Faktor Penyebab Pencabulan Yang Dilakukan Anak Dan Upaya Penanggulangannya BAB II
Tinjauan Pustaka Tentang Pidana dan Tindak Pidana
Pencabulan Yang Dilakukan Anak

A. Pengertian Pidana
1. Pengertian Pidana
Istilah pidana adalah terjemahan kata “straf”, disamping “pidana”, straf juga lazim diterjemahkan dengan hukuman. Menurut Moeljatno istilah pidana lebih tepat dari pada hukuman sebagai terjemahan kata straf.

Hukuman adalah suatu pengertian umum sebagai suatu sanksi yang menderitakan atau nestapa yang sengaja ditimpakan kepada orang. Menetapkan hukuman untuk suatu peristiwa tidak hanya menyangkut bidang hukum pidana saja, tetapi juga menyangkut hukum perdata maupun lainnya.

Istilah penghukuman dapat disempitkan artinya yakni penghukuman dalam perkara pidana, bersinonim yaitu pemidanaan, sehingga berkesimpulan bahwa istilah pidana lebih baik dari hukuman.

Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut mempunyai makna yang sinonim yaitu sanksi mengakibatkan nestapa, penderitaan ataupun sengsara. Oleh karena itu hukum yang diadakan atau dibentuk harus membawa misi tertentu yaitu keinsyafan masyarakat yang dituangkan dalam kurikulum sebagai sarana pengendalian dan perubahan agar terciptanya kedamaian dan ketentraman masyarakat.

Beberapa pengertian pidana menurut keterangan para ahli hukum sebagaimana di kutip atau diterjemahkan oleh:
PAF Lamintang sebagai berikut menurut :
1. Van Hamel
Pidana adalah suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggung jawab dari ketertiban hukum umum bagi seseorang pelanggarannya yaitu semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara.

2. Simons
Pidana adalah suatu penderitaan yang oleh Undang-undang pidana telah diakibatkan dengan pelanggaran terhadap suatu norma, yang suatu putusan hakim telah dan dijatuhkan bagi seseorang dan bersalah.

3. Sudarto
Pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang lain yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat tertentu.

4. Roeslan Saleh
Pidana adalah reaksi atau delik, dan ini wujud nestapa yang sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik.
Dari defenisi-defenisi para pakar hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat lain yang tak menyenangkan.
b. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan.
c. Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.
Dalam rancangan KUHP memuat pedoman pemidanaan yang akan sangat membantu hakim dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan dan juga memudahkan hakim dalam menetapkan ukuran pemidanaan. Apa yang tercantum dalam Rancangan KUHP tersebut sebenarnya merupakan daftar yang harus diteliti terlebih dahulu. Daftar tersebut memuat hal-hal yang menyangkut pembuatan dan juga hal-hal diluar pembuat. Apabila butir-butir tersebut diperhatikan, maka diharapkan pidana yang dapat dijatuhkan dapat lebih proporsional dan dapat dipahami baik oleh masyarakat maupun oleh terpidana sendiri.

Tindak kekerasan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga mengakibat kerusakan, penderitaan dan kerugian adalah merupakan tindakan yang merupakan yang bertentangan dengan hukum oleh karena itu merupakan kejahatan dan layak dipidana. Kekerasan atau violence adalah paksaan perbuatan, kekerasan adalah perbuatan yang menggunakan kekuatan fisik, menderita atau dalam keadaan tidak berdaya. Salah satunya adalah kejahatan pencabulan yang dilakukan oleh anak terhadap anak-anak.

Dilandasi pengertian-pengertian diatas maka ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian pidana itu adalah suatu penderitaan yang dijatuhkan oleh Hakim terhadap orang yang melanggar suatu norma yang menurut UU, pidana dapat dicabut sebagai perlindungan yang seharusnya dinikmati oleh terpidana atas nyawa, kebebasan dan harta kekayaannya. Dengan demikian diketahui bahwa pemidanaan adalah penjatuhan pidana yang dilakukan oleh Hakim terhadap seseorang pelaku tindak pidana atau kejahatan sesuai dengan berat ringannya kejahatan yang dilakukan oleh seseorang tersebut.

B. Jenis – jenis Tindak Pidana Pencabulan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) telah mengatur dengan tegas berbagai tindak pidana dari salah satunya tindak pidana yang di atur dalam KUHP adalah kejahatan mengenai kesusilaan khususnya tindak pidana pencabulan.

