Faktor Penyebab Pencabulan Yang Dilakukan Anak Dan Upaya Penanggulangannya

BAB I
PENDAHULUAN

pencabulan anak

A. Latar Belakang Masalah

Anak adalah generasi muda yang membawa perubahan pada Negara lebih baik lagi. Anak sebagai salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peranan strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus, memelurkan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh, selaras, dan seimbang.

Anak merupakan generasi penerus bangsa,di mana anak-anak adalah pemegang estafet pembangunan bangsa, jadi masa depan bangsa ini akan lebih baik apabila generasinya adalah orang-orang yang terdidik.

Dewasa ini masalah moral anak sangatlah merosot, hal ini dapat di lihat di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, yang menyajikan berita-berita tentang kejahatan yang menyangkut kesusilaan yang dilakukan anak.

Tindak pidana pencabulan telah di atur dalam KUHP Indonesia, diantaranya:
1. Perbuatan cabul dengan kekerasan (Pasal 289 KUHP).
2. Perbuatan cabul dengan seseorang dalam keadaan pingsan (Pasal 290 ayat (1) KUHP).
3. Perbuatan cabul dengan membujuk seseorang (Pasal 290 ayat (3) KUHP).
4. Perbuatan cabul dengan tipu daya dan kekuasaan yang timbul dari pergaulan (Pasal 293 KUHP).

Adapun jenis tindak pidana pencabulan yang di lakukan anak, akan mengakibatkan pelakunya mendapatkan sanksi yang sesuai dengan system hukum Indonesia, hal ini juga berakibat fatal terhadap korbannya, tindak pidana ini dalam KUHP digolongkan sebagai kejahatan terhadap kesusilaan,tidak hanya menghancurkan masa depan anak sebagai korban pencabulan tetapi juga menghancurkan masa depan pelaku sangat berpengaruh pada mental si anak.

Dalam system hukum Indonesia tidak memandang orang atau pelaku yang dapat dijatuhi hukuman, mulai dari orang dewasa bahkan anak-anak kalau terbukti telah melakukan tindak pidana harus mendapatkan hukuman yang sesuai.
Kejahatan yang menyangkut kesusilaan khususnya tindak pidana pencabulan yang terjadi di provinsi jambi bukan hanya pelaku orang dewasa, tetapi anak-anak ikut juga sebagai pelaku tindak pidana pencabulan yang korbannya juga sama-sama anak.

Tindak pidana pencabulan merupakan suatu masalah sosial yang timbul dewasa ini, tindak pidana pencabulan dapat terjadi di kalangan manapun, baik di kalangan biasa maupun di kalangan masyarakat elit, juga dapat timbul di kalangan orang yang berpendidikan tinggi maupun rendah.

Sumbangan pemikiran pemecahan masalah tersebut terus di upayakan oleh para Ahli Hukum dan juga para masyarakat secara luas, pemikiran–pemikiran untuk memecahkan, pencegahan dan menanggulangkan masalah kejahatan tersebut.
Tindak pidana pencabulan juga merupakan suatu perbuatan yang mengandung sifat ketidakadilan, berdasarkan sifat ini memang sepatutnyalah tindak pidana atau kejahatan ini di larang dan di ancam dengan hukuman karena kejahatan ini meresahkan masyarakat, dan otomatis akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Tindak pidana pencabulan yang ada dalam masyarakat semakin komplek, seiring dengan kemajuan di bidang teknologi dan kemajuan zaman, demikian halnya modus operandi dari tindak pidana pencabulan itu sendiri semakin bertambah kuantitas maupun kualitasnya, sehubungan dengan hal J.E. Sahetapi menyatakan :
“Bahwa kenyataan erat hubungannya dan bahkan menjadi hasil dari budaya itu sendiri, hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat budaya dan semakin modern suatu bangsa, maka semakin modern pula kejahatan itu dalam bentuk, sifat, dan cara pelakunya”.

Pada kenyataannya pelaku tindak pidana pencabulan bukan hanya monopoli orang dewasa saja tetapi telah meluas dilakukan oleh anak-anak juga. Karena negara Republik masih berpegang norma hukum dan adapt istiadat yang kuat menuntut pada setiap warga negaranya untuk dapat berbuat dan bertingkah laku yang baik, berbudi luhur, taat pada hukum dan agama serta hidup dalam pergaulan masyarakat dan menjunjung norma dan adapt istiadat yang berlaku dan berhadapan sehari-hari tergambar sikap anti pati terhadap kejahatan dalam segala bentuk, pada daerah yang memegang adat istiadat dan menjunjung norma hukum menganggap suatu kejahatan apalagi terjadi kejahatan itu menyangkut kesusilaan sungguh merupakan suatu perbuatan sangat tercela dan masih tabu di masyarakat karena mereka tidak mau menerima perbuatan itu terjadi dalam kehidupan adapt mereka. Dengan menanamkan sikap demikian maka di harapkan akan tercipta masyarakat yang damai, tentram, dan di harapkan dalam suasana penuh rukun.

