubungan. Kecerdasan juga dipahami sebagai tingkatkinerja sua tu sistem untuk mencapai tujuan. Suatu sistem dengan kecerdasan lebih besar, dalam situasi yang sama, lebih sering mencapai tujuannya. Cara lain untuk mendefinisikan dan mengukur kecerdasan bisa dengan perbandingan kecepatan relatif untuk mencapai tujuan dalam situasi yang sama( Fritz, 2010).
Sebagian lain mengatakan bahwa inteligence is a mental adaptation to new circumstances (Kecerdasan adalah adaptasi mental pada keadaan baru). Terdapat juga pandangan yang lebih spesifik dengan mengatakan bahwa kecerdasan itu lebih merupakan insting dan kebiasaan yang turun -temurun atau adaptasi yang diperoleh untuk mengulangikeadaan; yang dimulai dengan trial and error secaraempiris.Bagi yang tidak sependapat dengankedua pandangan tersebut menanggapi bahwa definisi ini masih terlalu luas termasuk yang disebut keadaan mental dalam definisi pertama perlu dibagi ke dalam strukturmental, yakni insting, training, dan kecerdasan. Dengan demikian, pandangan ini menyimpulkan bahwa kecerdasan hanya muncul dalam tindakan atas dasar pemahaman yang mendalam, sedangkan trial and error adalah salah satu bentuk dari training (latihan). Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa kecerdasan itu muncul dari hasil bentukan kebiasaan yang paling sederhana ketika beradaptasi dengan keadaan yang baru. Juga,harus diterima bahwa permasalahan, hipotesis, dan kontrol yang merupakan embrio adanya keinginan untuk melakukan trial and error serta karakteristik pengujian empiris dari adaptasi sensorimotorik yang dikembangkan merupakan penanda kuat adanya kecerdasan(Piaget, 2002)
Multiple intelligence atau dalam tulisan ini disebut dengan kecerdasan ganda adalah berbagai keterampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam pembelajaran (Fleetham, 2006). Gardner menemukan delapan macam kecerdasan jamak, yakni(1)kecerdasan verbal/ linguistik, (2) logika matematik, (3)visual/ spatial, (4) music/rhythmic, (5) bodily/kinestetik, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan(8) naturalistic.
Kecerdasan ganda Gardner (dalam Asri Budiningsih 2004), merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang.kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.
Goldman (dalam Erman, 2004) mengemukakan bahwa, struktur otak sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Sel saraf otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, abstrak, dan simbolik yang berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20%. Otak kanan berkenaan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistik, emosi, kesadaran, spasial, musik-puisi, keindahan-keburukan, dan kreativitas yang berkontribusi untuk sukses individu sebesar 40%. Ary Ginanjar (2005) mengemukakan bahwa ada kecerdasan ketiga yaitu kecerdasan spiritual (SQ, Spiritual Quotient) yang juga akan berkontribusi terhadap sukses individu, sehingga tidak cukup seorang individu hanya dengan IQ dan EQ, melainkan akan lebih sempurna jika ketiganya, yaitu IESQ.
Goldman (dalam Erman, 2004) mengemukakan bahwa struktur otak sebagai instrumen kecerdasan akan bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan terlalu tinggi-kompleks, bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain, misalnya dengan kenakalan dan lamunan. Sebaliknya bila kerja otak tinggi karena tuntutan banyak akan menimbulkan kecemasan, yang bisa dinetralisir (relaksasi) dengan penciptaan suasana kondusif, nyaman dan menyenangkan.
Gardner (dalam Erman, 2004) mengemukakan tentang kecerdasan lain, yaitu kecerdasan ganda (tuple) dalam akronim Slim n Bill, yaitu: Spasial-verbal, berpikir dengan ruang dan gambar; Linguistik-verbal, berpikir dengan kalimat-berbahasa; Interpesonal, berpikir dengan berkomunikasi; Musikal-ritmik, berpikir dalam musik dan ritmik; Natural, berpikir berbasis kontekstual-realistik; Body-kinestik, berpikir dengan mengalami-melakukan; Intrapersonal, metakognitif – berpikir reflektf; Logis, berpikir dengan bernalar.