Peristiwa pencabulan merupakan delik aduan maksudnya ialah delik (peristiwa pidana) yang selalu hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan dari sikorban, jika tidak maka si pelaku bebas dari tuntutan dan menunjukkan pada fakta yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan, dan juga keraguan terpenuhi rasa keadilan masyarakat itu apakah dapat menjadi kenyataan, apabila dilihat pada produk hukum pidana kita terutama pembuktian beberapa ketentuan pasal-pasal dari KUHP menyatakan bahwa hal tersebut harus dapat dibuktikan dan apabila itu menjadi unsur tidak dapat terbukti mutlak maka sipelaku harus diputus bebas, misalnya tentang unsur harus diketahui atau setidaknya harus dapat diduga keadaan ini menyebabkan korban merasa sia-sia telah membuka aibnya dan tidak mendapatkan apa yang di harapkan terhadap pelaku, hal ini merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya tindak pidana pencabulan.

Pencabulan ini termuat dalam buku II Bab XIV, dari pasal 287 sampai 296 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam skripsi ini akan diuraikan jenis tindak pidana yang dapat dilakukan oleh anak.

Jenis pencabulan dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana diantaranya :
1. Perbuatan cabul dengan kekerasan
Pasal 289 KUHP
“Barang siapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan padanya perbuatannya cabul, karena perbuatan yang merusak kesusilaan, di pidana penjara selama – lamanya sembilan tahun.”

Yang diancam hukuman dalam pasal ini ialah orang yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan cabul atau memaksa seseorang agar ia membiarkan dirinya diperlakukan cabul, dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan.
Yang dimaksud dengan kekerasan, yaitu membuat orang jadi pingsan atau tidak berdaya lagi, menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani sekuat mungkin secara tidak sah, “misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya yang menyebabkan orang yang terkena tindakan kekerasan itu merasa sakit yang sangat.

Yang dimaksud dengan perbuatan cabul sesuai dengan penjelasan 289 KUHP ialah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan, kesopanan, atau perbuatan keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, ciuman, meraba – raba anggota kemaluan, buah dada, dan sebagainya.

Persetubuhan termasuk pula dalam pengertian ini, tetapi dalam Undang-undang disebutkan sendiri, yaitu dalam pasal 285 KUHP hanya dapat dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang wanita, sedangkan perkosaan untuk cabul (pasal 289 KUHP) dapat juga dilakukan oleh seorang wanita terhadap seorang pria.

2. Perbuatan cabul dengan seseorang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya
Pasal 290 KUHP
Di pidana dengan pidana penjara selama – lamanya tujuh tahun :
Ke (1) “Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, sedang diketahuinya, bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya”.
Pingsan artinya “hilangnya ingatan atau tidak sadar akan dirinya, umpamanya karena minum racun kecubung atau obat-obat lainnya yang menyebabkan tidak ingat lagi, orang yang pingsan itu tidak mengetahui lagi apa yang terjadi dengan dirinya”.

Tidak berdaya artinya tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali, sehingga tidak mampu mengadakan perlawanan sedikit juapun, seperti halnya orang diikat dengan tali pada kaki dan tangannya, terkurung dalam kamar, terkena suntikan, sehingga orang itu menjadi lumpuh, orang yang tidak berdaya ini masih dapat mengetahui apa yang terjadi atas dirinya.

3. Perbuatan cabul dengan seseorang dengan cara membujuk
Pasal 290 KUHP
Dipidana dengan pidana penjara selama – lamanya tujuh tahun;
Ke (3) “ Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang yang diketahui atau patut dapat di sangka, bahwa umur orang itu belum cukup lima belas tahun atau umur itu tidak terang, bahwa ia belum pantas untuk di kawini, untuk melakukan atau membiarkan diperbuat padanya perbuatan cabul”.

Orang yang membujuk (mempengaruhi dengan rayuan) seseorang yang umumnya dibawah lima belas tahun untuk melakukan perbuatan cabul.

