Filologi Sebagai Satuan Disiplin : Filologi selama ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan. Studi terhadap karya tulis masa lampau dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam peninggalan tulisan terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.

Filologi Sebagai Satuan Disiplin

A. Pengantar

Karya-karya tulis masa lampau merupakan peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiran,buah perasaan, dan informasi mengenai berbagai segi kebidupan yang pemah ada. Karya- karya dengan kandungan infonnasi mengenai masa lampau itu tercipta dari latar social budaya yang tidak ada lagi atau yang tidak sam dengan latar social budaya masyarakat pembaca masa kini. Sebai produk masa lampau, bahan yang berupa kertas clan tinta serta bentuk tulisan, telah mengalami kerusakan atau perubahan, baik karena factor waktu maupun karena factor kesengajaan dari penyalinnya. Gejala demikian terbaca pada munculnya variasi bacaan dalam karya tulisan masa lampau.

Karakteristik karya-karya tulis dengan kondisi seperti di atas menuntut pendekatan yang memadai. Untuk membaca karya-karya tersebut diperlukan ilmu yang mampu menyiangi kesulitan akhibat kondisinya sebagai produk masa lampau. Dalam hal inilah, ilmu filologi diperlukan. Jadi, filologi merupakan satuan disiplin yang diperlukan tmtuk satu upaya yang dilakukan terhadap peninggalan tulisan masa lampau dalam rangka kerja menggali nilai-nilai masa lampau.

Kandungan yang tersimpan dalam karya-karya tulis masa lampau tersebut pada hakikatnya merupakan suatu budaya, produk dari kegiatan kemanusiaan. Filologi, dengan demikian, merrupakan satu disiplin yang berhubungan dengan studi terhadap hasil budaya manusia mada masa lampau. Jadi, filologi merupakan disiplin yang tergolong dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau ilmu-ilmu humaniora.

Dari pembicaraan di atas dapat disimpulkan lahirnya filologi di latar belakangi oleh faktor-faktor berikut:
1. Munculnya informasi tentang masa lampau didalam seumlah karya tulisan.
2. Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tulisan masa lampau yang dipandang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang.
3. Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang.
4. Faktor sosial budaya yang melatar belakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak adalagi atau tidak sama dengan latar sosial budaya pembacanya masa kini.
5. Keperluan untuk mendapatkan basil pemahaman yang akurat.

B. Etimologi dan istilah

Kata filologi berasal dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti `teman’ dan logos yang berarti `pembicaraan’ atau Dalam bahasa Yunani philologia berarti `senang berbicara’ yang kemudian berkembang menjadi senang belajar’, `senang kepada ilmu’, `senang kepada tulisan-tulisan’, dan kemudian senang kepada tulisan-tulisan yang bemilai tinggi seperti karya-karya sastra.

Filologi merupakan satu disiplin yang diperlukan untuk satu upaya yang dilakukan terhadap peninggalan tulisan masa lampau dalam rangka kerja menggali nilai-nitai masa lampau. Kata filologi mulai dipakai pada kira-kira abad ke 3 SM oleh sekelompok ahli dari Iskandariyah, yaitu menyebut keahlian yang diperlukan untuk rperigkaji peningggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun 9the1umnya. Ahli dari Iskandariyah yang pertama kali melontarkan istilah “filoogi” bernama Eratosthenes.

KEDUDUKAN FILOLOGI DI ANTARA ILMU-ILMU LAIN

A. ILMU BANTU FILOLOGI

Pada uraian tentang filologi telah dikemukan bahwa objek filologi ialah terutama naskah-naskah yang mengandung teks sastra tradisional, yaitu satra yang dihasilkan masyarakat yang masih dalatn keadaan tradisional, masyarakat yang belum memperhatikan pengaruh barat secara intensif. Sastra yang demikian mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat yang menghasilkannya. Dengan demikian pengetahuan tentang masyarakat pada masa lampau,masyarakat yang menghasilkan sastra tradisional itu, merupakan syarat mutlak untuk memahaminya.

Dari hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa filologi memerlukan ilmu-ilmu bantu yang erat hubungannya dengamt bahasa. Maysarakat serta budaya yang melahirkan naskah, dan ilmu sastra, untuk mengungkapkan nilai-nilai satra yang terkandung di dalam objeknya. Untuk menangani naskah dengan baik, ahli filologi memerlukan ilmu bantu lain: lingustik, pengetahuan bahasa-bahasa yang tampak pengaruh dalam teks, paleografi, imu sastra, ilmu agama, sejarah kebudayaan, antropologi, dan folklor.

