Hubungan Antara Motivasi Belajar Dan Intensitas Belajar Dengan Hasil Belajar Ekonomi

Contoh Proposal Skripsi

 BAB II
KAJIAN TEORITIS

Contoh Proposal Skripsi

2.1 Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal (Djamarah, 2008:12). Dalam hal ini, Slameto (2010:2) menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sementara itu, menurut Syah (2010:90) belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Sardiman (2011:20) menambahkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Kemudian, Djamarah (2008:12) juga menyatakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan dengan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Uno (2011:15) belajar adalah proses perubahan perilaku seseorang setelah mempelajari suatu objek (pengetahuan, sikap, atau keterampilan) tertentu.

Berpijak dari teori-teori di atas, dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang dilakukan seseorang mengenai tingkah laku sebagai hasil dari adanya pengalaman dan menyakut tentang kognitif, afektif, dan psikomotor.

Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar (Slameto, 2010:3-4):
1. Perubahan terjadi secara wajar;
2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional;
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif;
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara;
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah; dan
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

2.1.1 Pengertian Hasil Belajar
Menurut Hamalik (2007:30) bukti seseorang telah belajar adalah terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dengan demikian, Hamalik (2003:155) menyatakan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikaf, dan keterampilan. Menurut Dimayati dan Mudjiono (2006:3) hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukan di atas, dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang terjadi akibat adanya tindak belajar dan tindak mengajar baik itu perubahan perilaku, tingkah laku, sikaf, pengetahuan, ataupun keterampilan ke arah yang lebih baik.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Djamarah (2008:176-202) faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar antara lain, yaitu:
1. Faktor lingkungan
a. lingkungan hidup
Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Pencemaran lingkungan hidup merupakan malapetaka bagi anak didik yang hidup di dalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernapasan. Udara yang terlalu dingin menyebabkan anak didik kedinginan. Suhu udara terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap, dan tidak betah tinggal di dalamnya. Oleh karena itu, keadaan suhu dan kelembaban udara berpengaruh terhadap belajar anak didik di sekolah.
b. Lingkungan sosial budaya
Lingkungan sosial budaya diluar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan anak didik disekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tak jauh dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas.

2. Faktor Instrumental

a. Kurikulum
Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus dibawa guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas, belum guru programkan sebelumnya. Jadi, kurikulum diakui dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik di sekolah.

b. Program
Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang.

c. Sarana dan Fasilitas
Sarana dan fasilitas mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak didik tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajar anak didik. Masalah yang anak didik hadapi dalam belajar relatif kecil. Hasil belajar anak didik tentu akan lebih baik.

d. Guru
Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kehadiran guru mutlak diperlukan di dalamnya. Kalau hanya anak didik, tetapi guru tidak ada, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah.

3. Kondisi Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlaianan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

4. Kondisi Psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Faktor psikologis antara lain, sebagai berikut:

(1) minat

(2) kecerdasan

(3) bakat

(4) motivasi

(5) kemampuan kognitif.

2.2 Pengertian Motivasi Belajar
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya (Djamarah, 2008:148). Menurut Uno (2011:9) motivasi adalah suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku/aktivitas tertentu lebih baik dari pada sebelumnya. Sedangkan, menurut Sardiman (2011:75) dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai kesuluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Menurut Mc. Donald (dalam Djamarah, 2008:148) motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Sehingga, Dari beberapa teori yang telah dikemukakan di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi yang ditimbulkan oleh adanya rangsangan, baik rangsangan dari dalam maupun dari luar yang ditandai dengan adanya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Pada dasarnya, motivasi sangat penting dalam upaya mencapai tujuan belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, Sardiman (2011:84) mengatakan bahwa hasil belajar akan optimal, jika ada motivasi. Ia pun menambahkan bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.

Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut (Dimyati dan Mudjiono, 2006:85):
1. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir;
2. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang disbanding dengan teman sebaya;
3. Mengarahkan kegiatan belajar;
4. Membesarkan semangat belajar; dan
5. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja yang berkesinambungan.

Komponen-komponen utama dalam motivasi (Dimyati dan Mudjiono, 2006:80):
1. Kebutuhan;
Kebutuhan yang membuat seseorang berusaha untuk dapat memenuhinya. Maslow membagi kebutuhan menjadi 5 tingkat, yaitu

(1) kebutuhan fisiologis;

(2) kebutuhan akan perasaan aman;

(3) kebutuhan sosial;

(4) kebutuhan akan penghargaan diri;

(5) kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Sementara itu, Morgan, S. Nasution (dalam Sardiman, 2011:78) kebutuhan dapat dibagi menjadi:

(1) kebutuhan untuk berbuat sesuatu untuk sesuatu aktivitas;

(2) kebutuhan untuk menyenangkan orang lain;

(3) kebutuhan untuk mencapai hasil

(4) kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.