Pada intinya gardner menyatakan bahwa tidak ada satupun kegiatan manusia yang mengunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan ini saling bekerjasama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduan tentu saja berbeda – beda pada masing – masing orang dan pada masing – masing budaya. Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan di tingkatkan. Kecerdasan – kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah. Kecerdasan – kecerdasan tersebut diantaranya :
1. kecerdasan bahasa.
2. kecerdasan logika.
3. kecerdasan visual
4. kecerdasan tubuh
5. kecerdasan musical
6. kecerdasan interpersonal.
7. kecerdasan intrapersonal.
8. kecerdasan naturalis.
9. kecerdasan spiritual.
10. kecerdasan eksistensial.

2.3.2 Jenis kecerdasan ganda
Howard Gardner (1983) mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki delapan jenis kecerdasan dasar yaitu : Kecerdasan bahasa, Kecerdasan matematis logis, Kecerdasan spasial, Kecerdasan kinestetis jasmani, Kecerdasan musical, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.

1. Kecerdasan Linguistik/verbal
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa-bahasa termasuk bahasa ibu dan mungkin bahasa-bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain (Baum, Viens, dan Slatin, 2005). Kecerdasan linguistik disebut juga kecerdasan verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis,serta kemampuan
untuk menguasai bahasa asing(McKenzie, 2005).
Seorang anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi akan mampu menceritakan cerita dan adegan lelucon, menulis lebih baik dari rata -rata anak yang lain yang memiliki usia yang sama, mempunyai memori tentang nama, tempat, tanggal, dan informasi lain lebih baik dari anak pada umumnya, senang terhadap permainankata, menyukai baca buku, menghargai sajak, dan permainankata -kata, suka mendengar cerita tanpa melihat buku, mengkomunikasikan, pikiran, perasaan, dan ide-ide dengan baik, mendengarkan dan meresponi bunyi -bunyi, irama, warna, berbagaikata-kata lisan Lane, 2009).
Di samping itu, anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang lebih dari pada anak lainnya suka meniru bunyi-bunyi, bahasa, membaca dan menulis, belajar dengan mendengar, membaca, menulis dan berdiskusi, mendengarkan secara efektif,memahami,meringkas,menginterpretasi dan menjelaskan, dan mengingat apa yang telah dibaca, selalu berusaha untuk meningkatkan penggunaan bahasa, menciptakan bentuk-bentuk bahasa yang baru, bekerja dengan menulis atau menyukaikomunikasi lisan Cheung(2009).
Mereka juga suka mengajukan banyak pertanyaan, suka bicara, memiliki banyak kosa kata,sukamembaca dan menulis,memahami fungsi bahasa, dapat berbicara tentang keterampilan bahasa. Oleh karena itu, karir yang sesuai dengan orang yang memiliki kecerdasan verbal yang tinggi adalah penyair, wartawan(Jurnalis), Ilmuwan, novelis, pemain komedi, pengacara, penceramah, pelatih, guide, guru, dan lain-lain.
2. Kecerdasan Matematika.
Kecerdasan matematika adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kecerdasan ini merujuk pada kemampuan untuk mengekplorasi pola-pola, kategori-kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau simbol untuk melakukan percobaan den gan cara yang terkontrol dan teratur (Kezar, 2001).
Kecerdasan matematika disebut juga kecerdasan logika dan penalaran karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prisip yang mendasari system kausal atau dapat memanipulasi bilangan kuantitas dan operasi .
Anak-anak yang memiliki kecerdasan logika matematika yang tinggi sangat menyukai bermain dengan bilangan dan menghitung, suka untuk diatur, baik dalam
problem solving,mengenal pola-pola, menyukai permainan matematika, suka melakukan percobaan dengan cara yang logis, sangat teratur dalam tulis tangan, mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak, suka komputer, suka teka-teki, selalu ingin mengetahui bagaimana sesuatu it u berjalan, terarah dalam melakukan
kegiatan yang berdasarkan aturan, tertarik pada pernyataan logis,suka mengumpulkan dan mengklasifikasi sesuatu, suka menyelesaikan berbagai persoalan yang membutuhkan penyelesaian yang logis, merasa lebih nyaman ketika sesuatu telah diukur, dibuat kategori, dianalisis, atau dihitung dan dijumlahkan, berpikir dengan konsep yang jelas, abstrak, tanpa kata -kata dan gambar.
