BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak menuntut seseorang untuk mmbekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dan mempertahankan diri dari semakin kerasnya kehidupan dunia dan dari berbagai tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi. Melalui pendidikanlah seseorang dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.

Pembangunan nasional bidang pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Undang-undang No. 20 SISDIKNAS, 2003:2). Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan nasional, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat serta perubahan pembangunan.

Sekolah merupakan salah satu wadah penyelenggara pandidikan dan sekaligus bertanggungjawab untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertanggungjawab menanamkan dan memberi bekal ilmu pengetahuan, sikap, kecakapan, budi pekerti serta keterampilan yang berguna bagi siswa sebagai individu maupun lingkungan dimana individu itu berada.

Proses belajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan tidak akan tercapai apabila proses belajar mengajar tidak pernah berlangsung dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar akan tujuan, artinya bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu peristiwa yang terikat dan terarah yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Salah satu ciri sukses dalam belajar adalah memperoleh prestasi yang tinggi. Bila seseorang memperoleh prestasi yang baik, maka secara umum dapat dikatakan bahwa seorang siswa sukses dalam belajar. Lebih lanjut Sukardi (1988:51) menyatakan bahwa prestasi merupakan suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai. Hal ini disadari karena pendidikan dapat meningkatkan kecerdasan dan meningkatkan kualitas suatu masyarakat.

Berkaitan dengan proses interaksi belajar mengajar, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah motivasi belajar dan konsentrasi belajar siswa baik sebelum maupun sedang mengikuti pelajaran. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia,, termasuk perilaku dalam belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran dan insentif.

Di dalam belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Pada motivasi instrinsik, peserta didik belajar karena belajar itu sendiri dipandang bermakna (dapat bermanfaat) bagi dirinya. Pada motivasi ekstrinsik peserta didik belajar bukan karena dapat memberikan makna bagi dirinya, melainkan karena mengharapkan sesuatu di balik kegiatan belajar itu.

Motivasi belajar mempunyai kaitan erat dengan minat belajar siswa. Siswa yang mempunyai minat terhadap suatu bidang studi tertentu akan cenderung tertarik perhatiannya dan akan berkonsentrasi dengan cara memusatkan pikirannya terhadap bidang studi tersebut (Alipande, 1984:16).

Konsentrasi belajar sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, konsentrasi penuh pada seorang siswa akan membuat siswa tersebut dapat menangkap hal-hal yang penting dari materi yang sedang diajarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prayitno (1997:28) bahwa konsentrasi dapat membuat seseorang menguasai apa-apa yang dipelajarinya, karena dengan konsentrasi seluruh perhatian akan tertuju pada apa yang sedang menjadi perhatiannya.

Bagi seorang siswa yang sudah terbiasa berkonsentrasi dalam belajar akan dapat belajar sebaik-baiknya, kapan dan dimanapun berada. Kemampuan berkonsentrasi pada dasarnya ada pada setiap orang dan merupakan kebiasaan yang dapat dilatih jadi bukan bakat/bawaan (Slameto, 2003:86).

Berdasarkan pengamatan sementara, bahwa motivasi dan konsentrasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi bervariasi ada yang rendah, sedang, tinggi dalam mata pelajaran akuntansi. Hal ini tampak pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa yang memiliki motivasi belajar dan konsentrasi belajar yang tinggi berusaha untuk memperhatikan secara serius materi pelajaran yang sedang diterangkan oleh gurunya.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang motivasi belajar dan konsentrasi belajar siswa di SMAN 11 Kota Jambi, dan dalam hal ini penulis mengambil judul “Hubungan Motivasi Belajar dan Konsentrasi Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi”.

1.2 Pembatasan Masalah

Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda-beda, maka penulis membatasi masalah penelitian ini sebagai berikut:
1. Motivasi belajar dalam penelitian ini dibatasi pada motivasi instrinsik yaitu dorongan belajar siswa yang berasal dari dalam diri siswa meliputi: tekun menghadapai tugas, ulet menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa), menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, dan tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya.

2. Konsentrasi belajar dalam penelitian ini adalah pemusatan pikiran dan perhatian pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Pemusatan pikiran dapat diukur melalui 3 indikator, yaitu inhibisi, appersepsi, dan adaptasi. Sedangkan pemusatan perhatian diukur melalui 4 indikator yaitu mengingat, memahami, penemuan dan penalaran.

3. Hasil belajar siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang diperoleh siswa berdasarkan nilai ulangan siswa pada bidang studi akuntansi pada semester genap tahun ajaran 2010/2011.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana motivasi belajar Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi?
2. Bagaimana konsentrasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi?
3. Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi?
4. Apakah terdapat hubungan antara konsentrasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi?
5. Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar dan konsentrasi belajar siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi?

1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang diteliti, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui motivasi belajar Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
2. Untuk mengetahui konsentrasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
3. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
4. Untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
5. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan konsentrasi belajar siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.