Selain itu, Mc. Cleland berpendapat bahwa setiap orang memiliki tiga jenis kebutuhan dasar, yaitu

(1) kebutuhan akan kekuasaan;

(2) kebutuhan untuk berafiliasi; dan

(3) kebutuhan berprestasi.

2. Dorongan; dan
Menurut para ahli, dorongan atau motivasi berkembang untuk memenuhi kebutuhan organisme. Di samping itu juga sistem yang memungkinkan organisme dapat memelihara kelangsungan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme.

3. Tujuan
Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku. Secara psikologis, tujuan merupakan titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan. Jika tujuan tercapai, maka kebutuhan terpenuhi, maka orang menjadi puas, dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti sementara”.

2.2.1 Fungsi Motivasi dalam Belajar
Menurut Djamarah (2008:157) fungsi motivasi dalam belajar dapat dibagi menjadi tiga begian, yaitu:
1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar. Misalnya, pada mula anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena adanya sesua yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu.

2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirlan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tek terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakkan psikofisik. Di sini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga.

3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan.
Anak didik yang mempunyai motivasi dapa menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan di mana perbuatan yang diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan sesuatu yang dicari itu. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupaka tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar.

Sementara itu, menurut Sardiman (2011:85) fungsi motivasi adalah sebagai berikut:
1. Mendorong seseorang untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukkan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni mentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Sejalan dengan pendapat di atas, Santrock (2009:199) mengemukan bahwa motivasi melibatkan proses yang memberikan energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku.

2.2.2 Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar
Di dalam belajar mengajar disekolah peranan motivasi baik intrinsic maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memlihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Ada beberapa bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar, yaitu (Sardiman, 2011:92-95):
1. Memberi angka
2. Hadiah
3. Kompetisi/saingan
4. Ego-involvement
5. Memberi ulangan
6. Mengetahui hasil
7. Pujian
8. Hukuman
9. Hasrat untuk belajar
10. Minat
11. Tujuan yang diakui

2.2.3 Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Uno (2011:23) hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan dorongan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil;
2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar;
3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan;
4. Adanya pengahargaan dalam belajar;
5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; dan a
6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif , sehigga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.
Selain itu, menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:97-100) unsur-unsur yang mempengaruhi motivsi belajar adalah, sebagai berikut:

1. Cita-cita atau aspirasi siswa

Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau juga hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar instrinsik dan ekstrinsik. Sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.

2. Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi hurup-hurup. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

3. Kondisi siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi. Seorang siswa yang sakit, lapar, atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Dan sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang, dan gembira akan mudah memusatkan perhatian.

4. Kondisi lingkungan siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar.

5. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar.

6. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Upaya pembelajaran di sekolah meliputi hal-hal berikut:
a. Menyelenggarakan tertib belajar di sekolah;
b. Membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan;
c. Membina belajar tertib pergaulan; dan
d. Membina belajar tertib lingkungan sekolah.

2.3 Pengertian Intensitas Belajar
Kata intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat (John M. Echols, 1993:326). Sedangkan menutrut Nurkholif Hazim (t.t: 191), bahwa: “Intensitas adalah kebulatan tenaga yang dikerahkan untuk suatu usaha”. Jadi intensitas secara sederhana dapat dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan.

Seseorang yang belajar dengan semangat yang tinggi, maka akan menunjukan hasil yang baik, sebagaimana pendapat Sadirman (2011: 85), yang menyatakan bahwa intensitas belajar siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian tujuan belajarnya yakni meningkatkan prestasinya.Perkataan intensitas sangat erat kaitannya dengan motavasi, antara keduanya tidak dapat dipisahkan sebab untuk terjadinya itensitas belajar atau semangat belajar harus didahului dengan adanya motivasi dai siswa itu sendiri. Sebagaimana Sardiman (2011: 84), Menyatakan: Belajar diperlukan adanya intensitas atau semangat yang tinggi terutama didasarkan adanya motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas balajar siswa.

Intensitas merupakan realitas dari motivasi dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu peningkatan prestasi, sebab seseorang melakukan usaha dengan penuh semangat karena adanya motivasi sebagai pendorong pencapaian prestasi.