1. Linguistik
Bantuan linguistic kepada filologi sudah terlihat sejak perkembangan awalnya karena pada awal perkembangamva linguistic sangat megutamakan bahasa tulis,termasuk dalamnya naskah, bahkan studi bahasa sampai path abad ke- 19 dikenal dengan nama filologi. Ada beberapa cabang linguistic yang dipapdang membantu filologi, yaitu di antaranya: etimologi, sosiallinguistik, dan stilistika. Etomologi, ilmu yang mempelajari asal-usul dan sejarah kata, telah menarik perhatian ahld filologi. Pengkajian perubahan bentuk makna kata menuntut pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan semantic, yaitu ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, pembentukan kata, dan makna kata.

Naskah-naskah yang sampai kepada ldta mencerminkan adanya tradesi penyalinan longgar artinya penyalinan dapat mengubah, memperbaiki, menambah, dan mengurangi naskah yang disalinya apabila dirasa perlu. Kecuali itu, naskah- naskah saksi yang memperlihatkan adanya penyalinan secara horizontal, penyalinan menggunakan beberapa naskah induk. Hal ini sangat menyulitkan pelacakan naskah ash.

2. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang mempengaruhi Bahasa Teks

Ada dua bahasa yang besar pengaruhnya terhadap naskah nusantara, yaitu bahasa Sansekerta dan bahasa Arab, untuk pemahatnan teks kedua bahasa ini perlu didalatni. Berikut uraian singkat kedua bahasa ini :

a. Bahasa sansekerta

Terutama untuk pengkajian naskah-naskah Jawa, khususnya Jawa Kuna,sangat dituntut pengetahuan bahasa sansekerta. Dalam naskah Jawa Kuna bahasa ini sangat berpengaruh sangat besar,tidak hanya berupapenyerapan kosa kata dan frase, melainkan juga munculnya cuplikan-cuplikan yang kadang-kadang tanpa terjemahan. Dalam naskah Jawa Baru pengaruhnya boleh dikatakan hanya berupa kata-kata serapan. Dalam naskah Melayu, seperti dalam naskah-naskah Jawa Baru pengaruhnyajuga berupa kata-kata serapan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak naskah-naskah Jawa Baru. Meskipun demikian, penangan naskah-naskah Melayu juga memerlukan pengetahuan Bahasa Sansekerta.

b. Bahasa Arab
Pengetahuan bahasa Arab diperlukan untuk pengkajian naskah-naskah yang kena pengaruh islam, khususnya yang berisi ajaran islam dan tasawuf atau suluk. Dalam naskah yang demikian itu banya terlihat kata-kata, frase, kalimat, ungkapart, dan nukilan-nuldlan dalam bahasa Arab, bahkan kadang-kadang bagian teks tertentu, misal pendahuluan, disusun dalam bahasa Arab. Meskipun path umumnya bagian-bagian teks yang berbahasa Arab ini, baik yang berupa nuldlan dari Al-quran, hadis, dan buku-buku maupun yang disusun oleh pengarangnya sendiri, diikuti dengan tezjemahan dalam bahasa naskah, tetapi belum tentu telcs itu dapat dibaca karean teks-teks itu pada umumya ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca. Hanya pengetahuan bahasa Arab yang memadailah yang memungkinkan dapat membacanya dengan benar.

c. Pengetahuan bahasa-bahasa daerah Nusantara
Untuk penggarapan naskah-naskah Nusantara diperlukan pengetahuan tentang bahasa daerah Nusantara yang berkaitan dengan bahasa naskah. Tanpa pengetahuan ini penggarapan naskah kadang-kadang direpo

tkan oleh pembacaan kata yang ternyata bukan kata dari bahasa asing, melainkan kata dari salah satu bahasa daerah. Hal ini sering tidak diduga sebelumnya karena pada umumnya naskah yang ada sekarang ini atau naskah saksi tidak diketauhi asal-usulnya, balk asal daearah penemuannay maupun daerah penyalinannya, apalagi asal daerah penulisan naskah aslinya.