4. Perbuatan cabul dengan seseorang dengan cara tipu daya dan kekuasaan yang timbul dari pergaulan
Pasal 293 KUHP
“Barang siapa dengan hadiah atau dengan perjanjian akan memberikan uang atau barang dengan salah memakai kekuasaan yang timbul dari pergaulan atau dengan memperdayakan, dengan sengaja membujuk orang dibawah umur yang tidak bercacat kelakuannya, yang diketahuinya atau patut dapat disangkakannya masih dibawah umur, melakukan perbuatan cabul dengan dia, atau membiarkan perbuatan cabul itu dilakukan pada dirinya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun”.

Cara membujuk itu dengan jalan mempergunakan :
1. hadiah atau perjanjian akan memberikan uang atau barang
2. kekuasaan yang timbul dari pergaulan
3. tipu daya

Orang yang dibujuk itu belum dewasa dan tidak bercacat kelakuannya, maksudnya hanya mengenai kelakuan dalam segi seksuil, membujuk seseorang pelacur yang belum dewasa tidak masuk dalam pasal ini, karena pelacur sudah cacat kelakuannya dalam bidang seksuil.

Perjanjian itu harus mengarah pada pemberian uang atau barang, perjanjian dalam hal lain tidak termasuk dalam hal ini. Kejahatan ini adalah suatu delik aduan, tempo untuk memasukkan pengaduan ialah sembilan bulan bagi orang yang diam dalam negeri dan dua belas bulan bagi orang yang di luar negeri, jelas pengaduan ini tidak boleh lewat dari tempo yang telah ditetapkan diatas ini bila terlambat berarti kadaluarsa.

C. Faktor Penyebab Tindak Pidana Pencabulan
Dalam usaha mencari dan meneliti sebab-sebab kejahatan didalam lingkungan masyarakat maka mula-mula sosiologi kriminal mencoba mempertengahkan beberapa faktor-faktor tunggal dalam kehidupan masyarakat sebagai penyebab utama timbulnya kejahatan-kejahatan seperti umpamanya :
a. A. Lacassagne (1834 – 1924) yang mengatakan teori “lingkungan yang memberi kesempatan” sebagai penyebab dapat dilakukan suatu kejahatan, jadi bila keadaan dalam masyarakat memberi kesempatan maka dalam masyarakat tersebut akan timbul kejahatan, atau seseorang akan melakukan kejahatan bila ada kesempatan.

b. Gabriel Tarde (1843 – 1904) di Prancis menunjukkan sebuah teori bahwa, masyarakat dapat diterangkan dalam arti pikiran yang saling pengaruh mempengaruhi melalui dorongan untuk meniru, dalam tingkah laku kriminal ini ia berpendapat bahwa kejahatan meluas dari seorang kepada orang lain melalui proses tiru meniru. Teori ini disebut lingkungan yang memberi tauladan.

c. Teori lingkungan ekonomi sebagai penyebab timbulnya berbagai kejahatan.

1. Turati mengemukakan bahwa pengaruh keadaan materiel terhadap jiwa manusia; kesengsaraan menjadi pikiran menjadi tumpul, kebodohan dan ketidakadaban merupakan penganut-penganutnya, dan hal-hal ini merupakan faktor-faktor yang berkuasa dalam timbulnya kejahatan, misalnya keadaan tempat tinggal yang buruk merosotkan moralitas seksuil dan menyebabkan kejahatan seksual.

2. N. Calajani (1847 – 1921) dalam bukunya “Sociologis criminale” menunjukkan adanya hubungan antara krisis dengan bertambahnya kejahatan ekonomi, antara kejahatan dengan gejala-gejala patologis sosial, seperti pelacuran yang juga berasal dari keadaan perekonomian.

Menurut H. Hari Saheroji bahwa secara garis besar faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejahatan terdiri atas dua bagian yaitu “faktor-faktor yang bersumber dari dalam individu (internal) dan faktor-faktor yang bersumber dari luar individu (eksternal)”

Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor yang bersumber dari dalam diri individu (interen)
Faktor ini mempunyai hubungan dengan timbulnya suatu kejahatan dan faktor ini terbagi dalam dua bagian yaitu :
1) Sifat khusus dalam diri individu
Sifat khusus ini adalah keadaan psikologi individu, masalah kepribadian sering kali menimbulkan kelakuan yang menyimpang, terlebih jika seseorang tertekan perasaannya. Orang tersebut cenderung untuk melakukan penyimpangan, mungkin terhadap sistem sosial atau terhadap pola-pola kebudayaan. Terhadap beberapa sifat khusus yang dapat menimbulkan kejahatan, seperti :
a. Sakit jiwa
Orang sakit jiwa cenderung untuk bersikap anti sosial. Sakit jiwa ini dapat disebabkan oleh adanya konflik mental yang berlebihan, atau mungkin pernah melakukan perbuatan yang dinilai sebagai dosa besar sehingga dia menjadi sakit jiwa dan orang yang seperti ini cenderung untuk melakukan penyimpangan dapat berupa kejahatan.
b. Daya emosional
Penyimpangan ini dapat mengarah pada suatu tindakan kejahatan jika orang tersebut tidak mampu menyesesuaikan emosi dengan kehendak masyarakat.