1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis temuan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah khasanah kajian pustaka mengenai hubungan motivasi belajar dan konsentrasi belajar siswa dengan hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat menjadi masukan dan informasi bagi guru, sekolah dan pihak terkait dalam membimbing siswa untuk meningkatkan hasil belajar terutama dalam memotivasi anak.

1.6 Defenisi Operasional
1. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak atau kekuatan mental yang timbul baik dari dalam maupun dari luar individu yang menggerakkan atau mendorong perilaku manusia, termsuk perilaku belajar untuk mencapai tujuan yang ingin diinginkan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hasil Belajar

2.1.1 Pengertian Hasil Belajar

Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan tampak pada diri siswa yang merupakan akibat dari proses belajar yang dialaminya. Setelah siswa mengalami proses belajar tertentu pada akhirnya akan diperoleh hasil belajar. Adapun hasil belajar yang diharapkan tersebut adalah hasil belajar yang baik. Karena pembelajaran dikatakan berhasil apabila perubahan tampak pada diri siswa akibat dari proses belajar yang dialaminya. Siswa baru dikatakan berhasil kalau sekurang-kurangnya sudah menguasai tingkat penguasaan minimum dari mata pelajaran (Prayitno, 2001:5).

Menurut Hamalik (2003:155) hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, tingkah laku, sikap, keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan bahwa terjadinya perubahan pada diri seseorang dalam peningkatan dan pengembangan kearah yang lebih baik lagi.

Menurut Mulyasa (2008:94) bahwa hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang dan penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik (Sukmadinata dan Syaodih, 2007: 5-6).

Menurut Purwanto (2001:31) hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa mengikuti unit pelajaran tertentu. Hasil belajar (prestasi belajar) siswa diharapkan adalah kemampuan yang utuh yang mencakup kemampuan kognitif, kemampuan psikomotor, dan kemampuan afektif atau perilaku (Depdiknas, 2003:3). Pendapat Muhibbin (2003:213) pengungkapan hasil belajar idealnya meliputi segenap ranah psikologis yang berubah akibat dari pengalaman dan proses belajar. Penilaian hasil belajar adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dan sekaligus menunjukkan daya serap siswa terhadap kurikulum siswa yang digunakan.

Djamarah (1997:22) mengemukakan hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada individu sebagai hasil dari aktivitas belajar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka dan huruf. Lebih lanjut, Surya (2004:64) menyatakan bahwa hasil belajar siswa ini biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Tidak berbeda dengan Sudjana (1998:45) yang menyatakan bahwa keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tersebut diwujudkan dengan nilai. Jadi, setiap keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tersebut diwujudkan dengan nilai. Jadi, setiap keberhasilan belajar diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang diperoleh siswa.

Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti mendefenisikan hasil belajar adalah keseluruhan perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa pada mata pelajaran tertentu setelah mengalami proses belajar di sekolah dan dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu factor dari dalam diri siswa (variabel intern) dan factor dari luar diri siswa (variabel ekstern). Keduanya saling berinteraksi tanpa adanya variabel intern (berupa motivasi, pengetahuan yang dimiliki) variabel ekstern tak dapat bekerja, demikian pula variabel intern tidak dapat berkembang tanpa stimulus dari luar, Gagne (dalam Nasution, 2005: 62).

Dalam hal ini factor yang datang dari siswa itu sendiri adalah kemampuan yang telah dimilikinya, dimana factor kemampuan itu sangat besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor yang dimiliki siswa juga ada factor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebebasan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik, psikis. Sedangkan factor dari luar diri siswa adalah kualitas pengajaran. Menurut Nasution (1992:97)terdapat sejumlah faktor dalam diri seseorang yang mempengaruhi kemampuan individu untuk belajar yakni faktor efektif (emosional), motivasi, faktor kematangan usia, jenis kelamin dan latar belakang social, kebiasaan belajar dan ingatan atau daya ingat, disamping faktor kognitif seperti intelegensi (tingkat pemahaman) dan kreativitas, sedang Ngalim (2006:107) membagi faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor dari dalam (lingkungan , instrumental) dan faktor dari luar (fisiologis, psikologi).

Selanjutnya menurut Dimyati (1996:97) factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah factor dari siswa yang meliputi (kemampuan, intelegensi, motivasi, perasaan, sikap, minat, keadaan social ekonomi, keadaan psikis dan fisik) dan factor guru. Bila dilihat maka akan mendapatkan bahwa sikap merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar. Sikap positif terhadap sesuatu merupakan dorongan yang besar untuk mencapai prestasi yang baik. Jadi sikap positif dapat dilihat dari konsep diri yang dimiliki siswa itu sendiri dalam hal memahami apa yang ada pada dirinya baik itu pengetahuan dirinya , harapan yang ada pada dirinya dan bagaimana siswa itu menilai dirinya sendiri. Karena pengaruh factor-faktor tersebut, muncul-muncul siswa yang high achievers (berprestasi tinggi) dan under achievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali.