Penguatan dan pengembangan yang terarah terhadap kecerdasan matematika dapat mengarahkan karir seseorang menjadi guru matematika atau matematikawan ekonomi yang memiliki kemampuan yang baik, ilmuan, insinyur, arsitek, programer komputer, pekerja konstruksi, analis anggaran, akuntan, perajut, dan lain -lain.
3. Kecerdasan Visual.
Kecerdasan Visual/Spasial Kecerdasan visual-spasial merupakan kecerdasan yang dikaitkan dengan bakat seni khususnya seni lukis dan seni arsitektur. Kecerdasan Visual-Spasial atau kecerdasan gambar atau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai kemampuan mempresepsi dunia visual -spasial secara akurat serta menstran formasikan persepsi visual-spasial tersebut dalam berbagai bentuk. Kemampuan berpikir visual-spasial merupakan kemampuan berpikir dalam bentuk visualisasi, gambar dan bentuk tiga dimensi (Sonawatand Gogri,2008) kecerdasan visual diantranya Senang mencoret-coret, menggambar, melukis dan membuat patung, Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya, Kaya akan khayalan, imaginasi dan kreatif,Menyukai poster, gambar, film dan presentasi visual lainnya,Pandai main puzzle, mazes dan tugas-lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi, Belajar dengan mengamati, melihat, mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna, Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat
4. Kecerdasan Bodily/Kinestetik.

Kecerdasan bodily-kinestetik adalahkemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu. Kecerdasan ini mencakup keterampilan khusus seperti, koordinasi, keseimbangan, ketangkas an, kekuatan, fleksibelitas dan kecapatan. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan untuk mengontrol gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan untuk memanipulasi objek (Sonawat and Gogri,2008) .
5. Kecerdasan musical
Kecerdasan musik adalah kapasitas berpikir dalam musik untuk mampu mendengarkan pola-pola dan mengenal serta mungkin memanipulasinya. Orang yang mempunyai kecerdasan musik yang kuat tidak saja mengingat musik dengan mudah, mereka tidak dapat keluar dari pemikiran musik dan selalu hadir dimana – mana. Kecerdasan musikal didefinisikan sebagai kemampuan menangani bentuk musik yang meliputi (1)kemampuan mempersepsi bentuk musikal seperti menangkap atau menikmati musik dan bunyi-bunyi berpola nada, (2) kemampuan membedakan bentuk musik, seperti membedakan dan membandingkan ciri bunyi musik, suara dan alat musik, (3) Kemampuan mengubah bentuk musik, seperti mencipta dan memversikan musik, dan (4)kemampuan mengekspresikan bentuk musik seperti bernyanyi, bersenandung dan bersiul –siaul (Snyder, 1997). Hal ini berarti, kecerdasan musikal meliputi kemampuan mempersepsi dan memahami, mencipta dan menyanyikan bentuk-bentuk musikal. Para ahli mengakui bahwa musik merangsang aktivitas kognitif dalam otak dan mendorong kecerdasan.

6. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan Intrapersonal dapat didefinisikan sebagai kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Komponen inti dari Kecerdasan Intrapersonal kemampuan memahami diri yang akurat meliputi kekuatan dan keterbatasan diri, kecerdasan akan suasana hati,maksud, motivasi, temperamen dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kemampuan menghargai diri juga berarti mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat dan ingin dilakukan, bagaimana reaksi diri terhadap situasi tertentu, dan menyikapinya, serta kemampuan mengarahkan dan mengintrospeksi diri. Kecerdasan Intrapersonal merupakan kecerdasan dunia batin, kecerdasan yang bersumber pada pemahaman diri secara menyeluruh guna menghadapi, merencanakan, dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Individu yang cerdas dalam intrapersonal memiliki beberapa indikator kecerdasan yaitu: (1) Secacara teratur meluangkan waktu sendiri untuk bermeditasi, merenung dan memikirkan berbagai masalah,(2) Pernah atau sering menghadiri acara konseling atau seminar perkembangan kepribadian untuk lebih memahami diri sendiri, (3) mampu menghadapi kemunduran, kegagalan, hambatan dengan tabah, (4) memiliki hobi atau minat dan kesenangan yang disimpan untuk diri.(5) Memiliki tujuan-tujuan yang penting untuk hidup, yang dipikirkan secara kontinu, (3) memiliki pandangan yang realistis mengenai kekuatan dan kelemahan diri yang diproleh dari umpan balik sumber -sumber lain, (7) lebih memilih menghabiskan akhir pekan sendiri di tempat-tempat pribadi dan jauh dari keramaian, (8) menganggap dirinya orang yang berkeinginan kuat dan berpikiran mandiri(9) memiliki buku harian untuk mengekspresikan perasaan, emosi diri dan menuliskan pengalaman pribadi, (10) memiliki keinginan untukberusaha sendiri,berwiraswasta (Sonawat and Gogri, 2008).
