Pengetian dasar dari Sikap adalah sikap terhadap suatu obyek, isue atau seseorang pada dasarnya merupakan perasaan suka atau tidak suka, tertarik atau tidak, percaya atau tidak, dan seterusnya. Kita juga berasumsi bahwa perasaan itu dapat direfleksikan dalam bentuk pernyataan yang dibuatnya, cara seseorang melakukan tindakan terhadap obyek sikap, dan reaksinya terhadap ekspresi opini dari orang lain. Dengan kata lain sikap memiliki keterkaitan dengan perasaan di satu sisi dan perilaku disi lain. 

Problem tentang sikap muncul ketika seseorang akan menghubungkan antara perasaan dengan perilaku, dan menyusun definisi tentang sikap yang mencerminkan keduanya. Oleh karena itu berbagai definisi ditawarkan oleh para ahi psikologi sosial, tidak hanya tetang apakah sikap itu, tetapi juga tentang bagaimana proses belajar, memproses informasi, pembuatan keputusan, memory, dan seterusnya tentang sikap. Asumsi-asumsi itu seringkali lebih dinyatakan sebagai self-evident daripada uji empirisnya. Yang seringkali dilakukan oleh para ahli psikologi adalah mereka ini membuat batasan tentang sikap baik definisinya ataupun teori konsepnya. 

Dalam batasan itu seringkali dibuat hubungan antara perasaan seseorang dan perilaku yang menunjukkan perasaannya itu. Oleh karena itu perbedaan antara perasaan dengan ekspresi perilaku secaraimplisit ditunjukkan sebagai stimulus dan respon atau antaa predisposisi yang dipelajari dengan aksi tertentu, atau data subyektif dengan data obyektif. Menurut Eisher, pandangan ini kehilangan titik dasarnya. Umumnya para ahli tu melakukan label ulang konsep sikap, tanpa menyertakan fungsi logikanya. 

Tugas utama dalam membuat definisi ini adalah dalam kaitannya dengan inferensi kausalnya. Karena status kausal sikap itu tidak jelas. Seringkali ketika seseorang ingin mengatakan bahwa sikap seseorang itu merupakan respon terhadap obyek sikap, dan seringkali juga dikataan bahwa seseorang itu perilaku dalam cara tertentu karena sikapnya. Apabila sika dipandang sebagai perasaan seseorang maka ia tidaklah dapat diobservasi secara langsung melalui perilaku verbal dan non-verbal. Sementara itu yang seringkali terjadi adalah kita melakukan inferensi perasaa seseorang dari perolakunya yang overt (apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya). 

Posisi penulis dalam hal itu lebih kompromistis. Di satu sisi, para behavioris akan menyatakan bahwa pernyataan tentang sikap tidak lebih dari pernyataan-pernyataan tentang perilaku. Disisi lain, para fenomenologis mungkin akan menyatakan bahwa pernyataan tentang sikap itu tidak perlu memiliki implikasi perilaku yang nyata. Bila demikian halnya, maka pandangan kompromistis bukanlah pilihan yang mengenakkan. Bila pernyataan tentang sikap seseorang itu disimpulkan dari perilaku bagaimana kita dapat menyatakan bahwa kesimpulan itu valid? Bagaimana pula kia dapat mengobservasi asosiasi statistik mencerminkan hubungan antara perilaku yang overt dengan pengalaman pribadi seseorang? 

Suatu kesalahan akan terjadi apabila kita berasumsi bahwa bila seseorang yang memiliki pengalaman pribadi itu akan diartikan sebagai pengalaman pribadi yang sebanrnya. Bila dikatakan “rose itu merah”, maka orang yang memiliki pengalaman bahwa bunga rose itu putih akan mengalami kesulitan. Karena merah atau putihnya rose itu terkait dengan pengalaman sensasi. Pernyataannya akan sedikit berbeda apabila dinyatakan bahwa “rose itu indah”. Orang akan lebih menunjukkan setuju atau ketidaksetujuannya apabila dikaitkan dengan keindahan, bukannya merah atau putihnya. Setuju atau ketidaksetujuan ini juga tetap terkait dengan atribut bunga rose. Pernyataan–pernyataan ini akan lebih dikatakan sebagai pernyataan sikap, bukannya deskripsi tentang sikap pembicara. 