Dalam hal ini guru yang kompeten dan professional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi factor yang menghambat proses belajar mereka (Syah Muhibbin, 2003:145).

Hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu dari dalam diri siswa dan factor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan. Bagaiaman yang dikatakan oleh Slameto (2003:54) untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal banyak factor-faktor yang mempengaruhinya, akan tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu factor dari dalam individu yang belajar (factor internal) dan factor yang berasal dari luar individu yang belajar (factor eksternal).

2.1.3 Indikator Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrument tes yang relevan (http://pangandaraninfo.com/2010/04/01).

Menurut Irdawati (2006:10) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dan biasanya dinyatakan dalam bentuk angka dan huruf. Selanjutnya, hasil belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai setiap anak pada periode tertentu (http://pangandaraninfo.com/2010/04/01). Adapun Arikunto (2001:276) hasil belajar adlah hasil yang diperoleh siswa dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata:baik, sedang, kurang, dan sebagainya.

Bertolak dari pendapat di atas, indicator hasil belajar dalam penelitian iini adalah nilai ulangan harian siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi pada mata pelajaran Ekonomi semester II tahun pelajaran 2010/2011. Adapun nilai ulangan harian tersebut merupakan hasil pengolahan tes yang diberikan/dibuat oleh guru Ekonomi yang mengajar di kelas XI IPS SMAN 111 Kota Jambi sehingga sudah dianggap valid dan reliabel.

2.2 Motivasi Belajar

2.2.1 Pengertian motivasi
Dimyati dan Mudjiono (2009:97) menyatakan bahwa motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Selanjutnya, Winkel (1990:39) menyatakan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arak pada kegiatan belajar itu, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai. Sedangkan menurut Uno (2008:33) hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsure yang mendukung.

Motivasi belajar menurut Mc Donal (dalam Nashar, 2004:39) adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan, atau dengan kata lain motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar.

Dari pengertian motivasi belajar yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan motivasi belajar adalah dorongan yang timbul baik dari dalam maupun dari luar individu yang menggerakkan atau mendorong perilaku manusia, termasuk perilaku belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2.2.2 Jenis dan sifat motivasi

Sadirman (2001:86) menyatakan jenis-jenis motivasi yang terjadi atas dasar pembentukannya terbagi atas 2 (dua) jenis, yaitu: motivasi bawaan, dilatarbelakangi oleh fisio kemis di dalam tubuh seseorang yang telah dibawa sejak lahir dan terjadinya tanpa dipelajari, 2) motivasi yang dipelajari, terjadi karena adanya komunikasi dan isyarat social serta secara sengaja dipelajari oleh manusia.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:86-88) ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.
a. Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar, motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, ataupun jasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting ataupun kebutuhan jasmaninya. MC Dougall, berpendapat bahwa tingkah laku terdiri dari pemikiran tentang tujuan perasaan subjektif dan dorongan mencapai kepuasan. Insting tersebut diaktifkan, dimodifikasi, dipicu secara spontan dan dapat terorganisasi.
b. Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari, motivasi sekunder ini disebut juga motivasi social. Sebagai ilustrasi, orang yang lapar akan tertarik pada makanan tanpa belajar. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. “Bekerja dengan baik, maka ia memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut merupakan penguat motivasi sekunder agar orang bekerja dengan baik”.
Sedangkan dilihat dari sifatnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang (motivasi instrinsik) dan motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang (motivasi ekstrinsik). Lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Motivasi Instrinsik
Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Djamarah, 1994:35). Menurut Syah (2004:151) motivasi instrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam siswa itu sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Siswa yang memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, dan ahli dalam bidang studi tertentu harus belajar, tanpa belajar tidak mungkin tuuan, kebutuhan, keinginan, perhatian, cita-cita pebelajar dapat tercapai. Jadi dapat dikatakan bahwa motivasi itu timbul dari kesadaran diri sendiri.
Dalam pembelajaran, siswa yang termotivasi secara instrinsik dapat dilihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas belajar karena merasa butuh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Tuuan belajar yang sebenarnya adalah untuk menguasai apa yang sedang dipelajari, bukan untuk mendapat pujian dari guru.
b. Motivasi Ekstrinsik
Menurut Djamarah (1994:37) motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi instrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila siswa menempatkan tujuan belajarnya di luar factor-faktor situasi belajar. Siswa belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, seperti mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan dan sebagainya.

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran. Motivasi ekstrinsik merupakan suatu alat yang cukup ampuh dan senantiasa digunakan guru untuk membangkitkan gairah belajar setiap siswa. Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar siswa mau belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan minat siswa dalam belajar. Motivasi ekstrinsik sering digunakan karena bahan pelajarann kurang menarik perhatian siswa atau karena sikap tertentu pada guru.