c. Rendah mental
Jika seseorang mempunyai daya intelijensi yang rendah, maka ia sulit untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat dan cenderung untuk melakukan kesalahan, dalam keadaan demikian ia mencari jalan sendiri untuk menyelesaikan masalah yang kadang – kadang bertentangan dengan kehendak masyarakat umumnya.

d. Anomi (kebingungan)
Kepribadian manusia secara psikologi bersifat dinamis yang ditandai dengan adanya kehendak, berorganisasi, berbudaya dan sebagainya. Kehendak tersebut melekat pada manusia sebagai makhluk sosial.

Masa anomi ini di tandai dengan ditinggalkannya keadaan yang lama dan mulai memasuki keadaan yang baru dan belum pernah dijumpai selama ini. Sebagai ukuran orang yang akan menjadi anomi (kebingungan) yaitu sebagai berikut :
a) pada saat ia berhadapan dengan suatu kejadian atau perubahan yang belum pernah dialaminya.
b) pada saat ia berhadapan dengan situasi baru dan harus menyesuaikan diri dengan cara-cara yang baru pula.

Masa anomi terjadi bila seseorang telah mengarahkan pada kebiasaan-kebiasaan lama sementara hal-hal yang baru belum didapatnya seorang orang tersebut kehilangan pegangan. Pada saat seperti ini ia akan mudah terpengaruh dan cenderung melakukan suatu kejahatan. Oleh karena itu anomi dapat dianggap sebagai salah satu penyebab timbulnya kejahatan.
2) Sifat umum dalam diri individu
Sifat ini dapat dibagi dalam beberapa jenis antara lain yaitu :
a. Umur
Jasmani dan rohani manusia selalu mengalami perubahan sejak kecil sampai dewasa, dengan perubahan tersebut, maka tiap-tiap masa manusia dapat melakukan kejahatan sesuai dengan tingkat perkembangan pikiran serta keadaan-keadaan lainnya yang ada disekitar individu pada masanya.
b. Sek
Hal ini berhubungan dengan keadaan fisik. Pada umumnya fisik laki-laki lebih kuat daripada fisik perempuan maka kemungkinan untuk berbuat kejahatan lebih besar daripada laki-laki (kejahatan umumnya).
c. Status sosial individu
Kedudukan status sosial seseorang dalam masyarakat dapat juga menimbulkan perbuatan yang menyimpang (jahat), maksudnya seseorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi lebih mudah memanfaatkan kedudukan dalam hal tertentu.
d. Pendidikan individu
Pendidikan akan mempengaruhi jiwa, tingkah laku dan juga intelegensia setiap individu.

2. Faktor yang bersumber dari luar diri individu (eksteren)
Menurut pendapat ini, terjadinya perbedaan pendapat mereka atas pertanyaan pengaruh lingkungan manakah yang penting bagi kriminologi, lingkungan mempunyai pengertian yang sangat luas yaitu mulai dari rahim ibu, saat kelahiran, masa hidup sampai kematian.

Banyak diantara mereka berpendapat bahwa keadaan ekonomilah sebagai salah satu unsur yang menentukan dan ada juga yang menganggap, tempat kediaman, dan lain-lain sebagai faktor yang terpenting.
Bila melihat kejahatan pertama-tama sebagai gejala masa dalam pergaulan hidup, disamping itu meskipun Bonger berpendapat bahwa :
“Ada orang-orang karena struktur kepribadiannya dapat menjadi jahat, namun jumlah persentasi mereka dalam pergaulan hidup selama satu tenggang waktu yang panjang sebagai tidak berubah”.