Kecerdasan interpersonal merujuk pada pemahaman terhadap diri sendiri dalam menentukan minat dan tujuan ketika melakukan perbuatan. Di samping memiliki ciri positif seperti telah disebutkan di atas, anak yang memiliki kecerdasan interpersonal yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak itu malu atau minder dan cenderung menghindarkan diri dari pergaulan bersama orang lain. Mereka selaras dengan perasaan batin mereka, mereka mempunyai kebijaksanaan, intuisi dan motivasi, serta kemauan yang kuat, keyakinan dan pendapat. Mereka dapat diajarkan melalui studi independen dan introspeksi. Sedangkan peralatan yang biasa digunakan termasuk buku, bahan-bahankreatif, buku harian, dan buku privasi. Anak yang lebih menonjol kecerdasan intrapersonalnya dapat berkembang menjadi ahli terapi, penyair, motivator, psikolog,filosof, pemimpin spiritual, dan semacamnya jika mendapat bimbingan dan pendidikan yang layak.
7. Kecerdasan Interpersonal.
Komponen inti Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan mencerna dan menanggapi dengan tepat berbagai suasana hati, maksud, motivasi, perasaan dan keinginan orang lain di samping kemampuan untukmelakukan kerja sama. Sedangkaan, komponen lainnya adalah kepekaan dan kemampuan menangkap perbedaan yang sangat halus terhadap maksud, motivasi, suasana hati, perasaan dan gagasan orang lain. Mereka yang mempunyai kecerdasan Interpersonal sangat memperhatikan orang lain, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ekspresi wajah, suara dan gerak isyarat.
Dengan kata lain, Kecerdasan Interpersonal melibatkan banyak kecakapan, yaknikemampuan berempati pada orang lain, kemampuan mengorganisasi sekelompok orang menuju sesuatu tujuan bersama, kemampuan mengenali dan membaca pikiran orang lain, kemampuan berteman atau menjalin kontak. Anak-anak yang berkembang pada Kecerdasan Interpersonal peka terhadap kebutuhan orang lain. Apa yang dimaksud,dirasakan,direncanakan dan diimpikan orang lain dapat ditangkap melalui pengamatannya terhadap kata -kata, gerik-gerik, gaya bahasa, dan sikap orang lain. Mereka akan bertanya memberi perhatian yang dibutuhkan. Kemampuan untuk dapat merasakan perasaan orang lain, mengakibatkan anak yang berkembang dalam Kecerdasan Interpersonal mudah mendamaikan komflik. Kepekaan ini juga menghantarkan mereka menjadi pemimpin di antara sebayanya.Bahkan anak yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik dapat memahami keadaan jiwa, keinginan, dan perasaan yang dialami orang lainketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dengan demikian, membangun hubungan baik dengan pihak lain akan dapat dilakukan dengan mudah sehingga mampu menciptakan suasana kehidupan yang nyaman tanpa ada kendala yang berarti walau hidup di lingkungan yang memiliki agama, suku, ras dan bahasa yang berbeda. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal yang sesuai untuk menjadi pendidik seperti guru atau dosen,konsultan, organisatoris, diplomat, peneliti dan ilmuan sosial, aktivis, pemimpin agama, negosiaor, mediator, dan semacamnya.
8. Kecerdasan Naturalis.
Kecerdasan Naturalis Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dalam melakukan kategorisasi dan membuat hierarki terhadap keadaan organisma seperti tumbuh -tumbuhan, binatang, dan alam. Salah satu satu ciri yang ada pada anak -anak yang kuat dalam kecerdasan naturalis adalah kesenangan mereka pada alam,binatang , misalnya akan berani mendekati, memegang, mengelus, bahkan memiliki naluri untuk memelihara. Kecerdasan Naturalis didefinisikan sebagai keahlian mengenali dan mengatagori spesies, baik flora maupun fauna, di lingkungan sekitar, dan kemampuannya mengolah dan memanfaatkan alam,serta melestarikannya.