Berdasarkan jenis dan sifat motivasi yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat dilihat dari jenis dan sifatnya, motivasi berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi motivasi primer dan motivasi sekunder. Sedangkan menurut sifatnya motivasi dibedakan menjadi motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Keduanya saling berkaitan dan dapat mempengaruhi satu sama lain.

2.2.3 Indikator Motivasi Belajar

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat eksistensi dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi instrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.

Menurut Handoko (1992:59) untuk mengetahui kekuatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari beberapa indicator sebagai berikut:

1) kuatnya kemauan untuk berbuat,

2) jumlah waktu yang disediakan untuk belajar,

3) kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas lain,

4) ketekunan dalam mengerjakan tugas, atau tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya, artinya ia percaya dengan apa yang dikerjakannya atau tefuh pendiriannya.

Sedangkan menurut Sardiman (2001:81) indicator motivasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa (instrinsik) adalah sebagai berikut:
1. Tekun menghadapi tugas, artinya siswa dapat bekerja secara terus-menerus dalam waktu yang lama (tidak pernah berhenti sebelum selesai). Seperti siswa mulai mengerjakan tugas tepat waktu, mencari sumber lain, tidak mudah putus asa dan memeriksa kelengkapan tugas.
2. Ulet menghadapi kesulitan, siswa tidak lekas putus asa dalam menghadapi kesulitan. Dalam hal ini, siswa bertanggungjawab terhadap keberhasilan dalam belajar dan melaksanakan kegiatan belajar.
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah yang terdiri dari berani menghadapi masalah, mencari jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah.
4. Lebih senang bekerja mandiri, artinya tanpa harus disuruh ia mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
5. cepat bosan pada tugas-tugas rutin atau hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja sehingga kurang kreatif.
6. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).
7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya, artinya ia percaya dengan apa yang dikerjakannya atau teguh pendirian.

Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (2009:97-100) yang menyatakan bahwa ada beberapa factor yang memperngaruhi motivasi belajar siswa, antara lain:
a. Motivasi instrinsik terdiri dari:
1) Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita biasanya dimiliki oleh setiap orang sejak masih kecil dan mereka akan selalu berusaha untuk mewujudkannya. Cita-cita dalam pembelajaran meliputi dua hal, yaitu cita-cita untuk memperoleh peringkat dan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan.
2) Kebutuhan

Motivasi erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Menurut Maslow (dalam Uno, 2008:40) mambagi kebutuhan manusia menjadi 5 tingkatan yaitu:
a) kebutuhan fisiologi
Kebutuhan yang harus dipuaskan agar tetap bertahan hidup, temasuk makanan, perumahan, pakaian, udara untuk bernafas, dan sebagainya.
b) kebutuhan akan rasa aman
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah dipuaskan, maka perhatian dapat diarahkan kepada kebutuhan akan keselatan. Keselamatan itu termasuk rasa aman dari setiap jenis ancaman fisik atau kehilangan, serta merasa terjamin.
c) kebutuhan cinta kasih dan kebutuhan social
Ketika seseorang telah memuaskan kebutuhan fisiologis dan rasa aman, kepentingan selanjutnya adalah hubungan antar manusia. Cinta kasih dan kasih saying diperlukan dalam tingkat ini, mungkin disadari melalui hubungan antarpribadi yang mendalam, tetapi juga tercermin dalam kebutuhan untuk menjadi bagian beberapa kelompok social.
d) kebutuhan akan penghargaan
Jika dikaitkan dengan pekerjaan, hal ini berarti memiliki pekerjaan yang dapat diakui sebagai manfaat dalam menyediakan sesuatu yang dapat dicapai, serta pengakuan umum dan kehormatan di dunia luar.
e) kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan tersebut ditempatkan paling atas pada hirarki Maslow dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri.
3) Kemampuan siswa
Setiap keinginan yang dimiliki oleh setiap individu harus seiring dengan kemampuan mereka dalam mencapainya, tanpa adanya kemapuan yang cukup untuk mewujudkannya, keinginan tersebut hanya akan menjadi sebatas keinginan. Seseorang yang memiliki kemampuan, akan membuat mereka merasa percaya diri untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
4) Kondisi siswa
Manusia memiliki dua unsure dalam kehidupan, yaitu unsure jasmani dan rohani. Kedua unsur ini akan mempengaruhi kondisi seseorang dalam beraktivitas. Orang yang sedang sakit, lapar, haus, atau sedang ada masalah tentunya tidak akan dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik, sebaliknya siswa yang kenyang atau gembira akan mudah memusatkan perhatiannya dalam belajar. Jadi dapat dikatakan untuk bisa aktif dalam belajar kondisi fisik da psikis siswa harus terjaga dengan baik.
5) Kondisi lingkungan belajar
Lingkungan belajar menentukan kelancaran proses belajar mengajar. Llingkungan belajar ini meliputi lingkungan fisik tempat belajar dan kondisi social disekitar lingkungan belajar.
Uno (2008:23) menyatakan bahwa indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

(1) adanya hasrat dan keinginan berhasil,

(2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar,

(3) adanya harapan dan cita-cita masa depan,

(4) adanya penghargaan dalam belajar,

(5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif (lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat).