Masa perkembangan anak merupakan masa-masa pertumbuhan bagi fisik, mental, dan peradaptasian si anak pada lingkungan, artinya bahwa pada saat usia tersebut adalah sangat rentan bagi si anak dalam bertindak, bersikap, berfikir, dan beradaptasi sehingga anak perlu di benahi dan di lengkapi dengan berpendidikan yang baik, pembinaan moral agar tidak terjerumus dengan pergaulan yang salah dan aneka tindak pidana.

Di kota Jambi berdasarkan hasil penelitian penulis pencabulan yang dilakukan anak untuk tiap tahunnya masih ada kasus yang terjadi di kota Jambi.


Fenomena ini sungguh memprihatinkan, kenyataan ini sungguh permasalahan masyarakat karena perbuatan ini berakibat fatal bagi masa depan pelaku maupun korbannya.

Menurut penjelasan pasal 293 KUHP peristiwa pencabulan merupakan delik aduan maksudnya ialah delik (peristiwa pidana) yang selalu hanya dapat di tuntut apabila ada pengaduan dari sikorban, jika tidak maka si pelaku bebas dari tuntutan dan menunjukkan pada fakta yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana pencabulan.

Hukuman yang berat tidak sepadan dengan hancurnya masa depan korban, hilangnya kehormatan dan harga diri korban pencabulan, yang tidak mungkin di beli dan di gantikan ataupun di sembuhkan sekalipun hukuman itu berupa mencincang habis tubuh pelaku. Selain itu juga dapat ada beberapa permasalahan hukum yang berhasil diinventarisir Baehman dan Peteerbos yang diikuti oleh Romli Atmasasmita.
1. Pelaku tidak di tangkap dan di tahan karena tidak ada pengaduan dari korban.
2. Banyak pelaku kejahatan seksual (perkosaan, pencabulan, yang di tangkap atau di tahan, tidak di tuntut untuk adanya pelanggaran ringan karena sering terjadi justru korban kemudian berbalik menjadi terdakwa dan di adili karena bukti yang di anggap kurang kuat sehingga pelaku bebas dan si korban balik di tuntut karena di anggap melakukan pencemaran nama baik)
3. Banyak pelaku pencabulan justru sebaliknya adalah kenalan korban misalnya pacarannya, tetangga sehingga tidak dilihat sebagai suatu perkosaan.

Adapun beberapa faktor pendorong terjadinya tindak pidana pencabulan antara lain:
1. Adanya kelainan seksual (pedopilia) gairah seksual seorang lelaki pada Anak-anak.
2. Faktor ekonomi
3. Tingkat pendidikan yang rendah berakibat kurangnya pengetahuan khususnya tentang hukum, sehingga pelaku dalam melakukan perbuatan hanya di dasarkan pada nafsu.
4. Kemerosotan moral
5. Kemajuan teknologi
6. Sanksi pidana yang di jatuhkan masih relatif ringan, sehingga tidak membuat jera pelaku.

Dilihat dari faktor di atas dan dan dalam kenyataan hidup sehari-hari korban pencabulan anak semakin meningkat, hal ini sejalan dengan pendapat Hakim dan Jaksa yang menyatakan anak di bawah umur jadi bisa jadi korban seksual karena anak-anak belum bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, belum bisa menjaga diri sendiri dan masih mudah terpengaruh bujuk rayu.

Pembinaan dan pendidikan anak sejak dini mempunyai peranan yang sangat penting guna menempa mental pola pemikirannya, sebab apabila anak di usia yang dini tidak mempunyai watak dan mental yang baik, maka tidak menutup kemungkinan bahwa si anak akan menjadi pelaku tindak pidana (kejahatan), bagaimana jadinya generasi penerus bangsa menjadi pelaku kejahatan, apa jadinya sebuah bangsa yang mana para generasi penerusnya mengalami kemerosotan moral, di mana kejahatan yang menyangkut kesusilaan khususnya tindak pidana pencabulan yang dilakukan anak, apa jadinya masa depan bangsa, karena anak merupakan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional.