Komponen inti kecerdasan naturalis adalah kepekaan terhadap alam dan lingkungan (flora, fauna, formasi awan,gunung -gunung), keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenalie ksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secaraformal maupun informal. Memelihara alam dan bahkan menjadi bagian dari alam itu sendiri seperti mengunjungi tempat -tempat yang banyak dihuni binatang, dan mampu mengetahui hubungan antara lingkungan dan alam merupakan suatu kecerdasan yang tinggi mengingat tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah(Bowles, 2008).

2.3.3 Indikator kecerdasan ganda
Apabila ingin mengetahui arah kecerdasan siswa di kelas yang dalam hal ini berkaitan dengan pembelajaran ekonomi. Dapat diketahui melalui indikator – indikator tertentu. Misalnya apa yang dikerjakan siswa ketika mereka mempuyai jam kosong. Setiap guru dapat mengunakan catatan – catatan kecil praktis yang dapat digunakan untuk memantau kecendrungan perkembangan kecerdasaan siswa tersebut. Selain checklist dapat juga instrument berupa photo , rekaman lain yang berkaitan dengan aktivitas siswa.
Kegiatan – kegiatan yang dapat membangkitkan kecerdasan ganda dalam pembelajaran ekonomi contohnya dengan menyediakan hari – hari karir, studi tour, pembelajaran terprogram, kegiatan kegiatan ekstperimen. Contohnya dalam pengembangan kecerdasan ganda guru mengajak siswa setidaknya studi banding kemudian seperti eksperimen seperti melihat seperti apa kegiatan suatu transaksi di pasar guru bisa mengajak siswa langsung melihat ke lokasi seperti pasar, dan seandaniya siswa selama ini tau pendapatan Negara dan daerah di buku guru bisa menugaskan mereka melihat sendiri ke badan penelitian dsb. Pada intinya kecerdasan ganda membiasakan mereka berfikir kreatif.
Teori kecerdasan ganda juga mengatakan bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok diterapkan pada semua sisiwa secara obtimal . kemudian dalam pengukuran kecerdasan lebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan prose pemecahan masalah.
Kemudian ada suatu alternatif dalam rangka pengembangan kecerdasan ganda siswa dikelas, yaitu dengan memberdayakan siswa itu sendiri. Dengan cara siswa dirusuh menilai antar teman mereka kecerdasan – kecerdasan apa yang mereka masing – masing miliki dan juga dalam perkembanngannya guru juga bisa mengunakan teknik tutor sebaya. Caranya guru menyeleksi siapakah yang siapakah yang memiliki keunggulan dalam bidang masing – masing misalnya dalam bidang ekonomi yaitu akutansi mereka diminta untuk membantu teman – teman mereka yang tidak bisa di akutansi dsb saling menutupi kekuragan masing – masing
Kecerdasan ganda merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang.kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.untuk mengetahui kecerdasan yang dimiliki ada beberapa indikator yang bisa melihat dimana letak keunggulannya dan seberapa besar pengaruhnya terhadap hasil belajarnya Kecerdasan ganda adalah suatu kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi. Termasuk kedalam bagaimana seorang siswa mampu melihat bakat dan spesialisasi yang mereka miliki.
Indicator kecerdasan ganda diantaranya (1) kecerdasan verbal memilki 2 indikator (i) Mempunyai kemampuan berkomunikasi baik, (ii) Dapat membaca dan menuliskan dan menghafalkannya, (2) kecerdasan logika matematis memiliki 1 indikator (i) Mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat. (3) Kecerdasan visual ruang terdiri atas 1 indikator (i)Dapat menciptakan suasana belajar sendiri. (4) kecerdasan musical terdiri dari 1 indikator (i) Mampu menetralisir kondisi belajar dengan music. (5) kecerdasan intrapersonal memiliki 2 indikator (i)Mampu bekerja mandiri, mengembangkan kemampuan belajar. (ii) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini (6) kecerdasan interpersonal terdiri atas 3 indikator (i) Mampu bekerja sama.(ii).Mampu menyesuaikan. (iii) memahami. (7) kecerdasan kinestetik terdiri dari 1 indikator (i) berminat akan segala sesuatu. (8) kecerdasan naturalis terdiri atas 1 indikator (i) Mengamati.