Faktor ini bertitik pangkal pada lingkungan diluar diri (eksteren) setiap individu, terutama hal yang memiliki hubungan dengan timbulnya kejahatan. Pengaruh faktor inilah yang menentukan bagi seseorang untuk mengarah pada perbuatan kejahatan. Faktor eksteren yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan kejahatan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1) Sosial ekonomi
Faktor sosial ekonomi merupakan penyebab timbulnya kejahatan. Bagi golongan masyarakat yang taraf ekonominya lemah dan dengan memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan kemampuannya, jadi perbuatan itu dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari semakin meningkat.
2) Agama
Norma-norma yang terkandung didalam ajaran setiap agama mempunyai nilai kebaikan yang tinggi dalam kehidupan manusia. Norma-norma ini menunjukkan hal yang dilarang untuk melakukan yang tidak benar. Seseorang yang tidak benar-benar memahami ajaran agama, ia akan cepat tergoda oleh bujukan dan rayuan untuk melakukan kejahatan karena imannya kurang teguh.
3) Buku bacaan
Pada masa sekarang ini banyak beredar buku-buku yang tidak dapat dipertanggungjawabkan isinya seperti buku-buku porno, cerita seksual, kriminal, dan sebagainya yang dapat mempengaruhi jiwa, pemikiran, dan tingkah laku setiap orang yang membacanya.
4) Film (media elektronik)
Pengaruh film terhadap timbulnya kejahatan hampir sama dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh buku-buku bacaan, hanya perbedaannya terletak pada daya khayalan si pembaca atau penonton. Bacaan dapat menimbulkan khayalan secara tidak langsung terhadap kejadian yang ada dalam buku yang di bacanya. Sedangkan penonton dapat langsung manganologikan dirinya pada film yang di tontonnya, namun kedua-duanya sama-sama memiliki pengaruh yang buruk terhadap pikiran pembaca maupun penonton. Kesan yang mendalam daripada yang telah disaksikan dan di dengar serta penyajian yang berbau negatif dipertunjukkan dalam film dapat memperjelas sanubari untuk menggugah khayalan-khayalan baru tentang apa yang di saksikan tersebut.
5) Lingkungan
Lingkungan juga dapat mempengaruhi timbulnya kejahatan, dimana faktor lingkungan merupakan satu kesatuan yang penting sekali bagi pembentukan dan perkembangan jiwa dan perilaku seseorang, baik lingkungan keluarga ( rumah ), maupun lingkungan diluar keluarga seperti lingkungan sekolah, tempat tinggal, tempat bekerja, dan lain-lain. Jika seseorang berada pada lingkungan yang baik, maka pada umumnya seseorang tersebut akan berperilaku yang baik, sedangkan bila seseorang berada pada lingkungan yang kurang baik, maka ia cenderung berbuat yang tidak baik pula. Oleh karena itu faktor lingkungan tidak dapat diabaikan begitu saja tersebut perkembangan jiwa dan perilaku seseorang.

Adapun faktor pendorong terjadinya tindak pidana pencabulan dewasa ini antara lain :
Adanya kelainan seksual (pedophilia)

Pedophilia adalah kelainan/penyimpangan seksual yang mempunyai gairah sek kepada anak-anak.
Objek seksual pada penderita pedophilia adalah anak-anak dibawah umur, kasus pedophilia terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Pedophilia homoseksual, yaitu objek seksual adalah anak laki-laki dibawah umur.
b. Pedophilia hetereseksual yaitu objek seksual adalah anak perempuan dibawah umur
Penyebab pedophilia antara lain sebagai berikut :
a) Hambatan dalam perkembangan psikologis yang menyebabkan ketidak mampuan penderita menjalan reladi heterososial dan homososial yang wajar.
b) Kecenderungan kepribadian anti sosial yang ditandai dan hambatan perkembangan moral.
c) Terdapatnya kombinasi rekresi, ketahuan impoten, serta rendahnya tatanan etika dan moral.
d) Faktor ekonomi
Faktor ekonomi merupakan penyebab timbulnya kejahatan, tingkat pendapatan masyarakat yang rendah dan sempitnya lapanan pekerjaan yang tersisa sehingga banyak terjadi krisis pengangguran.
Bagi golongan masyarakat yang taraf ekonominya lemah dan dengan memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga terjadi konflik dalam dirinya, sehingga mendorong dirinya untuk berbuat jahat.
e) Tingkat pendidikan yang rendah berakibat kurangnya pengetahuan khususnya tentang hukum, sehingga pelaku dalam melakukan perbuatannya hanya didasarkan pada nafsu.
Terdapatnya hubungan yang sangat erat antara perkembangan moralitas dengan perkembangan intelektual, semakin rendahnya tingkat intelektual anak akan mengakibatkan rendahnya moralitas anak. Sehingga kemerosotan moralitas anak ini akan berakibat dengan tindakan yang negatif.
f) Kemerosotan moral
Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai dan prinsip moral, nilai-nilai moral itu seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain.