Dari beberapa indikator motivasi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas, berarti seseorang itu memiliki motivasi yang tinggi. Kegiatan pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila siswa tekun mengerjakan tugas, menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa), ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri serta tidak terjebak pada sesuatu yang rutinitas.

2 Oleh sebab itu, sesuai dengan pengertian motivasi belajar yang telah dikemukakan penulis sebelumnya, bahwa motivasi belajar yang memiliki pengaruh kuat terhadap hasil belajar adalah dorongan dari dalam diri siswa, maka indikator motivasi belajar dalam penelitian ini yang cocok dengan pengertian tersebut dan penelitian ini adalah indicator motivasi belajar yang dikemukakan oleh Sardiman yakni:

(1) tekun menghadapi tugas, meliputi: mengerjakan tugas tepat waktu, mencari sumber lain, tidak mudah putus asa dan memeriksa kelengkapan tugas;

(2) ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa), meliputi: belajar terus menerus, memperbaiki tugas sampai benar, bertanya pada teman dan guru, belajar bersama dan mencari informasi untuk menunjang pembelajaran;

(3) menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, meliputi: berani menghadapi masalah, mencari jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah;

(4) lebih senang bekerja mandiri, meliputi: mengerjakan tugas-tugas tambahan selama jam sekolah, menyusun jadwal belajar, keperpustakaan dan mengikuti bimbingan belajar;

(5) cepat bosan pada tugas-tugas rutin, meliputi: melakukan kegiatan yang kreatif, menyelesaikan pekerjaan dengan kreatif;

(6) dapat mempertahankan pendapatnya, meliputi: berani mengeluarkan pendapat, mengeluarkan pandapat berdasarkan alasan yang kuat, dan (7) tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya, meliputi: teguh pendirian.

2.3 Konsentrasi Belajar

2.3.1 Pengertian Konsentrasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia konsentrasi adalah pemusatan perhatian atau pikiran pada suatu hal. Hal ini sejalan denga pendapat Levitt Irene(2004:85) konsentrasi merupakan kemampuan untuk memusatkan perhatian dari kepentingan-kepentingan lain.menurut Slameto (2003:86) konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampingkan semua hal yang tidak berhubungan denga pelajaran tersebut. Sedangkan menurut Prayitno(1997:25) konsentrasi adalah pemusatan perhatian kepada salah satu objek yang sedang menjadi perhatiannya.

Konsetrasi besar pengaruhnya terhadap belajar. Jika seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi, jelas belajarnya akan sia-sia, karena hanya mambuang tenaga, waktu dan biaya saja. Seseorang yang dapat belajar dengan baik adalah orang yang dapat berkonsentrasi dengan baik, dengan kata lain ia harus memiliki kebiasaan untuk memusatkan pikiran .

Dalam kenyataannya seseorang sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, hal ini disebabkan karena: kurang berminat terhadap mata pelajaran yang diprlajari, terganggu oleh keadaan lingkungan (bising, keadaan yang semrawut, cuaca buruk dan lain-lain), pikiran kacau dengna banyak urusan/masalah-masalah kesehatan (jiwa dan raga) yang terganggu (badan lemah), bosan terhadap pelajaran/sekolah dan lain-lain.

Selanjutnya agar dapat berkonsentrasi dengan baik (untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi lebih baik) perlulah diusahakan sebagai berikut: pelajar hendaknya berminat atau punya motivasi yang tinggi, ada tempat belajar tertentu dengan meja belajar yang bersih dan rapi, mencegah timbulnya kejemuan/kebosanan, menjaga kesehatan dan memperhatikan kelelahan, menyelesaikan soal/masalah-masalah yang mengganggu dan bertekad untuk mencapai tujuan/hasil terbaik setiap kali belajar.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi meliputi proses pemusatan perhatian dan pemusatan pikiran terhadap suatu objek dengan menyampingkan semua hal yang tidak berhubungan dengan objek tersebut.

2.3.1.1 Pemusat Perhatian

Perhatian merupakan keaktifan jiwa yang diarahkan keada suatu objek, baik di dalam maupun di luar dirinya (Ahmadi, 2003:145). Dalam memusatkan perhatian berhubungan erat pada kesadaran yang dimiliki seseorang dalam memusatkan perhatiannya tidak selalu tetap, adakalanya meningkat dan adakalanya menurun. Semakin kuat konsentrasi jiwa maka semakin cepat pula lenyapnya unsur-unsur yang tidak menjadi sasaran dari kesadaran.

Dalam memusatkan perhatian pada suatu objek diperlukan unsure-unsur yang dapat membentuk perhatian tersebut, yang terbagi atas tiga unsur yaitu:

(1) inhibisi,

(2) appersepsi,

(3) adaptasi (Ahmadi, 2003:146).