Singgih Gunarsah berpendapat bahwa : “Pada dasarnya anak mempunyai jiwa yang bersih, bagaimana mungkin anak-anak mempunyai keberanian untuk melakukan suatu kejahatan, khususnya perbuatan cabul. Karena dalam masa perkembangan anak aktivitas seksual dapat di katakan tenang, terpendam, tidak aktif”.
Oleh karena itulah penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam sebuah karya ilmiah yang berbentuk skripsi dalam judul “  Faktor Penyebab Pencabulan Yang Dilakukan Anak Dan Upaya Penanggulangannya Di Kota Jambi” .

B. Perumusan Masalah
Dengan demikian berdasarkan fakta dan data tersebut di atas, maka dapat di rumuskan permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang menjadi faktor penyebab pencabulan yang dilakukan anak di kota Jambi?
2. Upaya apa saja yang dilakukan dalam rangka penanggulangan
Pencabulan yang dilakukan anak di kota Jambi?

C. Kerangka Konseptual
Untuk memahami tentang makna yang terkandung dari judul skripsi ini, penulis merasa perlu mengemukakan pengertian beberapa istilah dibawah ini :
1. Faktor Penyebab
Adalah hal atau keadaan, peristiwa yang ikut menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya sesuatu.

2. Pencabulan
Yang di maksud dengan perbuatan cabul sesuai dengan penjelasan 289 KUHP ialah segala perbuatan yang melanggaran kesusilaan, kesopanan, atau perbuatan keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, ciuman, meraba-raba anggota kemaluan dan buah dada.
Pengertian batasan cabul, dalam kamus besar Indonesia memuat arti yaitu keji dan kotor, tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan).

3. Anak
Pengertian batasan anak menurut Pasal 1 Undang-Undang No.3 tahun 1997 tentang pengadilan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum kawin.

4. Upaya Penanggulangan
Menurut kamus hukum pengertian upaya penanggulangan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mengatasi atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

D. Landasan Teoretis
Dalam membahas faktor penyebab perbuatan cabul yang dilakukan anak, hal ini menyangkut sebab-sebab kejahatan baik di pandang dari aspek kriminal maupun prinsip moral, hal ini terdapat hubungan timbal balik antara faktor-faktor umum, sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain dalam lingkungan masyarakat baik lingkungan kecil maupun besar.
Menurut H. Hari Saheroji bahwa secara garis besar faktor-faktor yang menimbulkan kejahatan terdiri atas dua bagian yaitu “faktor-faktor yang bersumber dari dalam individu (intern) dan faktor-faktor yang bersumber dari luar individu (ekstern)”.

Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dari dalam Individu (intern) :

a. Sifat khusus dalam diri individu
Sifat khusus ini adalah keadaan psikologi, individu, masalah kepribadian sering kali menimbulkan kelakuan yang menyimpang, terlebih jika seseorang tertekan perasaannya. Orang tersebut cenderung untuk melakukan penyimpangan, mungkin terhadap sistem sosial atau terhadap pola-pola kebudayaan terhadap beberapa sifat khusus yang dapat menimbulkan kejahatan, seperti :
- Sakit jiwa
- Daya emosional
- Rendah mental
- Anomi Atau kebingungan

b. Sifat umum dalam diri individu
Sifat ini dapat dibagi dalam beberapa jenis antara lain yaitu :
- Umur
- Seks
- Status sosial individu
- Pendidikan individu

2. Dari luar individu (ekstern)
Pengaruh faktor inilah yang menentukan bagi seseorang untuk mengarah pada perbuatan kejahatan. Faktor ekstern yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan kejahatan meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Sosial ekonomi
b. Agama
c. Buku bacaan
d. Film atau media elektronik
e. Lingkungan
Berdasarkan teori-teori faktor penyebab anak melakukan pencabulan, faktor yang paling dominan adalah bersumber dari luar individu (faktor eksteren) yaitu : Sosial ekonomi, agama, buku bacaan, film atau media elektronik, dan lingkungan.
Dalam upaya penanggulangan kejahatan khususnya pencabulan yang dilakukan anak yaitu upaya preventif, upaya refresif, dan upaya reformasif.