2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi Intensitas dalam belajar siswa
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas balajar siswa, adalah:
1. Adanya keterkaitan dengan realitas kehidupan
2. Harus mempertimbangkan minat pribadi si murid
3. Memberikan kepercayaan pada murid untuk giat sendiri
4. Materi yang diberikan harus bersifat praktis
5. Adanya peran serta dan keterlibatan siswa, (Kurt Singers,1987: 92)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa intensitas atau semangat yang tinggi yang dilakukan siswa untuk belajar baik dikelas atau dalam kegiatan belajar privat Pendidikan Agama Islam akan sangan berpengaruh terhadap presatasi kognitif mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.

2.3.2 Indikator Intensitas dalam belajar siswa

a. Motivasi
Menurut M.C. Donal “Motivasi adalah perubahan energi di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya reaksi untuk mencapai tujuan”. (Sardiman 2011:73).Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri individu yang dapat melakukan tindakan belajar, termasuk didalamnyan adalah perasaan menyukai materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang mendorong untuk melakukan tindakan karena adanya rangsangan dari luar individu, pujian , dan hadiah atau peraturan sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan seterusnya, merupakan contoh konkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

Dalam hal ini Sadirman (2011:85), mengemukakan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah untuk mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dicapai;

Jadi, fungsi motivasi dalam belajar dalah:
1. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai;
2. Mendorong manusia untuk berbuat.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dengan demikian, cukup jelaslah bahwa motivasi itu akan mendorong seseorang yang belajar untuk memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun yang terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat mencapai prestasi yang baik. Intensitas meotivasi seseorang peserta didik/mahasiswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar.
b. Durasi kegiatan
Durasi kegiatan yaitu berapa lamanya kemampuan penggunaan untuk melakukan kegiatan. Dari indikator ini dapat dipahami bahwa motivasi akan terlihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan. Yaitu dengan lamanya siswa menyediakan waktu untuk belajar setiap harinya.
c. Frekuensi kegiatan
Frekuensi yang dimaksud adalah seringnya kegiatan itu dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Misalnya dengan seringnya siswa melakukan belajar baik disekolah maupun diluar sekolah.
d. Presentasi
Presentasi yang dimaksud adalah gairah, keinginan atau harapan yang keras yaitu maksud, rencana, cita-cita atau sasaran, target dan idolanya yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Ini bsia dilihat dari keinginan yang kuat bagi siswa untuk belajar.
e. Arah sikap
Sikap sebagai suatu kesiapan pada diri seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal yang bersifat positif ataupun negative. Dalam bentuknya yang negativ akan terdapat kecendrungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, bahkan tidak menyukai objek tertentu. Sedangkan dalam bentuknya yang positif kecendrungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Contohnya, apabila siswa menyenangi materi tertentu maka dengan sedirinya siswa akan mempekajari dengan baik. Sedangkan apabila tidak menyukai materi tertentu maka siswa tidak akan mempelajari kesan acuh tak acuh.
f. Minat
Minat timbul apabila individu tertarik pada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan bahwa sesuatu yang akan digeluti memiliki makna bagi dirinya, Slamteo (2010:180) mengatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penermiaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya.

Adapun ciri-ciri siswa yang mempunyai minat tinggi adalah :
1. Pemusatan perhatian
Pemusatan perhatian dapat mempengaruhi terhadap prestasi. Sebab dengan perhatian siswa terhadap materi dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa yang menaruh perhatian besar terhadap matematika akan meusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang meingkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
2. Keingintahuan
Kadar keingintahuan siswa dalam belajar dapat terlihat dari partisipasinya ketika kegiatan itu berlangsung. Misalnya ketika kegiatan itu berlangsung, siswa aktif untuk berperan dalam latihan dengan selalu mengikuti kegiatan tersebut atau bertanya. Ketika dalam suatu hal yang belum dipahami dan juga mampu mengomentari terhadap suatu permasalahan.
3. Kebutuhan
Siswa yang merasa butuh dan tertarik atau menaruh minat pada suatu kegiatan atau pelajaran maka ia akan selalu menekuni kegiatan itu dengan giat belajar baik pada waktu acara formal maupun diluar acara formal. Misalnya apabila siswa merasa butuh pada pelajaran maka, siswa itu akan berusaha dengan cara apapun juga.
g. Aktivitas
Aktivitas diartikan sebagai suatu kegiatan yang mendorong atau membangkitkan potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang anak. Sertiap gerak yang dilakukan secara sadar oleh seorang dapat dikatakan sebagai aktivitas. Aktivitas merupakan ciri dari manusia, demikian pula dalam proses belajar mengajar itu sendiri merupakan sejumlah aktivitas yang sedang berlangsung.