1. Inhibisi
Menurut Ahmadi (2003:146) inhibisi merupakan pelanggaran atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan atau menghalang-halangi masuk kedalam lingkungan kesadaran. Disini jiwa membatasi lapangan kesadaran. Inhibisi diukur melalui dua deskriptor yaitu: menghilangkan perasaan bosan untuk belajar dan menghiraukan teman bicara

2. Appersepsi
Appersepsi merupakan pengarahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk tanggapan, pengertian dan sebagainya yang telah dimiliki dan bersesuaian/berhubungan dengan objek pengertian. Appersepsi bertujuan agar jiwa lebih memahami objek yang sedang menjadi sasaran. Dalam proses pembelajaran pada saat mempelajari suatu materi pelajaran agar peristiwa atau proses appersepsi dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, maka siswa diperlukan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan materi pelajaran tersebut yang saling berkaitan.

Appersepsi dapat diukur melalui lima descriptor yaitu:

(i) mengadopsi penjelasan guru,

(ii) menghubungkan materi lama dengan materi baru

(iii) menghubungkan dengan bahan bacaan lain,

(iv) membandingkan denga pendapat orang lain,

v) membandingkan dengan acara TV.

3. Adaptasi
Peristiwa penyesuaian diri disebut adaptasi. Pada saat proses pemusatan perhatian organ-organ tubuh baik jasmani maupun rohani yang diperlukan untuk menerima objek harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam nenperhatikan suatu objek organ tubuh menjadi giat dalam menyesuaikan diri dengan tujuan/objek.

Untuk dapat memperoleh hasil belajar yang telah ditetapkan oleh seorang siswa, maka siswa itu harus dapat menyesuaikan diri dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari, ataupun penyesuaian diri dengan lingkungan dan kondisi tempat siswa tersebut belajar.

Adaptasi dapat diukur melalui tujuh descriptor yaitu

(i) lingkungan ribut,

(ii) belajar dimana saja,

(iii) belajar pada jam berapapun,

(iv) belajar dengan musik atau tanpa musik,

(v) belajar walaupun keadaan sekitar tidak sunyi atau tidak sepi,

(vi) tidak berhenti belajar walaupun teman mengajak bermain dan

(vii) tidak berhenti belajar walaupun ada tamu.

Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, jika siswa sudah memenuhi tiga syarat tersebut, yaitu inhibisi, appersepsi, dan adaptasi maka cukuplah perhatian siswa terhadap objek yang diperhatikan sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalalan dengan baik tanpa gangguan.

2.3.1.2 Pemusatan pikiran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pikiran merupakan hasil berpikir (memikirkan). Dalam proses berpikir selalu brhubungan dengan masalah-masalah yang timbul dari situasi masa kini, masa lampau dan masalah-masalah yang belum terjadi (Abu Ahmadi, 2003:166). Proses pemecahan masalah tersebut dikatakan proses berpikir, dengan kata lain setiap menghadapai masalah terdapat macam-macam factor yang kesemuanya merupakan rangkaian pemecahan masalah itu sendiri. Pemusatan pikiran merupakan keseluruhan kemampuan yang digunakan untuk berpikir.

Kemampuan untuk memusatkan pikiran terhadap suatu hal atau pelajaran itu pada dasarnya ada pada setiap orang. Hanya besar atau kecilnya kemampuan itu berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut, lingkungan dan latihan/pengalaman. Pemusatan pikiran merupakan kebiasaan yang dapat dilatih, jadi bukan bakat.pembawaan. pemusatan pikiran dapat dicapai dengan mengabaikan atau tidak memikirkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya, jadi hanya memikirkan suatu hal yang dihadapi/dipelajari serta ada hubungannya saja.

Menurut Guilford (dalam Slameto, 2003:144) berpikir terdiri dari tiga unsur yaitu: (i) mengingat, (ii) memahami, dan (iii) kognisi (penemuan).
1. Mengingat
Menurut Guilford (dalam Slameto, 2003:144) mengingat merupakan menyimpan apa yang sudah pernah dikenal. Dalam proses pembelajaran mengingat berkaitan dengan kemampuan siswa untuk menyimpan materi pelajaran yang telah dipelajari baik di sekolah maupun di rumah. Mengingat dapat berlangsung untuk jangka waktu yang singkat ataupun dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Siswa akan lama menyimpan apa yang telah dipelajarinya apabila belajar yang berarti lebih mudah terjadi dan lebih lama diingat dengan belajar yang tampaknya tidak ada artinya.
2) Memahami
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memahami berarti mengerti dengan benar atau memaklumi dan mengetahui secara benar. Dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung memahami berkaitan dengan kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran yang sedang dipelajari.
3) kognisi (penemuan)

Menurut Guilford (dalam Slameto, 2003:144) kognisi merupakan penemuan atau penemuan kembali apa yang belum pernah dan apa yang sudah pernah dipikirkan sebelumnya. Dalam proses pembelajaran penemuan kembali dapat berupa pengertian yang sudah pernah dipelajari ataupun memperoleh pengertian baru bagi siswa itu sendiri.