1. Upaya preventif ini dapat dilakukan dengan :
- Upaya pencegahan kejahatan
a. Peranan orang tua
b. Peranan sekolah
c. Peranan masyarakat
d. Peranan perUndang-undangan yang seadil-adilnya
e. Mengadakan penyuluhan
- Upaya pengawasan (kontrol) kejahatan meningkatkan pengawasan dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

2. Upaya refresif
Upaya refresif maksudnya adalah suatu upaya untuk menekan terjadinya kejahatan seminimal mungkin. Adapun usaha refresif ini dilakukan dengan proses sebagai berikut :
a. Razia
b. Penangkapan
c. Penahanan
d. Peradilan
e. Hukuman

3. Upaya reformasif
Upaya reformasif ini dimaksudnya adalah upaya untuk merubah atau memperbaiki para narapidana agar tidak mengulangi kejahatan lagi dan menjadi anggota masyarakat yang lebih baik untuk masa depan yang lebih baik lagi dengan memberikan bimbingan dan perhatikan hak-hak anak.

E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini antara lain :
a. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya pencabulan yang dilakukan oleh anak di kota jambi.
b. Untuk mengetahui upaya-upaya penanggulangan pencabulan yang dilakukan anak sebagai korban tindak pidana pencabulan di kota Jambi.

2. Manfaat Penelitian
a. Secara praktis penelitian ini dapat di jadikan masukkan bagi semua lapisan masyarakat terutama bagi orang tua agar lebih memperhatikan perkembangan moral anak.
b. Secara Akademis sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu hukum pidana dan juga dapat di jadikan sebagai titik tolak bagi mereka yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut.

F. Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penulis mengambil lokasi penelitian di Kota Jambi.

2. Spesifikasi Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini, penulis melakukan spesifikasi penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan faktor apa saja penyebab anak melakukan pencabulan dan bagaimana upaya penanggulangannya di Kota Jambi.

3. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan secara yuridis kriminologis, yaitu mempelajari faktor-faktor penyebab kejahatan yang dilakukan oleh anak dalam masyarakat dan upaya penanggulangannya.

4. Tata cara penarikan sampel
a. Menggunakan teknik sensus yaitu untuk responden narapidana anak yang melakukan tindak pidana pencabulan keseluruhan di Lembaga Pemasyarakatan Anak di Muara Bulian.

b. Menggunakan teknik area yaitu untuk menentukan wilayah yang dominan melakukan tindak pidana pencabulan, yaitu di wilayah kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi yang responden narapidana anak adalah 2 responden.
c. Menggunakan purposive sampling yaitu orang-orang yan gmengerti faktor penyebab tindak pidana pencabulan yang dilakukan anak diantaranya :
1) 1 orang Kepolisian Poltabes Jambi
2) 1 orang Jaksa Kejaksaan Negeri Jambi
3) 1 orang Hakim Pengadilan Negeri Jambi
4) 1 orang petugas Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II B Muara Bulian.

5. Sumber Data
Untuk mendapat data yang di perlukan dalam skripsi ini Penulis melakukan penelitian lapangan dan kepustakaan.
a. Penelitian Kepustakaan
1). Bahan hukum primer
Diperoleh melalui peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembahasan skripsi ini, diantaranya KUHP, Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No.3 tahun 1997 tentang peradilan anak.
2). Bahan hukum sekunder
Diperoleh berdasarkan buku-buku atau literature hukum yang ada berhubungan dengan penulisan skripsi ini seperti yang termuat dalam daftar kepustakaan.

3). Bahan hukum tertier
Diperoleh melalui kamus yang berhubungan dengan skripsi ini seperti Kamus Hukum dan Kamus Bahasa Indonesia
b. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan ini di tujukan untuk memperoleh data mengenai kasus yang diteliti.
6. Teknik Pengumpulan Data
Wawancara yaitu wawancara dengan respoden yang telah ditentukan dengan menggunakan teknik pedoman wawancara.
7. Analisis Data
Setelah data dan keterangan yang di peroleh terkumpul, data tersebut di edit selanjutnya di analisis secara kualitatif, yang disajikan dalam bentuk uraian atau pertanyaan-pertanyaan dari analisis tersebut akan ditarik kesimpulan.

 

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Menurut Para Ahli
  2. Fungsi Keluarga Dalam Pendidikan
  3. Makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar | Makalah ISBD
  4. Konsep Strategi Pembelajaran
  5. 8 Keterampilan Mengelola Kelas
  6. Model Penelitian Jurisprudensial
  7. Contoh Surat Pernyataan Bebas dari Plagarisme | Plagiat Skripsi
  8. Fenomena Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan
  9. Keterampilan Mengadakan Variasi Belajar
  10. Contoh Soal UN