Dalam membuat definisi tentang sikap yang mencerminkan hubungan antara perasaan dan pengalaman pribadi di satu sisi dan perilaku verbal maupun nonverbal yang dapat dobservasi di sisi lain, para ahli psikologi tampaknya memiliki dua asumsi yang krusial. Pertama, sikap itu berbeda dalam entitasna dengan eksistensi yang independen. Kedua adalah hubungannya dngan perilaku yang observable sebagai kausal. Menurut penulis kedua pandangan itu salah. Hubungan sikap dengan ekspresi perilaku analog dengan hubungan antara makna dengan ucapan. Kita perlu berasumsi bahwa sebuah kata itu memiliki makna untuk memahami perilaku verbal, tetapi kita tidak perlu melihat suatu makna kata sebagai yang memiliki eksistensi yang indpenden ataupun sebagai entitas yang berbeda yangmenyebabkan perilaku verbal. Seperti halnya kata memiliki makna, maka orang memiliki sikap, dan konsep sikap itu tidak kalah pentingnya untuk memahami perilaku sosial dibandingkan dengan konsep makna untuk memahami bahasa. Sikap seseorang merupakan makna dari ekspresi perilakunya. 

Cara Pengukuran Sikap

Salah satu problem metodologi dasar dalam psikologi ssial adalah bagaimana mengukur sikap seseorang. Beberapa teknik pengukuran sikap: antara lain: Skala Thrustone, Likert, Unobstrusive Measures, Analisis Skalogram dan Skala Kumulatif, dan Multidimensional Scaling. 

Skala Thurstone (Method of Equel-Appearing Intervals)

Metode ini mencoba menempatkan sikap seseorang pada rentangan kontinum dari yang sangat unfavorabel hingga sangat fafovabel terhadap suatu obyek sikap. Caranya dengan memberikan orang tersebut sejumlah aitem sikap yang telah ditentukan derajad favorabilitasnya. Tahap yang paling kritis dalam menyusun alat ini seleksi awal terhadap pernyataan sikap dan penghitungan ukuran yang mencerminkan derajad favorabilitas dari masing-masing pernyataan. Derajat (ukuran) favorabilitas ini disebut nilai skala. 

Untuk menghitung nilai skala dan memilih pernyataan sikap, pembuat skala perlu membuat sampel pernyataan sikap sekitar lebih 100 buah atau lebih. Penrnyataan-pernyataan itu kemudian diberikan kepada beberapa orang penilai (judges). Penilai ini bertugas untuk menentukan derajat favorabilitas masing-masing pernyataan. Favorabilitas penilai itu diekspresikan melalui titik skala rating yang memiliki rentang 1-11. Sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sangat setuju Tugas penilai ini bukan untuk menyampaikan setuju tidaknya mereka terhadap pernyataan itu. 

Median atau rerata perbedaan penilaian antar penilai terhadap aitem ini kemudian dijadikan sebagai nilai skala masing-masing aitem. Pembuat skala kemudian menyusun aitem mulai dari atem yang memiliki nilai skala terrendah hingga tertinggi. Dari aitem-aitem tersebut, pembuat skala kemudian memilih aitem untuk kuesioner skala sikap yang sesungguhnya. Dalam penelitian, skala yang telah dibuat ini kemudian diberikan pada responden. Responden diminta untuk menunjukkan seberapa besar kesetujuan atau ketidaksetujuannya pada masing-masing aitem sikap tersebut. 

Teknik ini disusun oleh Thrustone didasarkan pada asumsi-asumsi: ukuran sikap seseorang itu dapat digambarkan dengan interval skala sama. Perbedaan yang sama pada suatu skala mencerminkan perbedaan yang sama pula dalam sikapnya. Asumsi kedua adalah Nilai skala yang berasal dari rating para penilai tidak dipengaruhi oleh sikap penilai terhadap isue. Penilai melakukanrating terjhadap aitem dalam tataran yang sama terhadap isue tersebut.

Skala Likert (Method of Summateds Ratings) 

Likert (1932) mengajukan metodenya sebagai alternatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan skala Thurstone. Skala Thurstone yang terdiri dari 11 point disederhanakan menjadi dua kelompok, yaitu yang favorable dan yang unfavorabel. Sedangkan aitem yang netral tidak disertakan. Untuk mengatasi hilangnya netral tersebut, Likert menggunakan teknik konstruksi test yang lain. Masing-masing responden diminta melakukan egreement atau disegreemenn-nya untuk masing-masing aitem dalam skala yang terdiri dari 5 point ( Sangat seuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju, Sangat Tidak Setuju). 