Seseorang dapat dikatakan bermoral apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosial.

Moral seseorang sangat berkaitan erat dengan norma-norma yang terkandung didalam ajaran setiap agama mempunyai nilai kebaikan yang tinggi dalam kehidupan manusia. Norma-norma ini menunjukkan hal yang dilarang untuk melakukan yang tidak benar. Seseorang yang tidak benar-benar memahami ajaran agama, ia akan cepat tergoda oleh bujukan dan rayuan untuk melakukan kejahatan karena imannya kurang teguh yang menyebabkan turunnya moralitas.

g) Kemajuan teknologi
Kemajuan teknologi mempunyai dampak positif dan negatif, dampak positifnya masyarakat dapat dengan mudahnya memperoleh informasi, tetapi tidak dipungkiri kemajuan teknologi juga mempunyai pengaruh negatif bagi masyarakat, misalnya televisi menyajikan film yang kurang intelektual, situs internet yang banyak menyajikan gambar dan video porno, maupun handphone yang canggih bisa menyimpan video porno, sehingga masyarakat dengan gampang memperolehnya, sehingga penonton dapat langsung menganologikan dirinya pada film yang di tontonnya, kesan yang mendalam daripada yang telah disaksikan dan di dengar serta penyajian yang berbau negatif dipertunjukkan dalam film dapat memperjelas sanubari untuk menggugah khayalan-khayalan baru tentang apa yang di saksikan tersebut.

h) Saksi pidana yang dijatuhkan masih relatif ringan sehingga tidak membuat jera pelaku
Hukuman yang tidak sepadan dengan hancurnya masa depan, hilangnya kehormatan dan harga diri si anak korban pencabulan yang tidak mungkin dibeli atau digantikan ataupun disembuhkan, karena sulitnya membuktikan unsur-unsur pencabulan yang ditentukan KUHP, banyak pelaku kejahatan seksual tidak dituntut atau dituntut untuk adanya pelanggaran ringan karena sering terjadi justru korban kemudian berbalik menjadi terdakwa dan di adili menjadi bukti yang dianggap kurang kuat sehingga pelaku bebas dan si korban balik dituntut karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Walaupun dituntut sanksi pidananya tidak lah sepadan oleh sebab itulah kenyataan hidup sehari-hari jumlah korban kejahatan seksual semakin meningkat.

Perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah, hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang yang benar dan salah.

Menurut Conger, terdapatnya hubungan yang sangat erat antara perkembangan kesadaran moralitas dengan perkembangan intelektual, semakin rendahnya tingkat intelektual anak, akan mengakibatkan rendahnya moralitas anak.
Pada dasarnya manusia tidak ada yang sama perkembangannya, perkembangan individu dipengaruhi oleh lingkungan, sedangkan lingkungan seseorang tidak pernah dalam keadaan serupa, demikian seterusnya dalam kehidupan pergaulan masyarakat.

Menurut R. Soesilo menegaskan dalam teori tentang sebab-sebab kejahatan dalam masyarakat, bahwa lingkungan yang tidak baik membuat kelakuan seseorang menjadi jahat dan lingkungan yang baik berakibat sebaliknya.
Dewasa ini fenomena kejahatan semakin meningkat, bahkan teknik dan caranya persis sama walaupun ditempat yang berbeda. Menurut E. H. Sutherland menegaskan bahwa “Semua tingkah laku kriminal dapat dipelajari dalam hubungan interaksi dengan orang lain melalui komunikasi”. Sutherland mengartikan istilah Asosiasi Diferensial.

Lingkungan sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang, hal ini dijadikan suatu paradigma positivis menekankan pada determinisme dimana tingkah laku seseorang adalah disebabkan oleh hasil hubungan erat sebab-akibat antara individu yang bersangkutan dengan lingkungannya.