Para pakar kecerdasan sebelum garner cendrung memberikan tekanan terhadap kecerdasan yang hanya terbatas pada aspek kognitif saja. Sehingga manusia telah terduksi menjadi sekedar komponen kognitif, garner melakukan hal yang berbeda, ia memandang manusia tidak hanya memandang manusia tidak hanya sekedar koponen koognitif saja , namun suatu keseluruhan.melalui strategi kecerdasan ganda (multiple intelligences) ia berusaha menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang kecerdasan intelegensi. Tidak ada manusia yang sangat cerdas yang ada adalah ada manusia yang tinggi disalah satu kecerdasan yang dimilikinya. Mungkin seseorang memliki kecerdasan tinggi untuk kecerdasan logika – yang berkaitan dengan hitung – hitunggan mungkin untuk kecerdasan musik, dan interpersonal tidak. Dsb.
Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi strategi kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.
Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi strategi kecerdasan ganda. Agar implementasi strategi kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :
• Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
• Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.
Sesuai dengan pengertian kecerdasan ganda yang penulis paparkan diatas penulis melihat ada pengaruh yang kuat antara kecerdasan ganda dengan hasil belajar karna kecerdasa ganda merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ jadi bisa dilihat bahwa. Kemudian dilihat dari indicator – indicator diatas bahwa hasil belajar sangat dipengaruhi oleh kecerdasan – kecerdasan yang mereka miliki.

2.4 Sikap belajar
2.4.1 Pengertian Sikap Belajar.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999).
Menurut Trow dalam ( Djaali, 2002 : 144 ) “ Sikap adalah suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat “. Menurut Allport dalam ( Djaali, 2002: 114 )” Sikap adalah suatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada responden individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu. Thurstone dalam ( Safar, 2004 : 46 ) “ Sikap adalah afeksi untuk atau melawan, Penilaian tentang, suka atau tidak suka akan, Tanggapan positif ? negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap belajar ikut menentukan intesitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan kegiatan yang lebih tinggi dibanding dengan sikap yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan apa yang dilihat seseorang melainkan bagaimana ia melihatnya. Segi efektif dalam sikap merupakan sumber motif.
Sikap belajar yang positif dapat disamakan dengan minat, sedangkan minat mempelancar jalannya pelajaran siswa yang malas, tidak mau belajar dan gagal dalam belajar, disebabkan oleh tidak adanya minat. Sikap belajar yang positif berkaitan erat dengan minat dan motivasi. Oleh karena itu, apabila faktor lainnya sama, siswa yang sikap belajarnya positif akan belajar lebih aktif dan demikian akan memperoleh hasil yang lebih baik di bandingkan dengan siswa yang sikap belajarnya negatif. ( Djaali,2002: 114 – 115 ).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah tanggapan atau perwujudan prilaku belajar siswa yang ditandai dengan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya ekonomi, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran ekonomi dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.

2.4.2 Konsep Sikap Belajar
Brown dan Holtman dalam ( Djaali, 2002 : 115 ) mengembangkan konsep sikap belajar melalui dua komponen yaitu Teacher Approval ( TA ) dan education Acceptance ( EA ). TA berhubungan dengan pandangan siswa terhadap guru – guru
antara lain tingkah laku guru dikelas dan cara mengajar. Adapun EA terdiri atas penerimaan dan penolakan siswa terhadap tujuan yang akan di capai, materi yang di
sajikan, peraktek, tugas dan persyaratan yang telah ditetapkan disekolah. Sikap belajar penting didasarkan atas peran guru sebagai leader dalam proses belajar mengajar. Gaya mengajar yang di terapkan guru dalam kelas berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Dalam hubungan ini Nasution dalam ( Djaali, 2002 : 116 ) menyatakan bahwa hubungan tidak baik dengan guru dapat menghalangi prestasi belajar yang tinggi. Sikap belajar bukan saja sikap yang ditujukan kepada
guru, melainkan juga kepada tujuan yang akan dicapai, materi pelajaran, tugas dan
lain – lain.