Pada dasarnya aktivitas dipandang sebagai sarana kelangsungan pengajaran, memiliki bobot dan kualitas dalam proses belajar mengajar, sehingga mempengaruhi keberhasilan belajarnya serta dapat membangkitkan potensi-pontensi anak dalam berbagai pekerjaan yang mereka senangi dan mewujudkan kecendrungan kepribadian mereka sesuai dengan kesiapannya, membangkitkan kesenangan, gairah dan optimisme.

Ada beberapa aktifitas siswa sewaktu berlangsungnya suatu kegiatan yaitu:
1. Membaca
Menurut Subini (2011:53) membaca merupakan dasar utama untuk memperoleh kemampuan belajar disegala bidang. Melalui membaca seseorang dapat membuak cakrawala dunia, mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui.

2. Bertanya
Bertanya merupakan proses aktif, bila siswa tidak atau bahkan kurang dilibatkan maka hasil belajar yang dicapai akan rendah. Bentuk keterlibatan siswa itu misalnya, dengan bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami atau menjawab pertanyaan yang diajukan.

3. Mencatat
Mencatat erat kaitannya sebagai aktivitas belajar adalah mencatat yang didorong oleh kebutuhan dan tujuan, dengan menggunakan set tertentu agar catatannya itu berguna.

4. Mengignat
Mengingat yang termasuk aktivitas belajar adalah mengingat yang didadasari untuk suatu tujuan, misalnya menghafal suatu materi.

5. Latihan
Latihan termasuk aktivitas belajar, orang yang melaksanakan latihan tentunya mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan suatu aspek pada dirinya. Dalam latihan terjadi interaksi yang interaktif antara subjek dengan lingkungannya hasil belajar akan berupa pengalamannya yang dapat mengubah dirinya yang kemudian akan mempengaruhi terhadap lingkungan sekitarnya.

6. Mendengarkan
Dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi disamping metode lainnya. Dalam hal ini, tugas pokok siswa ketika guru sedang menyampaikan materi adalah mendengarkan yang didorong oleh minat dan tujuan. Untuk memahami suatu materi seseorang siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kerajinan saja tetapi dipengaruhi juga oleh ketelitian dan ketekunan seseorang siswa dalam mendengarkan materi yang disampaikan.

2.3 Kerangka Berpikir
Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan yang terlepas dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar takkan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam maupun dari luar sebagai upaya lain yang tak kalah pentingnya. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah motivasi. Tanpa motivasi seseorang tidak akan melaksanakan tindak belajar. Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakkan dengan tujuan tertentu. Sementara itu, tujuan belajar adalah untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan. Cara-cara yang dipakai itu akan menjadi kebiasaan yang menentukan intensitas dalam belajar. Intensitasbelajar yang baik akan berpengaruh pada pencapaian hasil belajar yang optimal.

Sejalan dengan penelitian ini, dari hasil penelitian oleh Nuryanti (2011) yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara intensitas belajar hasil belajar. Dalam kaitannya dengan motivasi belajar, dari hasil penelitian Sunarti (2006:60) juga menunjukkan adanya hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar. Selain itu, Irdawati (2006:52) pun menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar.

2.4 Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu:
Ha1 : Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.
Ho1 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.
Ha2 : Terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.
Ho2 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas belajar dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.
Ha3 : Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan intensitas belajar secara bersama-sama dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.
Ho3 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan intensitas belajar secara bersama-sama dengan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri Se Kabupaten Bungo.

Hubungan Antara Motivasi Belajar Dan Intensitas Belajar Dengan Hasil Belajar Ekonomi

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Analissi Kondisi Fisik Pemain Bulutangkis Dalam Kegiatan Ekstrakulikuler Pada Siswa Putra SMA Negeri 3 Batanghari
  2. Daya Hambat Ekstrak Buah Mengkudu terhadap Pertumbuhan Bakteri Shigella dysenteriae
  3. Makalah Motivasi Belajar
  4. Pengaruh Latihan Multi Zig-Zag Terhadap Kemampuan Menggiring Bola Dalam Permainan Sepak Bola
  5. Penerapan Model Active Learning Dengan Teknik One-To-One Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa
  6. Analisis Komparatif Pendapatan Usaha Tani Kelapa dan Usaha Tani Pinang
  7. Kumpulan Judul Skripsi Porkes Lengkap
  8. Pengaruh Variasi Latihan Lompat Gawang Dan Lari Sprint 50 Meter Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Menggantung BAB II
  9. Pengaruh Latihan Gabungan Kecepatan, Kelincahan, dan Reaksi Pada Teknik Counter Attack Atlet Gulat
  10. Faktor Penyebab Pencabulan Yang Dilakukan Anak Dan Upaya Penanggulangannya