Teori lingkungan ini, antara lain diperoleh oleh Lacasagne, yang menuangkan sebab musabab kejahatan adalah :
1. Lingkungan yang memberi kesempatan timbulnya kejahatan
2. Lingkungan pergaulan yang memberi contoh atau teladan
3. Lingkungan ekonomi (kemiskinan, kesengsaraan)
4. Lingkungan pergaulan yang berbeda-beda.

Dalam hal perkembangan seseorang, kontrol sosial dari masyarakat sangatlah berperan penting, dalam teori kontrol sosial kejahatan dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologi antara lain struktur keluarga, pendidikan, kelompok dominan.

Selain lingkungan, kontrol sosial sangat mempengaruhi terhadap tingkat kejahatan, terutama kenakalan anak/remaja, hal ini memperoleh perhatian serius dari sejumlah pakar kriminologi, salah satunya Reiss mengemukakan bahwa ada tiga komponen dari kontrol sosial, ketiga komponen tersebut adalah :
1. Kurangnya kontrol internal yang wajar selama masa anak-anak
2. Hilangnya kontrol tersebut
3. Tidak adanya norma-norma sosial atau konflik antara norma-norma dimaksud (di sekolah, orang tua, atau lingkungan dekat)
Ketiga konsep ini telah menjadikan bahan acuan oleh pakar kriminologi, ketiga konsep tersebut digunakan oleh Walter Reckles (1961) dengan bantuan Simon Dinitz yang mengemukakan Contaiment Theory, teori ini menjelaskan bahwa kenakalan anak/remaja merupakan hasil akibat dari interrelasi antara dua bentuk kontrol, yaitu kontrol eksternal atau social control dan kontrol internal atau internal control.

Tingkah laku seseorang mencerminkan berbagai ragam pandangan tentang kesusilaan, pada prinsipnya seseorang bebas melakukan kejahatan, atau penyimpangan-penyimpangan tingkah lakunya.
Hal ini ditegaskan oleh Hirschi bahwa penyimpangan tingkah laku tersebut diakibatkan oleh tidak adanya keterikatan atau kurangnya keterikatan (moral) pelaku tersebut masyarakat.

D. Penanggulangan
Dalam upaya penanggulangan kejahatan khususnya pencabulan ada tiga cara yaitu : usaha preventif, usaha refresif, dan usaha repormasif.
1. Upaya preventif ini dapat dilakukan dengan :
a. Upaya pencegahan kejahatan
Upaya preventif disini dimaksudkan sebagai suatu upaya pencegahan perbuatan cabul jauh sebelum terjadi. Upaya ini dapat dilakukan antara lain dengan :
1) Adanya pengawasan dan bimbingan dalam lingkungan keluarga secara efektif.
Berdasarkan pengetahuan yang memadai, para orang tua yang melakukan pengelolaan putra-putrinya, baik pada tahap anak-anak, tahap remaja maupun tahap pemuda/pemudi, akan lebih baik sehingga dapat dicegah sikap dan perilaku anak/remaja/pemuda/pemudi yang bertentangan dengan kesusilaan, hubungan yang serasi antara orang tua dengan anak, sangat mempengaruhi terhadap sikap dan perilaku anak tersebut, dengan hubungan yang serasi tersebut, maka orang tua akan dapat :
Menghindari anak/remaja membaca buku-buku berkenaan dengan cabul.
a) Menghindari anak/remaja untuk tidak melihat senggama.
b) Menghindari remaja/pemuda/pemudi mengenai pakaian yang dapat membangkitkan gairah birahi.
c) Menghindari anak/remaja/pemuda/pemudi menonton film biru (film porno).
d) Menghindari anak/remaja/pemuda/pemudi memiliki uang yang secara berlebihan.
e) Mengarahkan anak/remaja/pemuda/pemudi untuk memahami budi pekerti, manusia berbudi luhur hal ini dapat dilakukan, antara lain dengan cara menyediakan buku-buku yang berisi ajaran agama, buku-buku cerita yang dikenal dengan hitam putih dimana putih akan menang.
f) Menghindari anak/remaja/pemuda/pemudi dari “kesendirian” agar tidak mengalami kehilangan keseimbangan.

Selain hal tersebut, orang tua seyogyanya selalu menyadari bahwa anak akan tumbuh dan berkembang secara terus menerus menuju kematangan baik perkembangan rohani dengan pengalaman-pengalaman terhadap kegagalan pertentangan ataupun kecemasan.