2.4.3 Indikator Sikap Belajar.
Eagly & Chaiken (1993) mengemukakan bahwa sikap dapat diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap objek sikap, yang diekspresikan kedalam proses-proses kognitif, afektif, dan perilaku. Sebagai hasil evaluasi, sikap yang disimpulkan dari berbagai pengamatan terhadap objek diekspresikan dalam bentuk respon kognitif, afektif (emosi), maupun perilaku (Katz & Stoland, 1959; Triandis, 1971). Respon evaluatif dalam bentuk kognitif meliputi beliefs yang dimiliki individu terhadap objek sikap dengan berbagai atributnya (Fishbein & Ajzen, 1975). Individu yang memiliki evaluasi negatif terhadap Rokok , berpendapat bahwa rokok berbahaya bagi kehidupan manusia. Sebaliknya evaluasi positif rokok akan menyebabkan individu berpendapat bahwa rokok menghasilkan keuntungan bagi Negara dalam hal meningkatnya pendatan nasional dari sector perdagangan.
Sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang dipelajari dari seorang individu untuk merespon secara positif atau negatif apa yang ia alamai dan ia rasakan dan sikap juga merupakan suatu kekuatan mentel dari seseorang untuk berbuat sesuatu dan meyakini apa yang ia lakukan adalah baik menurutnya.dan sikap belajar ada beberapa indicator yang penulis ambil diantranya. (1) Sikap belajar yang positif terdiri dari 3 indikator (i) Mengikuti pelajaran (ii)Perasaan suka terhadap pelajaran.(iii) Merespon positif.(2) sikap belajar negative terdiri dari 3 indikator (i) Menentang. (ii) Tidak suka(iii) Tidak merespon.

2.4.4 Sikap Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi
Seperti telah diuraikan di atas, tujuan pendidikan Ekonomi antara lain adalah penekanannya pada pembentukan sikap siswa. Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran Ekonomi perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap Ekonomi. Hal ini penting mengingat sikap positif terhadap matematika berkorelasi positif dengan Hasil belajar Ekonomi.
Sikap merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak sesuatu, konsep, kumpulan ide, atau kelompok individu. Selain Matematika Ekonomi dapat diartikan sebagai suatu konsep atau ide abstrak yang membutuhkan penalaran, dan juga ada beberapa hal yang bersifat hitungan. Hal ini dapat disikapi oleh siswa secara berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau sebaliknya. Dengan demikian, sikap siswa terhadap Ekonomi adalah kecenderungan untuk menerima atau menolak ekonomi.
Siswa yang memiliki sikap positif terhadap Mata pelajaran Ekonomi memiliki ciri antara lain terlihat sungguh-sungguh dalam belajar Ekonomi, menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, berpartisipasi aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas-tugas pekerjaan rumah dengan tuntas, dan selesai pada waktunya.
Dengan demikian, untuk menumbuhkan sikap positif terhadap Ekonomi, perlu diperhatikan agar penyampaian Pembelajaran Ekonomi dapat menyenangkan, mudah dipahami, tidak menakutkan, dan tunjukkan bahwa Ekonom banyak kegunaannya. Oleh karena itu, materi harus dipilih dan disesuaikan dengan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (kontekstual) dan tingkat kognitif siswa, dimulai dengan cara-cara informal melalui pemodelan sebelum dengan cara formal. Hal ini sesuai dengan karakteristik pendekatan Terhadap Pembelajaran EKonomi tersebut.

2.5 Hubugan Antara Kecerdasan Ganda Terhadap Hasil Belajar
Multiple intelligence atau dalam tulisan ini disebut dengan kecerdasan ganda adalah berbagai keterampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam pembelajaran(Fleetham, 2006). Gardner menemukan delapan macam kecerdasan jamak, yakni(1)kecerdasan verbal/ linguistik, (2) logika matematik, (3)visual/ spatial, (4) music/rhythmic, (5) bodily/kinestetik, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan(8) naturalistic.