Semua aitem yang favorabel kemudian diubah nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5 sedangkan untuk yang Sangat Tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya, untuk aitem yang unfavorabel nilai skala Sangat Setuju adalah 1 sedangkan untuk yang sangat tidak setuju nilainya 5. Seperti halnya skala Thurstone, skala Likert disusun dan diberi skor sesuai dengan skala interval sama (equal-interval scale). 

Unobstrusive Measures.

Metode ini berakar dari suatu situasi dimana seseorang dapat mencatat aspek-aspek perilakunya sendiri atau yang berhubungan sikapnya dalam pertanyaan. 

Multidimensional Scaling.

Teknik ini memberikan deskripsi seseorang lebih kaya bila dibandingkan dengan pengukuran sikap yang bersifat unidimensional. Namun demikian, pengukuran ini kadangkala menyebabkan asumsi-asumsi mengenai stabilitas struktur dimensinal kurang valid terutama apbila diterapkan pada lain orang, lain isu, dan lain skala aitem. 

Organisasi Sikap

Teori Balance dan teori konsistensi lainnya berasumsi bahwa seseorang akan cenderung mencari struktur evaluatif yang sederhana dengan yang dievaluasi oleh orang lain dan objek-objek dipandang sebagai hal yang berhubungan satu dengan lainnya. 

Keseimbangan bukannya satu-satunya prinsip yang mempengaruhi persepsi seseorang mengenai hubungan antar elemen dalam struktur sikap. Prinsip lain yang juga penting antara lain adalah preferensi untuk menilai positif, hubungan , dan adanya kepercayaan tentang skript situasional yang relevan, atau serangkaian aturan ipmlikasi yang sederhana dan hipotesis kausal.

Penelitian mengenai kompleksitas kognitif menekankan pada perbedaan individual dalam toleransi seseorang terhadap ambiguitas dan kebutuhan nyata untuk mengatasi inkonsistensi. Semakin kompleks kognitifnyaindividu akan semakin mencari informasi yang inkonsisten bila ambiguitas dalam suat situasi di bawah level yang paling disukainya. 

Hubungan antara sikap dan perilaku

Sejumlah studi telah gagal dalam memprediksi perilaku terutama yang terkait dengan sikap seseorang terutama dengan ukuran-ukuran sikap yang bersifat verbal. (misalnya masalah rasial, atau agama).

Pandangan Tiga Komponen tentang Sikap

Telah banyak penelitian menunjukkan bahwa antara sikap dan perilaku itu tidak berkorelasi, ataupun bila berkorelasi maka tidak menunjukkan arah yang hubungan kausalitas. Sebagai penyebabnya karena sikap itu memiliki tiga komponen. Menurut pandangan ini, (Rosenberg & Hovland, 1960) sikap itu merupakan predisposisi untuk merespon sejumlah stimulus dengan sejumlah tertentu. Ketiga respon tersebut antara lain afektif (perasaan evaluatif dan preferensi) kognitif (opini dan belief), dan behavioral atau konasi (over acion dan pernyataan tentang kecenderungan). 

Dari gambar di atas tampak bahwa konsep sikap lebih dipandang sebagai intervening variabel (variabel antara) antara stimulus yang dapat diobservasi dengan respon yang terobservasi. Sikap menurut pandangan ini bukanlah konstruk yang menggambarkan hubungan antara stimulus-respon. Sikap bukan pula merupakan interpretasi individu tentang stimulus yang dialami. Sikap lebih dipandang sebagai situasi yang ambigius dalam ikatan antara akibat (effect) dan penyebab (cause) dari suatu peristiwa yang observabel. Bagian yang paling ambigius dalam siagram itu adalah tanda panah antara sikap dengan tiga unsurnya. Karena dalam diagram itu sikap dapat menyebabkan afektif, kognitif, dan konasi tertentu. Dan antara ketiganya dipisahkan satu per satu.

Artikel Wajib Anda Baca KUE Valentine Terindah DI Dunia

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Kelebihan Metode Pembelajaran Di Luar Kelas
  2. Media Informasi Dan Internet
  3. Keterampilan Mengadakan Variasi Belajar
  4. Asal Kejadian dan Teori Tentang Manusia
  5. Fenomena Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan
  6. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan
  7. Keterampilan Menjelaskan
  8. Keterampilan Bertanya Dasar Dan Lanjut
  9. Pengaruh Penerapan Metode Problem Solving Dengan Menggunakan Macromedia Flash Terhadap Motivasi Dan Prestasi Siswa
  10. Jenis Pendidikan Dalam Keluarga