2) Pendidikan umum/penghayatan nilai-nilai moral bagi remaja.
3) Penertiban kembali pembinaan/mempelajari budi pekerti, adat budaya bangsa dan pelajaran agama disekolah.
4) Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang masalah pendidikan, psikologi dan kesehatan jiwa masyarakat.
Penyuluhan kepada masyarakat untuk memberi pemahaman kepada para orang tua untuk memperhatikan bagi anak/remaja/pemuda/pemudi, memberi informasi untuk menghindar dari hal-hal yang membahayakan perkembangan budinya maupun terhadap bahaya-bahaya yang mungkin akan dialaminya, misalnya :
a) Anak gadis berjalan sendiri pada malam hari berbahaya.
b) Berhati-hati berdua di tempat terpencil.
c) Berhati-hati menerima sesuatu yang berbentuk permen/pil berbusana seksi mengundang bahaya.
d) Percayalah orang yang layak dipercaya.
e) Dan lain-lain
Penyuluhan ini dapat dilakukan melalui ceramah agama, ceramah PKK, dan lain-lain, diantaranya :
(1) Lembaga kesehatan hendaknya selalu mencatat dan memberi data kepada instansi yang bersangkutan tentang adanya kelainan jiwa seseorang di masyarakat yang kebetulan berobat. Hal ini di waspadai perkembangan selanjutnya oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan.
(2) Penertiban resep/penjualan obat-obat terlarang, terutama yang mengandung alkohol, obat terlarang dan racun.
(3) Pembinaan keterampilan khusus bagi para anak/remaja yang putus sekolah.
(4) Perkara-perkara diselesaikan seadil-adilnya dengan melaksanakan Undang-undang secara konsekuen.
(5) Penataan perUndang-undangan

Penataan hukum pidana secara terus menerus dan berkesenambungan, pada era globalisasi dan era pembangunan sekarang telah tiba saatnya untuk dipikirkan, perubahan akan semakin cepat, penemuan-penemuan baru akan selalu muncul tetapi ketertiban dan kepentingan umum tidak akan dikorbankan.
b. Pengawasan ( kontrol ) kejahatan
1) Meningkatkan dinas kontrol/patroli
2) Pemantapan sistem keamanan lingkungan yang sedang digalakkan di masyarakat.
3) Pembinaan kehidupan rumah tangga yang serasi menuju pada kehidupan antara anggota keluarga yang harmonis.
4) Penertiban/seleksi secara efektif penayangan pada televisi maupun pemuatan-pemuatan berita tentang kejahatan kesusilaan, sangat berarti untuk menumbuhkan kehati-hatian anggota masyarakat dan konsekuen menjalankan pedoman penyensoran untuk badan sensor film (BSF).

Dengan demikian tindakan preventif ini diharapkan dapat mengurangi timbulnya kejahatan-kejahatan baru, setidak-tidaknya akan bisa mengurangi/memperkecil jumlah pelaku kejahatan.
2. Upaya refresif
Upaya refresif maksudnya adalah suatu upaya untuk menekan terjadinya kejahatan seminimal mungkin. Adapun upaya refresif ini dilakukan dengan proses sebagai berikut :
a. Razia
Razia yang berkesenambungan oleh aparat keamanan/aparat penyidik terhadap buku/tulisan/kaset vidio porno/film porno/minuman keras sangat berarti.
b. Penangkapan
c. Penahanan
d. Peradilan
e. Hukuman
3. Upaya repormasif

Upaya reformasif ini dimaksudnya adalah upaya untuk merubah atau memperbaiki para narapidana agar tidak mengulangi kejahatan lagi dan menjadi anggota masyarakat yang lebih baik untuk masa depan yang lebih baik lagi dengan memberikan bimbingan dan memperhatikan hak-hak anak

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Mediasi Hukum Adat I Filosofi Hukum Adat I Hukum Adat dan Mediasi Hukum Adat
  2. Makalah Mafia Pajak
  3. Kedudukan anak Perempuan Dalam Hukum Waris I Hukum Waris
  4. Perkembangan Hukum Adat Dalam Yurisprudensi Indonesia
  5. Hukum Pidana Adat
  6. Perbuatan melanggar hukum adat Logika Sanggraha di Bali
  7. Makalah Hukum Adat Perkawinan
  8. Asas asas Hukum Adat