Dalam proses pembelajaran siswa yang memiliki kecerdasan ganda dalam artian memiliki salah satu kecerdasan yang kecendrungan yang di miliki oleh kecerdasan tersebut dominan dari kecerdasan yang lain maka hal tersebut akan membantu mereka dalam pemprosesan materi pembelajaran. Contohnya orang yang memiliki kecerdasan verbal mereka memiliki kemampuan dalam hal mendengarkan/menyimak, berbicara, menulis, bercerita, menjelaskan, mengajar,menggunakan humor, memahami sintaksis dan arti kata-kata, menginngat
informasi, meyakinkan orang lain terhadap pendapatnya, dan menganalisa penggunaan bahasa yang baik akan mengoptimalkan mereka dalam pembrosesan informasi sehingga akan menentukan hasil belajar yang akan mereka dapatkan.
2.6 Hubungan Sikap Belajar Dengan Hasil Belajar
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya ekonomi, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran ekonomi dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
Sikap merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak sesuatu, konsep, kumpulan ide, atau kelompok individu. Selain Matematika Ekonomi dapat diartikan sebagai suatu konsep atau ide abstrak yang membutuhkan penalaran, dan juga ada beberapa hal yang bersifat hitungan. Hal ini dapat disikapi oleh siswa secara berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau sebaliknya. Dengan demikian, sikap siswa terhadap Ekonomi adalah kecenderungan untuk menerima atau menolak Ekonomi. Jadi apabila siswa memiliki sikap yang positif tentunya menerima dan akan mempegaruhi hasil belajar dan juga sebaliknya sikap negative berarti menolak dan akan mempengaruhi hasil belajar.

2.7 Kerangka Berfikir
Multiple intelligence atau dalam tulisan ini disebut dengan kecerdasan ganda adalah berbagai keterampilan dan bakat yang dimiliki siswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam pembelajaran(Fleetham, 2006). Gardner menemukan delapan macam kecerdasan jamak, yakni(1)kecerdasan verbal/ linguistik, (2) logika matematik, (3)visual/ spatial, (4) music/rhythmic, (5) bodily/kinestetik, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan(8) naturalistic
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya ekonomi, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran ekonomi dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar
peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2.8 Hipotesi

Untuk menguji ada tidaknya pengaruh variabel Kecerdasan Ganda (X1) dan Sikap Belajar (X2) terhadap variabel Hasil Belajar (Y), maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Ha: Hubungan pengaruh positif dan signifikan antara variabel Kecerdasan Ganda (X1) dan Hasil Belajar (Y) siswa di SMA N 1 Muaro Jambi.
2. Ha: Terdapat Hubungan positif dan signifikan antara variabel Sikap belajar (X2) dan Hasil Belajar (Y) di SMA N 1 Muaro Jambi.
3. Ha: Terdapat Hubungan positif dan signifikan antara variabel Kecerdasan Ganda (X1) dan Sikap Belajar (X2) secara bersama-sama dengan Hasil belajar (Y) siswa di SMA N 1 Muaro Jambi.
4. Ho: Tidak Terdapat Hubungan positif dan signifikan antara variabel Kecerdasan Ganda (X1) dan Hasil Belajar (Y) siswa di SMA N 1 Muaro Jambi.
5. Ho: Tidak Terdapat Hubungan positif dan signifikan antara variabel Sikap belajar (X2) dan Hasil Belajar (Y) di SMA N 1 Muaro Jambi.
6. Ho: Tidak Terdapat Hubungan positif dan signifikan antara variabel Kecerdasan Ganda (X1) dan Sikap Belajar (X2) secara bersama-sama dengan Hasil belajar (Y) siswa di SMA N 1 Muaro Jambi.

Filed under : Skripsi Pendidikan,
Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Daya Hambat Ekstrak Buah Mengkudu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Shigella Dysenteriae BAB II
  2. Upaya Menyiapkan Siswa Berkualitas Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler
  3. Hubungan Motivasi Belajar dan Gaya Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi Siswa
  4. Hubungan Nuansa Paikem Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Dan Fasilitas Belajar Dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi BAB II
  5. Pelaksanaan RKL dan RPL PKS PT. Asiatic Persada Dalam Pengolahan Limbah Cair
  6. Filologi Sebagai Satuan Disiplin
  7. Dampak Pola Kemitraan Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Kesejahteraan Masyarakat
  8. Pengembangan Bahan Ajar Dalam Proses Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar BAB II
  9. Pengaruh Penggunaan Teknik Skrambel Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
  10. Pengaruh Variasi Latihan Lompat Gawang Dan Lari Sprint 50 Meter Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Menggantung