Kegiatan lain yang memerlukan pengetahuan bahasa-bAasa daerah Nusantara ialah menyadur atau menerjemahkan teks-teks lama Nusantara ke dalam bahasa Indonesia yang merupaka tugas filologi di samping kegiatan menyajikan teks-teks lama dalam keadaan siap pakai oleh ilmu-imlu lain. Dengan demikian, teks-teks lama di kenal oleh masyarakat luas sehingga masuk ke dalam khazanah sastra Indonesia, bukan lagi khazanah satra Indonesia.

c. Paleografi
Paleografi adalah ilmu macam-macam tulisan kuna. Ilmu ini mutlak perlu,untuk penelitian tulisan kuna atas batu, logam, atau bahan lainya. Untuk memperoleh gambaran tentang macam-macam tulisan lama dan perkembangan kuna di Indonesia, di bawah ini dipaparkan jenis-jenis tulisan pada beberapa prasatsi yang terbesar di Nusantara yang gayut dengan fungsinya sebagai penunjang penelitian naskah.

Dalam Indonesian Paleography disebutkan macam tulisan yang dipakai di daratan Asia Tenggara, terutama di Semenanjung Malaya, Muangthai Selatan, Kamboja, dan Vietnam Selatan yang dapat dilacak asahiya tulisan pada abad ke-4. Tulisan Palawa untuk bahasa Sansekerta ini dipakai di daerah-daerah luar kerajaan Palawa yang dapat pengaruhnya, termasuk kepulauan Indonesia.

SEJARAH PERKEMBANGAN FILOLOGI

Kebudayaan yunani lama salah satu dasar pemikiran yang sangat besar pengaruhnya zaJam kehidupan masyarakat Barat pada umumnya. Dalam segala bidang kehidupan dapat unsur-unsur yang berakar pada kebudayaan yunani lama, yang aspek-aspeknya ssimpan dalam naskah —naskah milik bangsa itu.

Semenjak kecil masyarakat Barat dibiasakan dengan nama-nama dewa seperti Apollo, Pallas Athena, Zeus, Hera, dan lain-lain. Memang para dewa dan pahlawan dalam legenda yunani kuno itu merupakan sumber kehidupan bagi pikiran dan imaginasi orang Barat. Dalam dunia ilmu pengetahuan, seperti ilmu filsafat, matematika, fisika, banyak dinukuli pendapat para ilmuwan yunani kuno untuk lebih menjelaskan konsep mereka. Karena itu jelas sekali bahwa mereka yang ingin mengetahui secara lebih mendalam aspek-aspek tertentu dari masyarakat garat., akan mendapat manfaat apabila mengetahui dasar-dasar kebudayaan yunani kuno, ilmu filologi pun juga berakar pada kebudayaan yunani kuno.

A. Filologi di Eropa Daratan

Dalam sejarahnya„ ilmu filologi tumbuh dan berkembang di kawasan kerajaan yunani, yaitu di kota Iskandariyah di benua A frika pantai utara. Dan i kota ini filologi berkembang clan meluas di Eropa Daratan dan seterusnya ke bagain dunia yang lain.

I. Awal Pertumbuhannya
Awal kegiatan filologi di kota Iskandariyah dilakukan oleh bangsa yunani pada abad ke-3 S.M. Bangsa ini berhasil mambaca naskah-naskah yunani lama. Para ahli filologi pada waktu itu benar-banar memiliki ilmu yang luas, karena untuk memahami isi naskah itu orang harus mengenal huruf, bahasanya, dan ilmu yang dikandungnya. Setelah dapat membaca dan imernahami isinya, mereka lalu menulisnya kembali dalam huruf yang digunakan pada waktu itu juga. Dengan demikian kebudayaan yunani lama yang memiliki nilai luhur itu dapat dikenal oleh stasyarakat pada waktu itu.

Metode yang mereka gunakan untuk menelaah naslcah-naskah itu kemudian dikenal dengan ilmu filologi. Metode taraf awal itu kemudian berkembang dari abadke abad. Metode awal itu dilakukan demikian : pertama-tama mereka memperbaiki huruf dan bacaan, ejaan, lahasa, tatatulisnya, keadaan menyunting kedalam keadaan yang mudah dibaca, bersih dari Lesalahan-kesalahan.

Seperti telah dikemukakan di muka, bentuk naskah dengan bahan papyrus itu gulungan, taulis pada suatu sisi dengan benda runcing. Bentuk gulungan itu kurang mudah untuk melihat-aelihat kembali bagian yang telah dibaca, serta penyimpanannya pun tidak mudah dan aemerlukan tempat yang luas.