Dalam proses pembelajaran di sekolah seorang guru dapat membantu dalam mengarahkan pikiran siswa untuk membayangkan hal-hal yang belum pernah dialami oleh seorang siswa. Sehingga akan keluar ide-ide yang cemerlang dari siswa tersebut.

Kemampuan untuk memusatkan pikiran terhadap suatu hal atau pelajaran pada dasarnya ada pada setiap orang., hanya besar kecilnya kemampuan itu berbeda karena dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut, lingkungan, latihan pengalaman. Seorang guru dapat membantu siswa dalam memusatkan perhatian dan pikiran siswa teradap pelajaran yang akan atau sedang berlangsung. Untuk mengidentifikasi apa yang penting, sulit, atau sesuatu yang belum dikenal, membangkitkan kembali informasi yang telah dipelajari dan memahami materi baru dengan menghubugkan materi itu dengan informasi yang telah ada. Dalam memusatkan perhatian siswa, seorang guru dapat melakukan langkah sebagai berikut:
a) Sebelum topic diperkenalkan seorang guru dapat melakukan tes awal, untuk memberikan kesadaran tentang apa yang belum diketahui tentang topic tersebut.
b) Guru dapat juga menarik perhatian siswa dalam rangka memperkenalkan topic pelajaran dengan memulai bercerita pendek atau melalui berita surat kabar yang sedang hangat dibicarakan yang berkaitan dengan topic.
c) Mengemukakan alasan-alasan penting mengenai topic yang harus dipelajari.

Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu. Perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (Hilgard dan Bower dalam Purwanto, 1990:84). Belajar yang berhasil memerlukan konsentrasi yang penuh. Untuk dapat berkonsentrasi secara penuh sangat dipengaruhi oleh lingkungan sebagai penentu proses kelancarannya. Tempat belajar hendaknya tenang jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari sekitar. Hal ini sejalan dengan pendapat Prayitno (1997:32) yang menyatakan kegiatan belajar dilaksanakan dalam suasana kondusif, yaitu suasana yang memenuhi persyaratan dan menunjang bagi upaya belajar yang lancer dan berhasil.

2.4 Karakteristik Pelajaran Akuntansi

Akuntansi adalah keseluruhan pengetahuan dan fungsi yang berhubungan dengan penciptaan, pengesahaan, pencatatan, pengelompokkan, pengolahan, penyimpulan, penganalisaan, penafsiran dan penyajian informasi yang dapat dipercaya dan penting artinya, secara sistematik mengenai transaksi-transaksi yang sedikit-dikitnya bersifat financial dan yang diperlukan untuk pimpinan dan operasi suatu badan untuk laporan-laporan yang harus diajukan mengenai hal tadi guna memenuhi pertanggungjawaban yang bersifat keuangan atau lainnya (Hadibroto. Dkk, 1997:2).

Mata pelajaran akuntansi merupakan salah satu program dalam kurikulum di sekolah menengah atas yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam merencanakan system pencatatan penyusunan laporan tersebut, dimana memerlukan ketelitian, motivasi dan konsentrasi.

2.5 Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar

Motivasi adalah sesuatu yang menjadi penggerak atau pendorong seseorang untuk mencapai apa yang diinginkannya. Menurut Hamalik (2001:105) pandangan baru berpendapat bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu. Perbuatan belajar akan berhasil bila berdasarkan motivasi pada diri siswa. Mungkin dapat dipaksa untuk melakukan suatu perbuatan, tetapi tidak mungkin dapat dipaksa untuk menghayati peruatan sebagaimana mestinya.
Di dalam proses belajar siswa yang termotivasi secara intrinsic dapat dilihat dari kegiatan yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas. Karena merasa butuh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Menurut Gagne dan Berliner (dalam Prayitno, 1989:11) mengemukakan bahwa siswa yang termotivasi secara intrinsic aktivitas yang tinggi dalam belajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar secara intrinsic yang dimiliki siswa dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2.6 Hubungan konsentrasi Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar
Sadirman (2001:38) konsentrasi dimaksudkan memusatkan segenap kekuatan perhatian pada situasi belajar. Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan, sehingga tidak perhatian sekedarnya. Perhatian yang sekedarnya menyebabkan materi yang masuk dalam pikiran mempunyai kecenderungan tidak berkesan, kesan itu akan jelas bagi seseorang untuk memahami secara umum apa yang telah dilihat dan apa yang telah didengar. Tetapi cukup kuat untuk membuat kesan yang hidup dan tahan lama (abadi).
Dengan berkonsentrasi seluruh perhatian siswa akan tertuju materi pelajaran yang sedang ia pelajari, sehingga mampu menangkap secara keseluruhan dan tersimpan lebih lama, yang pada akhirnya akan memberikan hasil belajar yang lebih baik.