Sesudah Iskandariyah jatuh ke dalam kekuasaan Romawi, kegiatan filologi berpindah ke Eropa Selatan. Berpusat di kota Roma dan melanjutkan tradisi filologi yunani atau meneruskan keziatan Mazhab Iskandariyah. Peristiwa ini mempengaruhi perkembangan filologi selanjutnya.

2 Filologi di Romawi Barat dan Romawi Timur

a. Filologi di Romawi Barat
kegiatan filologi di Romawi Barat diarahkan kepada penggarapan naskah-naskah dalam Saha s a latin yang sejak abad ke-3 S.M, telah digarap secara filologi. Di Iskandariyah, clan isi moskah-naskah itu banyak mewamai dunia pendidikan di Eropa pada abad-abad selanjutnya.

Tradisi latin inilah yang dikembangkan dikerajaan Romawi Barat, dan bahasa latin menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Sejak terjadinya ktistenisasi kegiatan filologi di daerah Barat banyak dilakukan oleh pendeta-pendeta. Maka telaah teks yunani menjadi mundur dan kandungan isinya menjadi tidak banyak dikenal lagi.

b. Filologi di Romawi Timur

pada waktu telaah teks yunani tampak mundur di Romawi Barat, maka di Romawi mulai muncul pusat-pusat studi teks yunani, misalnya di Antioch, Athena, Iskandariyah, Beirut, Konstantinopel, dan Gaza, yang masing-masing merupakan pusat dalam bidang tertentu. Pusat-pusat studi ini selanjutnya berkembang menjadi perguruan tinggi, ialah lembaga yang menghasilkan tenaga ahli dalam bidang pemerintahaan, pendidikm dab administpsi. Dalam periode itu mulai muncul kebiasaan menulis tafsir terhadap isi naskah pada tepi halaman. Catatan demikian itu tersebut scholia. Procopius dan Gaza telah membiasakan menulis naskah lansung diiringin scholia. Karena tulisan Procopius pada umumnya mengenai ajaraqn beibel maka cam penulisan demikian itu dikenal penulisan barn dalam kajian beibel.

Pada saat telaah teks Yunani berkembang di Romawi Timur di rasakan kurang ahli yang melakukan kegiatan itu. Maka muncullah mimbar-mimbar kuliah filologi di berbagai perguruan tinggi.

3. Filologi di Zaman Renaisans
Istilah renaisans mulai dipakai dengan pengertian perubahan di lapangan sejarah kebudayaan mengenai tanggapan hidup serta peralihan dari zaman pertengahan ke Zaman barn. Renaisans dimulai dati italia pada abad ke-13, kemudian menyebar ke Negara-negara Eropa dan berakhir pada abad ke-16. Renaisans mula-mula merupakan gerakan di kalangan para satjana dan seniman, tetapi selanjutnya meningkat menjadi perubahan secara cara berfikir di kalangan umat beradab.

Pada zaman renaisans kegiataan telaah teks lama timbul kembali setelah berabad-abad diabaikan. Jatuhnya kerajaan Romawi timur atau Bizantium ketangan bangsa Turki pada abad ke-15 mendorong banyak ahli filologi dari Romawi timur betpindah ke Eropa Selatan, terutama ke kota Roma. Di tempat-tempat baru itu mereka mendapat kedudukan sebagai pengajar, atau penyalin naskah, atau penyalin naskah, atau penerjemah teks Yunani dalam bahasa latin. Dalam perkebangan selanjunya, di Eropa ilmu filologi diterapkan juga untuk telaah naskah lama nonklasik, seperti naskah Germania. Mulai abad ke-19 ilmu bahasa atau linguistic berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri, terpisah dari ilmu filologi. Pada abad ke-20 pengertian filologi di Eropa Daratan tetap seperti semula ialah telaah teks klasik. Sedangkan di kawasaan anglo-sakson berubah menjadi linguistic.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Tentang Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan
  2. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan perilaku Konsumsi Tablet Fe Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
  3. Informed Consent dalam Perjanjian Terapeutik di Rumah Sakit H. Abdul Manap Kota Jambi
  4. Informed Consent dalam Perjanjian Terapeutik di Rumah Sakit H. Abdul Manap Kota Jambi BAB II