2.7 Hubungan Motivasi dan Konsentrasi Belajar Siswa Dengan Hasil Belajar
Menurut Hamalik (dalam Irma Suryani, 2005:34) menyatakan istilah motivasi menunjukkan kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan intensif di luar diri individu.
Konsentrasi belajar yang tinggi akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini sejalan denga pendapat Prayitno (1997:27) yang menyatakan bahwa belajar yang serius memerlukan konsentrasi penuh agar membawa hasil yang optimal
Dalam kegiatan belajar siswa yang mempunyai motivasi belajar yang kuat akan terdorong dan berusaha untuk berkonsentrasi penuh pada setiap proses belajar yang dilakukannya (Slameto, 2003:87), karena semakin tinggi motivasi belajar siswa, maka semakin tinggi konsentrasi belajar siswa sehingga pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa, karena motivasi selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2.8 Kerangka Berfikir
Motivasi belajar merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri maupun dari luar individu untuk mendorong manusia melakukan sesuatu termasuk belajar. Tanpa motivasi seseorang akan sulit melakukan dan mencapai apa yang mereka inginkan temasuk pula mencari ilmu.
Konsentrasi merupakan pemusatan pikiran dan perhatian terhadap suatu objek dengan menyampingkan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan objek tersebut. Seseorang yang memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar akan mampu berkonsentrasi dengan baik terhadap pelajaran yang dilakukannya. Oleh karena itu, semakin tinggi motivasi belajar siswa, maka semakin tinggi pula konsentrasi belajar siswa yang akhirnya akan menyebabkan hasil belajar yang diperolehpun akan meningkat pula.
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Korelasi Antara Motivasi Belajar dan Konsentrasi Belajar Siswa Dengan hasil Belajar Siswa.

2.9 Hipotesis
Untuk menguji ada tidaknya hubungan variabel X1 (motivasi belajar) dan X2 (konsentrasi belajar) dengan variabel Y (hasil belajar), maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Ho : Tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
Ha : Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
2 Ho : Tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsentrasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
Ha : Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
3. Ho : Tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan konsentrasi belajar secara bersama-sama dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.
Ha : Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan konsentrasi belajar secara bersama-sama dengan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi siswa kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui nilai variabel mandiri baik variabel satu atau lebih untuk menganalisis data dengan cara mendeslripsikan atau menggambarkan suatu gejala, peristiwa, dan kejadian saat penelitian berlangsung (Sugiyono, 2006:169). Menggambarkan keadaan status atau fenomena dalam hal ini peneliti ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu (Arikunto, 1998:245).
3.2 Variabel Penelitian
Menurut Sutrisno Hadi (dalam Arikunto, 1998:97) mendefinisikan variabel penelitian sebagai gejala yang bervariasi. Sedangkan menurut Sanusi (2003:31) variabel penelitian adalah suatu peristiwa atau kejadian yang ditangkap oleh indra manusia dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Dengan demikian variabel penelitian adalah gejala yang menjadi objek penelitian atau titik perhatian dalam penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah:
1) Variabel bebas (independen variable) yaitu tingkat pendidikan (X1) dan dorongan belajar orang tua (X2).
2) Variabel terikat (dependen veriable) yaitu prestasi belajar siswa (Y).
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPS SMAN 11 Kota Jambi pada semester genap tahun ajaran 2010/2011.

 

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: CV. Alfabeta

Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Debdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hamalik, Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Suatu Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara

Handoko, Martin. 1992. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius

Http://Pangandaraninfo.Com. Diakses tanggal 17 Desember 2010

Levitt, Irene. 2004. Brain Writing! Perkaya Hidup Anda Melalui Analisis Tulisan Tangan. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia

Margono, S. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Mulyasa. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Nashar. 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal Dalam Kegiatan Pembelajaran. Jakarta: Delia Press

Prayitno. 1997. Seri Latihan Keterampilan Belajar, Kemampuan Menjalankan Perkuliahan Secara Efektif. Jakarta: Tim Pengembangan 3SCPD Proyek PGSM Dikti Dekdikbud

Purwanto, N. 1990. Psikologi Pendidikan. PT. Remaja Rosda Karya

Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Personal

Sukardi, D, K. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sugiyono. 2006. Penelitian Administrasi. Bandung: Transito

Sugiyono. 2008. Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: CV. Alfabeta

———-. 2010. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta

Umar, Husein. 2003. Riset Akuntansi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Uno, Hamzah, B. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Kumpulan Judul Skripsi Hukum Lengkap
  2. Kumpulan Judul Skripsi Peternakan Lengkap
  3. Kumpulan Judul Skripsi Akper Lengkap
  4. Kumpulan Judul Skripsi Pertanian Lengkap
  5. Kumpulan Judul Skripsi Porkes Lengkap
  6. Contoh Skripsi Perilaku Konsumsi Tablet Fe Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
  7. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan perilaku Konsumsi Tablet Fe Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil